Tawan, tukang las berlengan robot: langkah kreatif atau hoax?

tawan, robot, bali
Image caption Tawan mengatakan ingin agar kisahnya memotivasi orang yang lumpuh.

I Wayan Sutawan, seorang tukang las di desa kecil di Bali, mengklaim telah membuat 'lengan bionik,' tetapi setelah ceritanya menyebar, orang-orang mulai meragukan kreasinya.

Butuh perjalanan sekitar dua jam dari Denpasar ke Desa Nyuhtebel, Karangasem, untuk bertemu dengan pria yang dijuluki sebagai ‘cyborg’ atau ‘Iron Man dari Bali’.

Julukan-julukan itu, yang awalnya muncul dalam pemberitaan media online, memang terkesan berlebihan karena Wayan Sumardana atau Wayan Sutawan tidak menggunakan kendali robot di seluruh tubuhnya.

Namun tentu saja rakitan barang rongsokan di lengan kirinya yang lumpuh – terdiri dari jalinan kabel berwarna-warni, roda bergerigi, besi, dan pompa hidrolik– tetap menjadi magnet yang menyedot perhatian tak hanya warga lokal, tapi nasional.

Pada Jumat (22/01) pagi, setiba saya di sana, bengkel las Wayan Sumardana ramai dipadati wartawan, warga sekitar, hingga pegawai-pegawai pemerintah yang mempersiapkan kedatangan Gubernur Bali.

Tukang las yang dipanggil Tawan ini tiba-tiba saja populer setelah sebuah surat kabar lokal menempatkan kisahnya di halaman utama. Tamu tak berhenti datang ke bengkel lasnya selama sepekan terakhir.

Kausnya yang berwarna biru, tampak tak berganti dari hari ke hari.

Tangan hilang

Bengkel yang juga dipakai sebagai tempat tinggal itu berukuran sekitar 200 meter persegi.

Image caption Banyak wartawan yang datang menyaksikan Tawan bekerja.

Isinya penuh dengan barang rongsokan: besi-besi tua yang berkarat, kulkas bekas, gunungan botol kemasan bekas, dan juga, beberapa ekor ayam – menyatu dengan kardus alas tidur dan sofa bekas.

Kisah ini mengesankan penemuan dan teknologi modern, namun ternyata juga diwarnai cerita yang berbau supranatural, atau malah klenik.

Riuh di Desa Nyutebel ini bermula enam tahun lalu, cerita istri Tawan, Nengah Sudiartini kepada saya.

Setelah bangun dari tidur, suaminya panik karena tidak tak bisa merasakan tangan kirinya.

“Dia minta tolong, ‘tolong cari tangan saya!’. Saya cari tangannya, memang benar tidak ada, saya cari ke kolong ranjang tidak ada. Setelah satu jam, anak saya lihat lagi dan bilang masih ada kok tangannya. (Saya) lihat: iya memang ternyata masih, tadi dilihat enggak ada.”

Ini terdengar sebagai cerita yang diselimuti mistis. Tak banyak yang mungkin percaya, terutama di kota-kota modern. Tapi bukankah Bali dan banyak di daerah di Indonesia akrab dengan perbincangan ini?

Tawan, lanjut Nengah, pergi beberapa ke dokter, dan juga dukun, tapi tak menemukan jawaban pasti tentang penyebab penyakit. Putus asa, tanpa uang, dan tak bisa bekerja, Tawan kemudian mulai merakit ‘lengan robot’.

Kepada saya dan sejumlah wartawan lain yang datang pagi itu, Tawan memperagakan cara kerjanya -sebagaimana sudah diperlihatkan kepada puluhan wartawan lain dalam belasan kesempatan sebelumnya. Tangan kiri Tawan yang awalnya terlihat lunglai, tiba-tiba bergerak diikuti dengan suara desingan.

Hanya bisa digerakkan Tawan

Image caption Tawan menantang orang yang tak percaya pada ceritanya.

Untuk membuktikannya sendiri, saya termasuk yang mencoba perangkat itu, bersama beberapa orang lain.

Namun kami tak bisa mencoba lengkap perangkat lengan robotik itu, karena katanya bagian lengan itu dirancang untuk ukuran lengan Tawan sendiri.

Jadi kami hanya bisa mencoba lingkaran kepala yang disebut sebagai pemicu gerak.

