Masa depan Malaysia Airlines suram

Malaysia Airlines Hak atas foto AFP
Image caption Jatuhnya MH17 di Ukraina timur adalah kali kedua Malaysia Airlines mengalami kecelakaan di 2014

Saham Malaysia Airlines ditutup turun 11% di Malaysia Jumat (18/07) setelah kecelakaan penerbangan MH17 di Ukraina.

Ini adalah bencana kedua yang memukul maskapai Malaysia tahun ini setelah penerbangan MH370 menghilang bulan Maret silam.

Pertanyaan yang muncul sekarang apakah maskapai ini masih dapat bertahan hidup.

"Bahkan jika ini adalah murni kebetulan, ini tidak pernah terjadi dalam sejarah maskapai penerbangan bahwa dua pesawat besar menghilang dalam beberapa bulan," kata Bertrand Grabowski, kepala penerbangan di DVB Bank, yang bertindak sebagai bankir terhadap Malaysia Airlines.

"Dukungan dari pemerintah harus lebih eksplisit dan mungkin lebih besar."

Butuh investasi

Perusahaan Malaysia tersebut telah kehilangan uang selama bertahun-tahun dan nilai pasarnya menurun lebih dari 40% dalam sembilan bulan terakhir.

Laporan menunjukkan bahwa perusahaan investasi Malaysia Khazanah Nasional, pemegang saham utama di Malaysia Airlines, ingin mengambil alih maskapai tersebut.

Perusahaan telah menginvestasikan lebih dari $1triliun (Rp11.6triliun) ke maskapai penerbangan itu dalam beberapa tahun terakhir dan sebelumnya menunjukkan bahwa restrukturisasi besar akan dilakukan di maskapai itu.

Para analis mengatakan investasi lebih lanjut diperlukan jika Malaysia Airlines akan bertahan dalam jangka pendek.

Mohshin Aziz, seorang pengamat investasi di Maybank, Kuala Lumpur mengatakan tantangan yang dihadapi Malaysia Airlines "sulit untuk diatasi". Tanpa dana yang signifikan, maskapai tersebut tidak akan bertahan lebih dari setahun, ungkap Aziz.

Tetapi bahkan jika maskapai itu berhasil mendapatkan pendanaan yang memadai, berbagai pertanyaan tentang kelangsungan jangka panjangnya tetap ada, kata para pengamat.

Berita terkait