Djaduk Ferianto jelajahi Nusantara lewat "bunyi"

Kuaetnika

Djaduk Ferianto dan Kuaetnika menggelar Konser 50 tahun musisi asal Yogyakarta ini di Graha Bakti Budaya TIM Jakarta, Rabu (15/08) lalu. Dalam konser Djaduk menghadirkan bebunyian yang mewakili Nusantara.

Dalam konser yang digelar untuk memperingati ulangtahunnya yang ke 50, Djaduk yang mengajak penonton untuk menjelalah Nusantara.

Konsep Nusantara dihadirkan Djaduk melalui bunyi-bunyian yang berasal dari berbagai daerah, dalam Jawa Dwipa yang mencerminkan tentang jawa yang dinamis.

Nuansa musik dari Minangkabau disajikan melalui lagu Swarnadwipa yang merangkum arti kekayaan dan peninggalan di Pulau Sumatera.

Lagu Molukken yang dinyanyikan oleh Glen Fredly, bercerita tentang Pulau Maluku yang disebut Djaduk sebagai persilangan dan pertemuan keindahan Nusantara.

Dalam konser itu juga hadir Butet Kartaredjasa, yang merupakan kakak Djaduk.

Image caption Butet Kartaredjasa, Glen Fredly hadir dalam konser Kuaetnika

Piknik di Cibulan, sebuah lagu tradisional yang berasal dari daerah pesisir utara Cirebon dan Indramayu, membuka Konser 50 Djaduk Ferianto dan Kuaetnika yang diberi tajuk “Gending Djaduk”.

Musik tarling yang kental dengan bunyi gitar dan suling dalam lagu yang berjudul asli Piknik Nang Cibulan – yang dinyanyikan Hj. Dariah asal Indramayu pada 1979 - yang ditangan Djaduk dihadirkan dengan nuansa Jazz yang kental.

“Saya tidak tahu apakah itu jazz atau bukan, kalau ada warna fusion atau warna jazz nya itu tidak membikin jazz jujur saya banyak dipengaruhi oleh teman-teman, pemusik kontemporer, wajar itu terjadi , saya membayangkan terjadinya Nusantara kan saling mempengaruhi, itu saya jujur kalau saya banyak dipengaruhi oleh teman-teman saya,” jelas Djaduk sebelum konser.

Djaduk mengatakan lingkungan sekitarnya sangat mempengaruhinya dalam bermusik.

“Kalau dilihat dari karya saya Kuaetnika ada yang tersisa, auranya, dan memang itu harus berubah itu seni, jadi ga repetition,” jelas Djaduk.

Inspirasi menguap

Selain warna musik yang dipengaruhi oleh lingkungan, menurut Djaduk, inspirasi dalam bermusik juga bisa diperoleh dari peristiwa di sekitar. Salah satunya komposisi Angop yang diambil dari Bahasa Jawa (menguap) yang menggambarkan perilaku anggota DPR dalam sidang.

Image caption Djaduk Ferianto mengatakan inspirasi bermusik diperoleh dari sekitar

“Saya terinspirasi ketika tahun kemarin diberi kesempatan main di DPR , mereka merasa mewakili rakyat, merasa itu kan bukan berarti mewakili, ketika saya melihat dari atas wakil-wakil itu… cangkemnya (mulutnya) itu mengangga, ua ua, kayak partitur gitu,” jelas Djaduk disambut gelak tawa penonton.

Kuaetnika tampil dengan personil Purwanto (Bonang, Reog dan Pamade), Sukoco ( kendang), Benny Fuad Herawan (drum), Indra Gunawan ( Keyboard), Arie Senjayanto (Gitar), dan Dhanny Eriawan Wibowo ( bass).

Selengkapnya bisa Anda simak melalui Info Musika BBC Indonesia, yang disiarkan 15 Agustus 2014 Pk. 18.00 WIB melalui radio mitra di berbagai daerah.

Berita terkait