Apakah pekerja domestik warga Indonesia aman bekerja di Hong Kong?

  • 29 April 2014
rohyati Image copyright bbc
Image caption Rohyati pekerja domestik dari Jawa dipukul, ditampar dan disiksa majikannya.

Berbagai laporan tentang pelecehan yang dialami sejumlah pekerja domestik Indonesia di Hong Kong menimbulkan pertanyaan tentang keamanan bekerja.

Salah satunya adalah Rohyati, 26 tahun, anak seorang petani di Jawa.

Ketika ayahnya meninggal, dia harus menghidupi ketiga adiknya dan Rohyati memutuskan bekerja di ibu kota keuangan internasional Cina tersebut.

Hong Kong biasanya banyak disukai pekerja domestik karena upah yang cukup tinggi, jaminan libur satu hari dalam seminggu dan perlindungan hukum lainnya yang tidak ditawarkan tempat-tempat lainnya.

Tetapi, Rohyati mengatakan, baru dua minggu bekerja sebagai pembantu rumah tangga secara penuh tinggal bersama majikan, ia ditampar ibu majikannya, seorang wanita tua yang hanya bisa berbahasa Kanton, karena kesulitan berkomunikasi.

Selama dua bulan sesudahnya, Rohyati ditampar, dipukul dan dicekik majikannya.

"Saya tidak tahu mengapa dia memukul saya. Kadang-kadang sepertinya dia memperhatikan kesejahteraan saya. Tetapi tiba-tiba dia melakukan kekerasan," Rohyati ketika berbicara di tempat perlindungan yang dijalankan sebuah organisasi kemanusiaan.

TKI rapuh

Dia kemudian melaporkan majikannya ke polisi pada bulan Februari. Dia melakukan hal ini terdorong oleh pengalaman sesama WNI, Erwiana Sulistyaningsih, yang pengalamannya disiksa majikannya banyak dilaporkan media.

Pengadilan terhadap mantan majikannya membuat masyarakat lebih memperhatikan perlakukan yang diterima 325.000 pekerja domestik Hong Kong yang sebagian besar berasal dari Indonesia dan Filipina.

Seorang pejabat polisi Hong Kong, Andy Tsang mengatakan pelecehan terhadap pekerja domestik jarang terjadi, sementara para pegiat mengatakan pembantu rumah tangga dari Indonesia sangat rapuh posisinya karena lebih muda usianya, kurang berpendidikan dan kurang fasih berbahasa Inggris dibandingkan rekannya dari Filipina.

TKI yang baru datang seringkali dibayar lebih rendah daripada upah minimum bulanan sebesar hampir Rp6 juta.

Rohyati menerima upah Rp5,8 juta dan dia harus memberikan Rp3,7 juta kepada agen selama enam bulan pertama karena telah menerima pelatihan dan pekerjaan.

Saat pertama kali dilecehkan, dia sudah melapor ke agen tetapi diminta untuk sabar dan tetap bekerja.

Bulan November, Amnesty International melaporkan ribuan wanita Indonesia diperdagangkan ke Hong Kong dan mengalami keadaan "mirip perbudakan".

Sementara pemerintah Indonesia dan Hong Kong gagal melindungi mereka dari penyiksaan.

Tetapi Rohyati tetap berharap kasusnya akan terselesaikan secepatnya dan mendapatkan majikan baru, "Saya tidak percaya semua majikan Hong Kong penyiksa, dan saya berharap tetap dapat bekerja di sini."

Berita terkait