Industri makanan "harus diatur seperti rokok"

  • 19 Mei 2014
Image copyright spl

Sejumlah lembaga internasional menyerukan agar industri makanan diatur ketat seperti industri rokok karena obesitas memiliki risiko kesehatan global yang lebih besar ketimbang risiko yang ditimbulkan rokok.

Konsumen Internasional dan Federasi Obesitas Dunia mengatakan kematian akibat obesitas secara global naik dari 2,6 juta orang pada 2005 menjadi 3,4 juta orang pada 2010.

Mereka menyarankan pemerintah di seluruh dunia untuk menerapkan aturan ketat untuk mengatur industri makanan dan minuman, demikian dilaporkan wartawan BBC, Pippa Stephens.

Aturan ini termasuk pembatasan kadar garam, lemak jenuh, dan gula dalam makanan; peningkatan kualitas makanan di rumah sakit dan sekolah; pengetatan aturan pemasaran; dan pendidikan mengenai makanan sehat.

Namun, Federasi Makanan dan Minuman Global mengatakan industri mereka sudah mendukung aturan-aturan.

Kontrol diperketat

Sejumlah rekomendasi yang diusulkan oleh dua lembaga internasional tersebut meliputi penghapusan kandungan lemak trans buatan dari semua produk makanan dan minuman dalam waktu lima tahun.

Iklan yang ditujukan kepada anak-anak dalam program televisi juga harus dibatasi.

Image copyright spl
Image caption Federasi Makanan dan Minuman mengatakan mereka mengurangi lemak dan garam.

Sementara kemasan produk makanan pun harus menampilkan gambar dampak obesitas, mirip dengan konsep yang diterapkan pada bungkus rokok.

Pemerintah dapat meninjau ulang harga makanan, termasuk pajak, dan mengubah kontrol perizinan dan memulai riset baru, tutur laporan itu.

Luke Upchurch dari Konsumen Internasional mengatakan mereka meminta pemerintah menanggapi isu ini "dalam level risiko yang sama" dengan industri rokok.

"Kami ingin menghindari situasi seperti era 1960-an. Kala itu, industri tembakau mengatakan tidak ada yang salah dengan rokok dan baik untuk kesehatan kita, tetapi 30 atau 40 tahun kemudian jutaan orang meninggal.

"Jika kita tidak mengambil tindakan sekarang, kita akan memiliki masalah yang sama dalam industri makanan."

Berita terkait