Pengemudi taksi di Eropa protes Uber

taksi Hak atas foto BBC World Service
Image caption Para pengemudi taksi di Eropa menentang aplikasi Uber yang dianggap melanggar aturan hukum.

Segenap pengemudi taksi di beberapa kota di Eropa menggelar demonstrasi menentang jasa layanan mobil sewaan yang bisa dipesan melalui aplikasi telepon seluler.

Di Paris, para pengemudi taksi akan berkumpul di Bandara Charles de Gaulle dan Orly. Kemudian mereka bergerak perlahan menuju pusat kota.

Di Roma, pengemudi taksi akan menerapkan tarif 10 euro sekali jalan. Protes serupa berlangsung di Milan, Berlin, dan Hamburg.

Di London, demonstrasi yang diperkirakan melibatkan 12 ribu pengemudi taksi bakal dipusatkan di Trafalgar Square.

“Kami sama sekali tidak menentang persaingan. Namun, kami merasa otorita transportasi London telah mengecewakan warga dengan membiarkan Uber beroperasi melanggar hukum,” kata Steve Mcnamara dari asosiasi pengemudi taksi berlisensi.

Uber, yang disebut McNamara merupakan aplikasi telepon seluler untuk memanggil mobil sewaan. Aplikasi tersebut juga dapat menghitung berapa tarif yang mesti dibayar penumpang kepada supir mobil.

Hal itulah yang memicu protes pengemudi taksi resmi. Serge Metz, direktur perusahaan taksi G7 di Prancis, menyatakan perhitungan tarif menggunakan ponsel sama saja memakai argo. Padahal, agar taksi diperbolehkan memakai argo, perusahaan taksi harus memperoleh ijin senilai 240 ribu euro (Rp3,8 miliar).

“Uber dengan sengaja tidak menghormati peraturan. Bahkan, mereka mendulang untung yang signifikan,” kata Metz seraya merujuk fakta bahwa aplikasi Uber mencapai nilai US$17 miliar (Rp200,7 triliun).

Image caption Aplikasi Uber dapat diakses telepon pintar.

Menjalar

Aplikasi Uber yang diluncurkan pertama kali di Kota San Fransisco, Amerika Serikat, pada 2009 lalu, telah menjalar ke sejumlah belahan dunia, terutama Eropa.

Di Prancis saja, sedikitnya 10 ribu kendaraan terhubung dengan Uber. Melalui aplikasi tersebut, calon penumpang dapat memesan mobil tumpangan. Namun, calon penumpang tidak boleh memanggil langsung di pinggir jalan.

Jo Bertram, Direktur Pelaksana Uber di Inggris, mengatakan perusahaannya memberikan opsi bagi warga. “Kami menawarkan alternatif bagi masyarakat. Kehadiran kami memberikan persaingan yang justru meningkatkan kualitas pelayanan,” katanya kepada BBC.

Berita terkait