Mendulang peluang bisnis transportasi khusus perempuan

Image caption Kereta khusus perempuan telah disediakan PT KAI Commuter Jabodetabek sejak 2010 lalu.

Lani setiap hari bepergian menggunakan kereta Commuter Line yang beroperasi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Bersama sekumpulan perempuan lainnya, dia senantiasa menunggu di ujung peron agar dapat masuk ke kereta khusus kaum hawa. Kebiasaan itu dilakukannya karena pengalaman tak mengenakkan yang pernah dia alami.

“Saya pernah dilecehkan di dalam kereta campur. Sejak itu saya selalu naik di kereta khusus perempuan. Meskipun berdesakan juga, tapi setidaknya sama-sama perempuan,” kata Lani, wanita karier berusia 37 tahun.

Lani hanyalah satu dari sekian ribu penumpang perempuan yang setiap hari memilih kereta khusus perempuan yang disediakan PT KAI Commuter Jabodetabek sejak 2010 lalu. Alasan mereka sebagian besar sama, risih berdesakan dengan penumpang pria.

Kebutuhan perempuan untuk bepergian dengan aman dan nyaman ditangkap Brian Mulyadi sebagai peluang bisnis. Dia menciptakan Ladyjek, angkutan ojek yang baik pengendara maupun penumpangnya sama-sama perempuan.

“Layanan ojek online memang sudah ada. Tapi ada ketidakseimbangan yang saya bisa lihat. Kok keperluan wanita tidak ditanggapi? Selama ini tidak dipikirkan secara matang bahwa ada keperluan yang harus didapat perempuan. Bertolak dari hal ini, kami lalu menciptakan Ladyjek yang dilandasi tiga prinsip, yakni kepraktisan, kenyamanan, dan keamanan,” papar Brian Mulyadi.

Soal keamanan, BBC Indonesia bertanya kepada sejumlah pengendara Ladyjek. Mereka mengaku merasa lebih aman mengangkut penumpang sesama perempuan. Bahkan, untuk meningkatkan keamanan, motor mereka dilengkapi peranti alarm.

Image caption Setiap motor pengendara Ladyjek dilengkapi alarm khusus.

“Kami dikasih panic alarm. Jadi, kalau kami kenapa-kenapa, kami tinggal menyalakan alarm dan dia berbunyi. Itu kan bisa menarik perhatian orang sekitar dan mereka bisa memberi pertolongan,” kata Revi, salah seorang pengendara.

Pengendara berjilbab

Selain Ladyjek, transportasi ojek khusus perempuan lainnya ialah Ojek Syar’i yang pertama kali beroperasi di Surabaya pada Maret lalu.

Bedanya dengan Ladyjek, Ojek Syar’i mengharuskan pengendaranya memakai jilbab.

“Dengan demikian, penumpang juga tidak merasa risih dan canggung ketika harus memegang pinggang pengendara. Pengendara berpakaian jilbab dan tidak ketat juga cenderung lebih aman dari pelecehan seksual,” kata salah satu pendiri Ojek Syar’i, Evilita Adriani kepada wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan.

Meski tampak berbeda dibandingkan layanan ojek online yang sudah ada, Ojek Syar’i ternyata juga menggunakan sistem bagi hasil dengan pengendaranya. Melalui sistem itu, Ojek Syar’i mengambil 20% komisi dari setiap perjalanan yang ditempuh pengendara mitranya. Adapun tarif juga dihitung per kilometer.

“Dari perhitungan kami berdasarkan konsumsi bensin dan durasi tempuh, ketemu angka Rp3.000 per kilometer. Kemudian, tarif awal ketika memulai perjalanan ialah Rp5.000,” kata Evilita.

Kini, Evilita mengatakan bisnis Ojek Syar’i telah merambah 11 kota di tiga provinsi.

Hak atas foto Ojek Syari
Image caption Salah satu penggagas Ojek Syar'i ialah Evilita Adriani.

Pelanggan terbanyak

Kemunculan Ladyjek dan Ojek Syar’i, menurut pengamat transportasi Danang Parikesit, mencerminkan kenyataan bahwa perempuan ialah pelanggan transportasi umum terbanyak di Indonesia.

Danang merujuk kondisi sosioekonomi di Indonesia terkait dengan akses kendaraan pribadi.

“Setiap keluarga yang punya kendaraan pribadi, akses utama diberikan kepada laki-laki. Jika keluarga itu tidak punya kendaraan lain, yang perempuan menggunakan angkutan umum. Di situ terlihat bahwa jumlah populasi perempuan pengguna angkutan umum sangat banyak. Apalagi dengan kondisi ekonomi Indonesia yang makin maju, tren ini tidak akan terelakkan,” kata Danang.

Ketika sejumlah pebisnis melihat besarnya potensi pasar transportasi perempuan, Danang mendorong pemerintah untuk memberlakukan aturan-aturan khusus pada ojek mengingat layanan itu tumbuh tanpa regulasi transportasi.

“Saat perempuan naik ojek lalu mengalami pelecehan seksual, negara sama sekali tidak masuk karena dalam transportasi yang tidak diregulasi, transaksi terjadi antara penyedia dan pengguna. Kalau itu angkutan formal, pemerintah bisa masuk dengan lanasan itu merupakan kepentingan publik,” kata Danang.

Berita terkait