Restrukturisasi Sony untuk pulihkan bisnis

Hak atas foto EPA
Image caption Kazuo Hirai, Presiden dan Ketua Eksekutif Sony Corp., mengumumkan strategi jangka menengahnya untuk tahun fiskal 2015-2017 di Tokyo.

Sony mengatakan akan memecah bisnis video dan audio menjadi perusahaan terpisah sebagai bagian dari rencana tiga tahunnya untuk kembali mendapatkan keuntungan.

Kerugian yang diderita perusahaan elektronik Jepang itu membuat perusahaan raksasa tersebut berencana untuk mencapai keuntungan operasi sebesar 500 miliar (Rp53 triliun) pada bulan Maret 2018.

Sony menambahkan bahwa mereka juga akan menciutkan ukuran markas besarnya sebagai bagian dari restrukturisasi.

Perusahaan ini memprediksikan adanya kerugian sebesar 170 miliar yen (atau sekitar Rp18 triliun) pada tahun anggaran ini dibandingkan dengan kerugian 40 miliar yen (Rp4 triliun) tahun lalu.

Bulan September lalu, Sony mengumumkan peringatan atas keuntungan keenamnya dalam dua tahun terakhir dengan mengatakan perusahaan menduga akan mengalami kerugian 230 miliar yen (Rp24 triliun), atau lebih dari empat kali lipat daripada dugaan semulanya.

Sony juga mengatakan tidak akan memberikan dividen akhir tahun untuk pertama kalinya.

Jangan takut berubah

Pada hari Rabu (18/02), Ketua Eksekutif Sony, Kazuo Hirai, mengatakan perusahaan tidak boleh takut untuk berubah jika mereka mengharapkan 'untuk tumbuh dengan cara Sony'.

Image caption Sony mengatakan akan terfokus pada bisnis program TV dan PlayStation.

Hirai menambahkan bahwa perusahaan elektronik Jepang itu tidak akan lagi mengejar pertumbuhan penjualan di bidang-bidang seperti ponsel cerdas, tempat Sony mengalami persaingan ketat dengan para lawannya seperti Apple dan Samsung.

Hirai mengatakan mereka kini akan berfokus pada bidang-bidang bisnis yang mendatangkan keuntungan, termasuk operasi hiburan seperti bisnis program TV dan game PlayStation.

Pemisahan unit video-dan-audio akan dilakukan bulan Oktober, katanya menjelaskan.

Berita terkait