Mengenakan pemicu gerak itu di kepala beberapa belas detik, saya berpikir memerintahkan lengan untuk bergerak, namun tidak berhasil. Saya berpikir lebih keras, lengan tak juga bergerak. Akhirnya saya menyerah.

Begitu pun orang-orang lain yang mencobanya, juga tak ada yang berhasil menggerakan lengan itu. Sejauh ini, hanya Tawan sendiri yang bisa mengoperasikan lengan itu. Namun TAwan menyangkal jika dituding lengan itu tipuan.

Image caption Tawan menyatakan sempat sedih karena tak bisa bekerja setelah mengetahui tangan tak bisa digerakkan.

Tawan mengakui bahwa sistemnya mungkin tidak secanggih electroencephalogram (EEG) yang sebelumnya dia klaim. Tapi bukan berarti alatnya adalah sebuah tipuan.

“Prinsipnya seperti alat detektor kebohongan,” lantas Tawan menjelaskan. “Jadi saya ngarang-ngarang di kepala. Sehigga sinyal itu tertangkap alat. Itu saya manfaatkan dengan memberikan daya.”

Namun di dunia maya, banyak orang meragukan cerita Tawan dan menuding bahwa lengan robot itu palsu.

“Sensor otak? Hahaha, bahkan perusahaan-perusahaan teknologi besar saja […] masih belum mampu […] apalagi pake rongsokan,” begitu tulisan dalam sebuah unggahan yang beredar di media sosial.

Image caption Gubernur Bali I Made Mangku Pastika termasuk yang mengunjungi Tawan Jumat (22/01).

Pakar teknik mesin dari Universitas Udayana yang sudah bertemu dengan Sutawan dan melihat mesin itu, termasuk yang meragukan klaim Tawan.

"Ketika saya bertemu dengan dia, mesinnya rusak. Jadi saya bertanya padanya bagaimana mesin itu bekerja,"katanya.

Dilihat dari strukturnya, itu adalah robot, tetapi ada beberapa komponen yang kurang," kata Wayan Widiada.

“Saya ragu klaim itu, karena pada dasarnya, robot memiliki tiga komponen yang tidak bisa dipisahkan, yaitu mekanik, elektrik, dan pemrograman komputer. Alat itu memiliki struktur mekanik dan elektrik, tetapi tidak memiliki coding. Bagaimana mesin itu bisa menerima perintah tanpa program komputer?"

Image caption Sejumlah dosen dari kampus di Bali juga berdatangan ingin mencoba kreasi Sutawan. Tetapi belum ada yang bisa menggerakan selain Sutawan sendiri.

Sementara itu, Endra Pitowarno, dosen Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, dan juga anggota dewan juri kontes robot nasional berpendapat bahwa Tawan setidaknya menggunakan ilmu pneumatics.

“Semacam alat untuk menggerakkan, seperti yang dipakai di beberapa kap mobil. Untuk menggerakkan bisa dialiri tekanan angin untuk menggerakkan panjang pendek. Kalau dilihat dari fotonya, lengan atas ke lengan bawah itu dia gunakan tekanan udara atau kompresi dan pneumatic bisa digunakan untuk gerakan jari,” kata Endra yang mengamati foto-foto lengan robot Tawan di internet.

Endra meragukan Tawan dapat menggunakan sistem EEG yang ia sebutkan menyangkut pengetahuan bidang kedokteran yang canggih.

Tak keberatan pada tuduhan hoax

Ketika ditanya terkait orang-orang yang menuduhnya berbohong, Tawan mengatakan tak mempermasalahkan.

"Bagi yang tidak percaya kalau begini silahkan datang kemari. Nanti saya tunjukin cara kerjanya begini, begini. Sebenarnya sangat sederhana sekali, tidak begitu canggih.”

Pada akhirnya, bagi Tawan, seorang tukang las di sebuah desa di Karangasem, hidup akan kembali normal setelah keriuhan ini.

Dia mengatakan ingin terus bekerja dan menyekolahkan anaknya agar masa depan lebih terjamin.

Tawan mengaku tak ingin menjadi terkenal, namun “mudah-mudahan (kisah saya bisa) menjadi motivasi untuk orang lain. Yang mengalami lumpuh, kayak saya, dan enggak bisa jalan. Biar dia tetap semangat menjalani hidup Hidup itu sulit, kalau mati gampang,” katanya.

*) Artikel ini diperbaharui pada Senin (25/01) dengan antara lain menambahkan pendapat sejumlah pakar.

Berita terkait