Mampukah Indonesia menjadi negara maju?

  • 2 Juli 2014
bisnis, infrasruktur, indonesia Image copyright AFP GETTY
Image caption Infrastruktur menjadi salah satu hambatan utama terhambatnya investasi bisnis.

Pemerintahan baru Indonesia yang akan dibentuk tahun ini akan menghadapi sejumlah tantangan ekonomi. Apa saja hambatannya dan bagaimana proyeksi bisnis ke depan?

Kepala Koresponden Bisnis BBC, Linda Yueh, mencari jawabannya dengan berkunjung ke Jakarta akhir Juni lalu. Dia bertemu dengan sejumlah pemangku kepentingan dan merasakan sendiri hambatan yang dirasakan warga Indonesia.

Berikut petikan wawancara Kepala BBC Indonesia, Karishma Vaswani, dengan Linda seputar infrastruktur, pemilu, dan masa depan Indonesia.

Dari perjalanan Anda ke Indonesia, menurut Anda, apa yang menjadi permasalahan ekonomi paling besar yang dihadapi Indonesia saat ini?

Ini merupakan perjalanan yang luar biasa. Dan salah satu yang paling utama, saya rasakan, adalah tantangan infrastruktur yang sangat masif. Di luar Jakarta terlihat sekali kurangnya investasi jalan dan transportasi publik. Hal ini jelas menambah beban bisnis, menambah pengeluaran, dan kehilangan waktu produktif.

Duduk di kemacetan dan melihat bahwa jaringan 3G saya tidak mendapat sinyal membuat saya sadar ini adalah salah satu dari masalah utama yang dihadapi negara ini.

Sebab untuk beralih dari ekonomi sumber daya alam dan agraria ke masyarakat yang lebih kelas menengah, Anda akan membutuhkan layanan manufaktur yang sangat bergantung pada infrastruktur agar bisnis bisa berkelanjutan sehingga pada akhirnya menciptakan lapangan pekerjaan baru.

Ketika Anda berbicara dengan sejumlah pejabat pemerintah, apakah Anda pikir pemerintah menganggap masalah ini penting untuk memaksimalkan potensi Indonesia?

Saya berbicara dengan Menteri Keuangan Chatib Basri dan dia membicarakan masalah infrastuktur dari banyak sisi. Satu adalah pembiayaan, dua alokasi anggaran, dan ketiga adalah pembebasan lahan.

Pertama, pemerintah tidak memiliki banyak uang untuk membangun jalan-jalan, jalur kereta, dan semua infrastruktur yang dibutuhkan. Karena itu, mereka membutuhkan kerja sama dan investasi swasta dari dalam dan luar.

Tetapi saya berbicara kepada perwakilan pengusaha di Indonesia dan luar negeri. Mereka merasa kepastian hukum tidak cukup meyakinkan untuk membuat mereka mau berinvestasi jangka panjang. Bagi saya ini adalah halangan yang nyata.

Masalah kedua yang dihadapi adalah alokasi anggaran. Banyak sekali anggaran negara yang dihabiskan untuk subsidi energi ketimbang anggaran infrastruktur. Menteri keuangan mengatakan kalaupun semua subsidi energi dicabut, itu tidak akan cukup untuk mendanai pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan.

Di sisi lain, ada masalah yang harus dihadapi ketika pemerintah ingin memotong subsidi energi. Walau sebagian besar manfaat subsidi dirasakan kaum menengah, ada risiko inflasi yang bisa memukul warga miskin. Jadi ini adalah hal yang sulit.

Yang terakhir adalah pembebasan lahan. Selama ini ada aturan ganti rugi jika lahan warga diambil alih untuk pembangunan. Namun sekarang ada aturan baru yang diharapkan bisa mengatasi hal ini.

Image caption Sektor manufaktur menjadi salah satu kunci pertumbuhan ekonomi ke depan.

Apa yang investor inginkan dari pemerintah supaya mereka bisa diyakinkan untuk menanam modal dalam jangka panjang?

Investor ingin kepastian. Tidak ada yang ingin aturan berubah setiap waktu. Karena itu, memiliki kerangka kebijakan yang konsisten adalah hal yang penting.

