Kekayaan Qatar tidak 'menjanjikan' kebahagian

  • 29 April 2014
qatar
Perubahan ekonomi membuat hubungan keluarga meregang, konsumerisme meningkat.

Minyak dan gas menjadikan Qatar negara terkaya dunia tetapi apakah harta tanpa batas menciptakan kebahagiaan di negara Timur Tengah ini?

Negara Arab ini mengeluarkan dana US$200 miliar atau Rp2,3 triliun untuk membangun stadion dan infrastruktur Piala Dunia 2022, lapor wartawan BBC Matthew Teller dari Doha.

Kurang dari satu abad lalu Qatar adalah negara miskin, tetapi sekarang menjadi negara dengan pemasukan rata-rata US$100.000 atau Rp1 miliar per tahun.

Tetapi uang minyak dan gas ini menyebabkan perubahan yang sangat cepat.

"Kami menjadi orang kota," kata Dr Kaltham Al Ghanim, profesor sosiologi Universitas Qatar.

"Kehidupan sosial dan ekonomi berubah - hubungan keluarga merenggang, budaya konsumtif meraja lela."

Tekanan dapat dirasakan di Doha di mana di hampir semua bagian kota terdapat proyek pembangunan, baik bangunan baru maupun perbaikan gedung lama.

Perubahan yang terlalu cepat

Kepadatan lalu lintas membuat jam kerja semakin panjang sehingga menimbulkan stres dan ketidaksabaran.

Media setempat melaporkan 40% dari pernikahan di Qatar berakhir dalam perceraian. Lebih dua pertiga warganegaranya, dewasa maupun anak-anak, kelebihan berat badan.

Orang Qatar diuntungkan dengan adanya pendidikan dan kesehatan gratis, jaminan pekerjaan, pinjaman perumahan, air dan listrik gratis, tetapi berbagai hal ini justru menciptakan masalah.

Seorang akademisi mengatakan seseorang yang baru saja lulus sekolah akan menerima 20 tawaran pekerjaan.

Hal ini membuat orang tertekan karena harus mengambil keputusan yang tepat.

Nilai-nilai masyarakat berubah begitu cepat sehingga sulit menemui kepastian di Qatar.

"Cobalah bersimpati kepada warga Qatar," kata seorang antropolog Amerika yang sudah bertahun-tahun tinggal di Doha.

"Mereka kehilangan hampir semua hal yang berarti."

Berita terkait