Merekam sejarah yang mulai terkikis dari Pulau Buru

Hak atas foto Rahung Nasution
Image caption Pemutaran perdana film Pulau Buru Tanah Air Beta sempat dilarang oleh polisi atas alasan keamanan.

Sebuah film dokumenter berjudul Pulau Buru Tanah Air Beta yang asalnya akan diputar di Goethe Institute dibatalkan oleh polisi atas alasan keamanan setelah muncul ancaman protes dari sebuah ormas pada Rabu (16/3).

Namun acara pemutaran film tetap diadakan meski pindah ke gedung Komnas HAM.

Pulau Buru Tanah Air Beta menampilkan kisah dua tahanan politik yang pernah dibuang ke sana, yaitu Hersri Setiawan dan Tedjabayu Sudjojono, yang kembali ke pulau tempat masa-masa tergelap kehidupan mereka.

Hersri kembali ke sana bersama anak perempuan dan istrinya untuk menunjukkan tempat-tempat saat dia berdiam selama sembilan tahun, sejak 1969 sampai 1978.

Film dokumentar disutradarai Rahung Nasution sesekali menggunakan puisi-puisi Hersri untuk memberi warna pada adegan-adegan yang sebenarnya monoton.

Dalam film, Hersri memang bertemu dengan para mantan tapol yang masih tinggal di sana, meski tak banyak dialog yang terjadi antara mereka, mungkin karena mereka sudah terlalu tua sehingga sudah sulit mendengar satu sama lain. Atau mungkin juga karena film memang kurang banyak menampilkan adegan percakapan antara para tapol.

Namun dari film ini, terlihat bahwa tak banyak lagi peninggalan dari masa tahanan politik di Pulau Buru -paling tidak begitulah penangkapan saya.

Monumen yang tersisa

Satu yang dikunjungi oleh Hersri dan Tedjabayu adalah gedung kesenian di desa Savanajaya yang dulu mereka bangun, meski gedung itu kini sudah menjadi bangunan permanen, berbeda dari yang dulu mereka dirikan.

Terhadap pentingnya adegan ini, sutradara Rahung Nasution mengatakan, "Tempat itu kan satu-satunya sekarang monumen di Pulau Buru yang kita bisa lihat bahwa di situ pernah ada tragedi kemanusiaan."

Image caption Setelah pelarangan, pemutaran film yang asalnya akan dilakukan di Goethe Institute pindah ke gedung Komnas HAM dan ramai dihadiri orang.

"Dulu ruang itu adalah tempat pertunjukan kesenian yang mereka bangun dari kayu, yang artistik menurut mereka, dibangun dengan cara seperti itu, sekarang (menjadi) tempat yang asal-asalan, dibeton, dan semua seakan jejak-jejak mereka dihilangkan," tambahnya.

Semakin sedikitnya peninggalan sejarah di Pulau Buru membuat Hersri cemas, akankah generasi muda Indonesia ingat atau tahu apa yang dulu terjadi padanya dan 850 orang lain di Pulau Buru?

Saat ditemui seusai pemutaran film, Hersri mengatakan, "Teman-teman saja tinggal 70 (yang masih hidup). Asal mereka bertahan hidup saja, dan sekarang mereka sudah tua-tua, paling sedikit sudah 70 tahun. Sudah beberapa hari terakhir ini, saya mendengar kabar ada empat teman yang meninggal. Kalau hilang semua, ya bagaimana (kisah Pulau) Buru nanti jadinya?"

Perekam perjalanan

Teknik penceritaan film Pulau Buru Tanah Air Beta ini sederhana saja. Dua orang mantan tapol kembali ke pulau yang menurut mereka pernah menguji kemampuan mereka sebagai manusia untuk bertahan hidup.

Film memang menunjukkan kerasnya alam Buru, namun kisah yang disampaikan oleh Hersri dan Tedjabayu sebenarnya cukup datar.

Kebanyakan konteks soal Pulau Buru diceritakan lewat teks di layar.

Image caption Sebelum film diputar, digelar konferensi pers terhadap aksi pembatalan pemutaran oleh polisi atas dasar keamanan.

Dan Rahung -daripada sebagai sutradara yang mengarahkan dialog- agaknya lebih berperan sebagai perekam perjalanan dari sebuah nostalgia dan, mungkin, semacam reuni yang sedih.

Namun dalam teknik yang sederhana ini, ada beberapa gangguan teknis yang sebenarnya cukup mendasar, seperti gerak kamera yang tiba-tiba tidak stabil, penyuntingan yang kurang halus, kurang kuatnya pemilihan karakter yang menjadi narasumber di lapangan, dan kurang ketatnya narasi yang disajikan.

Hal ini juga dirasakan oleh Tedjabayu yang, bersama Hersri, jadi salah satu tokoh di film tersebut.

"Mohon maaf, ini film, mungkin terlalu sedikit biayanya. Lighting, jelas, tidak bagus, sound, banyak mengganggu, itu sebenarnya bisa dilakukan lebih profesional lagi, tapi kan masalahnya soal keterbatasan dana," ujarnya.

Meski begitu, dari sisi substansi cerita, Tedjabayu merasa puas dengan apa yang disampaikan.

Image caption Hersri Setiawan (kiri), salah satu tapol yang menjadi tokoh utama dalam film, dan Rahung Nasution, sutradara film Pulau Buru Tanah Air Beta.

Terlepas dari berbagai masalah teknis, produser film Whisnu Yonar menyatakan bahwa lewat Pulau Buru Tanah Air Beta, untuk pertama kalinya kisah tapol Pulau Buru difilmkan.

Whisnu juga menanggapi soal upaya pelarangan atas film itu, "Menurut saya ini film edukatif ya, dan kita menampilkan fakta-fakta sejarah dari kacamata mantan tahanan politik yang pernah dibuang ke sana, dan film ini tidak berniat menyerang pihak-pihak tertentu, jadi saya pikir kalau untuk mengikis kekhawatiran (mengenai isi film) ya harus ditonton film itu."

Pelarangan terhadap film Pulau Buru Tanah Air Beta menambah panjang daftar acara bertema 65 yang diberangus dalam lima bulan terakhir.

Dengan adegan yang tak mempromosikan kekerasan atau memicu kebencian maupun yang bermakna fitnah, saya jadi bertanya-tanya apa sebenarnya yang membuat ormas mengancam pemutaran film ini?

Anda bisa mendengarkan liputan selengkapnya dalam program Seni Budaya, yang disiarkan melalui radio-radio mitra BBC Indonesia, Jumat, 18 Maret 2016 pukul 05.00 dan 06.00 WIB.

Berita terkait