Persepsi pengusaha tentang Indonesia adalah negara ini merupakan tempat yang paling susah untuk berbisnis di antara negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Contohnya, Indonesia adalah negara yang kaya sumber daya alam dan investor tertarik untuk berbisnis di sini. Tetapi, sekarang ada pergeseran perilaku dengan apa yang disebut dengan nasionalisasi sumber daya alam.

Pergeseran pandangan dan perilaku ini lah yang membuat investor ragu untuk menanam modal jangka panjang.

Di sisi lain, dilihat dari sudut pandang pemerintah atau pembangunan ekonomi, negara yang kaya SDA memang tidak boleh hanya melakukan ekstraksi.

Jika ingin menambah nilai dari SDA, mereka harus mengubah investasi dengan membuat industri pengolahan. Thailand melakukan hal yang sama.

Image copyright AFP GETTY
Image caption Di atas 7%, itulah target pertumbuhan ekonomi untuk menekan angka kemiskinan.

Lalu, bagaimana cara pemerintah menyeimbangkan antara kepentingan pembangunan ekonomi nasional dan kepentingan investor asing?

Ini sangat sulit karena institusi hukum saat ini belum memberikan kepastian bagi investor. Karena itu, kebijakan pemerintahan baru sangat dinantikan.

Satu hal yang ditekankan oleh menteri keuangan adalah Indonesia ingin perusahaan asing untuk tumbuh.

Mengapa? Sebab harus ada investasi asing yang masuk dengan nilai setara 5% dari Produk Domestik Bruto nasional.

Indonesia sekarang tumbuh kurang dari 6% dan dia bilang Indonesia harus tumbuh 7% untuk mengurangi kemiskinan dan menumbuhkan lapangan pekerjaan.

Indonesia tidak memiliki anggaran yang cukup untuk memicu pertumbuhan seperti ini.

Inilah yang ingin diubah oleh kedua kandidat presiden dan pemerintah sekarang melalui industri manufaktur.

Jika Indonesia bisa meyakinkan perubahan ini adalah yang terbaik, saya bisa melihat ini bisa mempengaruhi investor untuk masuk.

Bukan didorong oleh nasionalisme, tetapi oleh proses yang memang harus dilakukan Indonesia untuk maju.

Image copyright Reuters
Image caption Bisakah Indonesia lompat dari negara ekonomi kelas menengah menjadi negara maju?

Linda, Anda sudah menghabiskan beberapa hari di Indonesia. Bagaimana pandangan Anda tentang Indonesia ke depan?

Salah satu yang paling menarik dari Indonesia adalah negara ini tidak mengalami resesi ketika krisis finansial terjadi pada 2009.

Saya melihat Indonesia sebagai jantung Asia Tenggara. Negara ini memiliki populasi keempat terbesar di dunia. Bahkan, jumlah populasi Indonesia saat ini sama dengan Amerika Serikat pada tahun 1980.

Tantangan Indonesia besar karena setiap negara yang masuk dalam ekonomi kelas menengah sangat sulit untuk menjadi sejahtera. Ini disebabkan transformasi bersifat fundamental yaitu dari agraria ke manufaktur.

Guna melakukannya, diperlukan institusi yang kuat, kebijakan yang jelas, dan sistem yang holistik.

Ini susah untuk tiap negara. Hanya ada sekitar 17 negara sejak Perang Dunia kedua yang naik dari negara kelas menengah menjadi negara kaya.

Transformasi ini memang sulit, tapi Indonesia punya potensi untuk maju. Jika Indonesia bisa melakukannya, apa yang Anda lihat di AS sekarang mungkin bisa menjadi masa depan Indonesia.

Kepala Koresponden Bisnis Linda Yueh akan menjawab pertanyaan Anda tentang ekonomi Indonesia.

Anda bisa berpartisipasi dan bertanya lewat Twitter dengan tagar #AskBBCLinda pada Rabu, 2 Juli 2014, pada pukul 08.00 GMT atau 15.00 WIB.

Atau Anda bisa mengirim surel dengan judul "Linda Yueh Q&A" ke tohaveyoursay@bbc.co.uk.

Berita terkait