Mendengarkan kejujuran Silampukau

Hak atas foto BermaindiCikini
Image caption Silampukau tampil di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, akhir Maret lalu.

Sorotan lampu kuning mengarah ke seorang pria berkumis yang berdiri di tengah panggung Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Tingkahnya sedikit canggung saat menyikapi tepuk tangan 240 penonton di dalam teater. Namun, begitu pianis menekan tuts piano, kecanggungan itu hilang. Dia memejamkan mata dan mulai bernyanyi dengan lirih.

Dolly, yang menyala-nyala di puncak kota,yang sembunyi di sudut jalang jiwapria Surabaya.

Pada bait pertama lagu dinyanyikan, penonton riuh bertepuk tangan. Tanpa dipandu seorang dirigen, mereka mengangkat suara bersama layaknya paduan suara.

Lagu berjudul Si Pelanggan itu merupakan salah satu hits duo asal Surabaya, Silampukau. Dari bait pertama, sudah bisa ditebak bahwa lagu ini berkisah tentang Dolly, lokalisasi prostitusi di Surabaya yang kini sudah tiada.

Karya musik duo Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening memang tak jauh dari fenomena di kota berjuluk ‘Kota Pahlawan’ itu. Lirik mereka memang tidak sefrontal Iwan Fals, tapi tak juga banyak menggambarkan keindahan khas balada-balada Franky Sahilatua.

Yang menjadi persamaan adalah kejujuran. Salah satu bait lagu Si Pelanggan, misalnya, menyatakan bahwa pelacur merupakan pekerjaan yang tidak bisa diberantas.

Meski beritamu kini sedang tak pasti,yakinlah,pelacur dan mucikari ‘kan hidup abadi.

Hal ini justru diapresiasi para penikmat Silampukau. Angga dan Adisti, yang turut mengantre untuk mendapatkan tiket menonton pertunjukan Silampukau, contohnya.

“Saya suka dengan Silampukau. Dari liriknya, ada kesan kejujuran dan dekat dengan keseharian kita. Ini susah didapatkan dari band-band lain,” kata Angga.

“Lirik-liriknya enggak cinta melulu, enggak cengeng. Ditambah lirik mereka sangat merakyat,” timpal Adisti.

Hak atas foto BermaindiCikini
Image caption Dengan dukungan sejumlah musisi, Silampukau menampilkan bunyi-bunyian yang berbeda.

Dosa, Kota, dan Kenangan

Duo Silampukau telah merilis rekaman pada 2009 bertajuk Sementara Ini.

Baru pada 2015, mereka merilis album Dosa, Kota, dan Kenangan yang berisi 10 lagu.

Selain Si Pelanggan yang membahas bekas lokalisasi Dolly, album itu memuat Lagu Rantau mengenai pergulatan hidup di kota besar, kisah penjualan minuman keras dalam lagu Sang Juragan serta lagu Doa 1 soal impian musisi untuk menjadi terkenal.

Ide mengenai lagu-lagu itu, diakui duo Silampukau berasal dari obrolan warung kopi.

“Di warung kopi, koreng-koreng kehidupan dikelupas dan dipamerkan dengan bangga. ‘Saya pernah begini, saya pernah begitu’, semua dosa dipaparkan dan semua prestasi dipamerkan. Di situ narasi-narasi tentang kota lebih hidup ketimbang lewat mata akademisi atau politikus,” kata Kharis.

Karena mengangkat obrolan di warung kopi itulah, Kharis dan Eki mengaku tidak pernah berupaya mengadvokasi dan mewakili suatu kaum di kota.

“Yang kami bawakan merupakan potret-potret kota. Tagihan awal bulan (dalam Lagu Rantau), misalnya. Semua orang resah dengan itu, termasuk kami. Setahu kami, kami hanya menceritakan kembali keresahan orang-orang. Kami enggak berpretensi atau bertendensi mewakili apapun,” ujar Kharis kepada wartawan BBC Indonesia, di balik panggung.

”Sebab, kami bukan DPR,” celetuk Eki yang disambut tawa keduanya.

Hak atas foto BermaindiCikini
Image caption Duo Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening menekuni genre folk, di tengah tren pop dan rock yang mendominasi musik Indonesia.

Musik folk

Di tengah arus musik Indonesia yang cenderung ke arah genre pop dan rock, Silampukau justru menekuni jalur musik folk.

Hal itu, kata Kharis dan Eki, dibuat bukan tanpa alasan.

”Karena keterbatasan untuk membeli gitar elektrik ya kami susah bermain rock. Dengan gitar bolong, kami lalu bermain folk,” ujar Eki.

Namun, lebih jauh dari itu, musik folk dianggap memiliki ruang luas untuk mengeksplorasi.

”Folk punya potensi eksplorasi yang lebih luas daripada genre lain, tapi itu bagi kami. Eksplorasi yang dimaksud adalah dalam menulis lagu, bukan dalam konteks suara atau yang lain,” kata Kharis.

Dalam lagu Doa 1 yang mengandung lirik satire, keduanya bernyanyi mengenai mimpi mereka untuk masuk layar televisi sembari berharap sang ibu belum tua ketika mereka mencapainya.

Silampukau mungkin tidak seterkenal Franky Sahilatua dan Leo Kristi. Namun, keteguhan mereka dalam bertahan di jalur musik folk dan indie, mendapat apresiasi. Setidaknya dari penggemar mereka yang rela antre di Taman Ismail Marzuki untuk membeli tiket pertunjukan Silampukau.

Silakan menyimak versi audio pertunjukan Silampukau di program Seni Budaya BBC yang disiarkan melalui radio-radio mitra BBC Indonesia, Jumat 8 April 2016, mulai pukul 05.00 dan pukul 06.00 WIB.

Berita terkait