Ramuan dua ‘kejutan’ dari simakDialog

simak dilaog
Image caption Simak Dialog didirikan 21 tahun yang lalu

Deretan kursi di Gedung Kesenian Jakarta, Kamis (03/04) malam tampak lengang. Hampir tiga perempat kursi kosong dan jumlah pengunjung hanya puluhan saja.

Namun bagi Riza Arshad, pianis dan pendiri kelompok musik jazz simakDialog yang tampil malam itu, gedung pertunjukan itu sudah seperempat penuh.

"Terima kasih banyak, saya dan teman-teman ingin sekali kebiasaan nonton konser bisa hidup lagi," katanya disela-sela pertunjukan dengan disambut tepuk tangan meriah.

Garapan musik jazz progresif yang digabungkan dengan irama kendang, telah menempatkan simakDialog dalam kelompok musik non-industri dengan segmen yang sangat terbatas.

Riza mengakui bahwa musik-musik mereka yang cenderung keluar dari pakem memang sulit diterima oleh masyarakat umum.

"Saya sudah siap kok. Saya sebagai seniman tidak bisa bohong, saya tahu bagaimana caranya (menjadi populer) tetapi hal ini tidak bisa saya tinggalkan.

"Saya merasa ini harus disampaikan, karena buat saya ini sebuah inspirasi," kata Riza kepada wartawan BBC Indonesia, Christine Franciska, untuk program Info Musika.

Kelompok musik yang didirikan 21 tahun lalu ini sekarang beranggotakan enam orang, yaitu Riza Arshad (piano), Tohpati (gitar), Adhitya Pratama (bas), Endang Ramdan (kendang), Cucu Kurnia (kendang, perkusi) dan Erlan Suwardana (kendang).

Album terakhirnya dirilis 2013 kemarin dengan judul The 6th Story, menandakan 20 tahun perjalanan bermusik simakDialog. Seiring rilisan album keenam ini, simakDialog juga mengadakan tur ke Amerika Serikat dengan undangan dari label rekaman Moonjune Records.

Image caption Riza Arshad mengakui musiknya sulit diterima masyarakat umum

Kejutan

Bagi Riza Arshad, jazz dan irama kendang punya benang merah yang sangat asik untuk dieksplorasi.

"Ada area bermainnya, dua musik ini kan musik improvisasi, cuma beda bahasa saja."

"Banyak kejutannya, (kadang) mengajak kita sedih, mengajak kita diam, dan lalu tiba-tiba, ketawa, ketawa, ketawa. Musik jazz juga begitu dan ini berhubungan," jelas Riza.

Dekat dengan musik sunda sejak kecil, kendang telah memikat Riza selama puluhan tahun. Eksperimen terus dilakukan. Kadang berlangsung intens kadang pula berjalan lamban.

"Bagi saya musik adalah cerita, kebetulan saya punya cara bagaimana menceritakan pohon misalnya tapi orang tahu bahwa apa yang saya ceritakan merepresentasikan kelompok saya dan merepresentasikan saya berasal dari mana."

"Dalam semua karya seni, saya kira tiap seniman harus menanamkan identitasnya dia. Sehingga publik tau ini karyanya si A ini karyanya si B, ada ciri khasnya," ujar musisi yang mengaku tak mau berhenti bereksperimen dengan kendang.

Digemari

Dalam pertunjukan Kamis (03/04) malam, sejumlah pengunjung tampak antusias dengan penampilan simakDialog yang membawakan kembali lagu-lagu album pertama mereka Lukisan yang dirilis 1995.

Saat itu grup ini masih berformat kuartet dengan instrumen piano, gitar, bas dan drum.

Uswa, salah satu pengunjung malam itu mengaku sudah lama ingin menonton pertunjukan simakDialog secara langsung.

"Yang pasti karena sentuhan etniknya ya, ternyata benar ketika kendangnya masuk Indonesianya jadi lebih terasa dan kendang ini memberi warna yang berbeda dibandingkan dengan drum."

Pengunjung lain, Dimas Aryo, mengaku sudah menjadi penggemar musik simakDialog sejak album pertama mereka dirilis. "Begitu saya tahu kalau mereka membawakan ulang album Lukisan di sini, jadi saya datang," katanya.

Berita terkait