Navicula 'melawan' deforestasi lewat musik

  • 30 Mei 2014
Navicula
Image caption Robi, Made, Dankie dan Gembul ( dari kiri ke kanan) ketika hadir di studio BBC

Tak hanya lagu yang bertema soal lingkungan, tapi album mereka pun dibuat dari bahan daur ulang, bagaimana sebenarnya kekhawatiran band beraliran grunge asal Bali, Navicula soal kerusakan lingkungan dan kondisi sosial di Indonesia?

Beberapa lagu dalam album terbaru Navicula Love Bomb menyoroti kerusakan lingkungan, seperti Bubur Kayu yang tentang kerusakan hutan akibat perluasan lahan kelapa sawit, Harimau! Harimau!, Orangutan, Di Rimba, dan Metropulutan.

"Pesan-pesan yang ada di album itu banyak bertema soal sosial lingkungan, itu kecintaan kita terhadap lingkungan dan sesama, jadi cinta yang luas dan universal," jelas Robi, di Studio BBC Indonesia di Jakarta.

"Lingkungan menjadi isu yang paling kuat dan gencar kita sampaikan karena saat ini yang paling urgent, yang dihadapi oleh rumah kita locally dan globally, locally di Bali, kemudian Indonesia dan dunia, karena over consumerisme, ini kayak rem atau saatnya kita membayar apa yang kita ambil terus," tambah Robi.

Love Bomb merupakan album ketujuh bagi band dengan formasi terkini Robi (vokal, gitar), Dankie atau Dadang (gitar), Made (bass) dan Gembull (drum).

Album ganda yang dirilis pada 1 Maret lalu sarat dengan lagu yang bertema sosial dan lingkungan.

Perjalanan ke Kalimantan

Selain menuliskan lagu bertema lingkungan, Navicula juga sempat melakukan perjalanan ke Kalimantan menyaksikan langsung dengan kerusakan hutan, bekerja sama dengan organisasi lingkungan Walhi Indonesia, Walhi Kalimantan, Greenpeace Indonesia, dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara AMAN.

Dalam perjalanan yang didanai secara mandiri itu, personil Navicula mengendarai motor di sepanjang 2.000 km di jalur hutan hujan tropis yang rusak, selama 12 hari.

Hak atas foto NAVICULA
Image caption Navicula melakukan perjalanan ke Kalimantan dengan berkostum Harimau dan burung Enggang

"Kalau terjun langsung lebih kuat apa yang kita suarakan, kalau selama ini kita lihat di media, perspektifnya kita ya seluas isi media itu, tetapi begitu kita terjun ke lapangan kita akan melihat ada luas sekali impact-nya, bukan hanya flora fauna diistu yang hilang tetapi local wisdom, banyak sekali yang hilang akibat deforestasi," jelas Robi.

Perjalanan ke hutan di pedalaman Kalimantan, memberikan banyak inspirasi bagi Navicula untuk membuat lagu-lagu bertema kerusakan lingkungan.

Rekaman di AS

CD pertama berisi 5 lagu yang direkam di Record Plant, Hollywood, sementara CD kedua berisi 10 lagu yang direkam di studio milik mereka di Bali.

Image caption Robi juga memiliki pertanian organik di Bali

"Keping yang pertama itu di rekam di Record Plant, disana kita ketemu orang keren, eksperimen dengan berbagai alat, jadi pasti beda, secara musikal kita makin cute," jelas Dankie.

Di AS produser kreatif Navicula adalah Alain Johannes, yang juga pernah bekerja sama dengan Queens of the Stone Age dan Them Crooked Vultures.

"Kalau dari musik kita selalu berusaha, pencapaian kita segini, kalau bikin album baru dan pasti akan ada pencapaian baru," kata Dankie.

"Dulu kita pengen banget rekaman live, dan di album Love Bomb ini ada CD satu itu ada rekaman semi live, karena studio rekaman mendukung, alat-alatnya juga mendukung," kata Robi.

Navicula mendapat peluang rekaman diluar karena memenangkan sebuah kompetisi, dan juga sempat menggelar tur di beberapa kota di AS.

Material album Love Bomb dibuat dari bahan-bahan daur ulang dengan menggunakan kemasan Tetra Pak, kertas daur ulang dan karet ban dalam bekas, yang dibuat oleh komunitas Sapu dari Salatiga Jawa Tengah, yang biasa mengerjakan produk daur ulang bahan bekas.

Navicula hadir dalam Program Info Musika, BBC Indonesia, Jumat 30 Mei 2014, Pukul 18.00 melalui radio mitra BBC di berbagai daerah.

Berita terkait