RS Kenya gunakan terapi belatung

maggot Hak atas foto AFP
Image caption Belatung akan berkompetisi dengan bakteri dalam mencari makan sehingga bakteri sulit bertumbuh.

Para pasien di Kenya akan mulai mendapat terapi belatung hidup sebagai bagian dari pengobatan yang telah diuji melalui sebuah studi.

Metode penggunaan belatung untuk menyembuhkan luka diyakini amat efektif dan efisien mengingat biaya medis di negara itu amat tinggi bagi warga awam.

"Hasilnya bagus. Para pasien yang tadinya harus dirawat selama tiga bulan di sini setelah masa operasi dan diberi obat antibiotik yang mahal dapat meninggalkan rumah sakit dalam dua hingga tiga pekan (karena menggunakan terapi belatung)," kata Dr Christopher Kibiwot, salah satu anggota tim peneliti di Kenyatta National Hospital.

Terapi belatung ini sudah digunakan sejak dulu. Tapi pengobatan modern menjadi pilihan sejumlah rumah sakit setelah penemuan penisilin dan pengembangan antibiotik pada abad ke-20.

Meski demikian, sehubungan dengan tidak terjangkaunya biaya medis di negara-negara miskin serta ketahanan akan antibiotik yang kian berkembang, para dokter mulai mencari beberapa alternatif pengobatan.

"Pada dasarnya belatung memakan jaringan daging yang mati atau yang kita sebut jaringan nekrotik. Dengan demikian, belatung-belatung itu bersaing dengan bakteri dan mencegah bakteri berkembang. Ini adalah salah satu cara penyembuhan tanpa menggunakan obat-obat antibiotik," jelas Dr Kibiwot.

Untuk memproduksi belatung, para peneliti sengaja mengumpulkan lalat botol hijau di Kenya Agricultural Research Institute (Kari).

Phoebe Mukiria, seorang ahli serangga dari Kari yang mengawasi produksi belatung, mengatakan alasan khusus mengapa spesies lalat itu dipilih ialah karena mereka menghasilkan belatung yang memakan jaringan kulit mati.

"Metode ini membersihkan luka dan tidak merusak jaringan daging hidup sehingga Anda tidak merasa sakit," katanya.

Hak atas foto
Image caption Lalat botol hijau sengaja diternakkan untuk menghasilkan belatung-belatung.

Berita terkait