Penambang Kawah Ijen, pekerjaan paling berbahaya di dunia

Penambang kawah Ijen Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Penambang memanggul beban seberat 80-85 kilogram

Ratusan penambang belerang di kawah Gunung Ijen Banyuwangi Jawa Timur menempuh bahaya setiap hari dan bekerja tanpa perlindungan, setiap hari mereka mengalami risiko menghirup asap beracun.

Sejak dini hari, para penambang belerang mulai mendaki ke puncak Gunung Ijen yang memiliki ketinggian 2.443 meter, dengan menggunakan senter di kepala, jaket tipis dan sarung tangan.

Perjalanan ke puncak Gunung Ijen memakan waktu sekitar dua jam. Setelah sampai puncak para penambang menuruni lereng yang terjal untuk menuju kawah.

Di sekitar kawah Gunung Ijen itulah, mereka mengambil belerang.

Sambil memanggul keranjang bambu penuh belerang dengan berat sekitar 70 kg, para penambang pun kembali meniti jalur berbatu ke puncak. Sesekali langkah mereka terhenti untuk beristirahat.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Muryanto telah menjadi penambang lebih dari 10 tahun.

Ketika musim liburan, mereka harus membagi jalan menuju kawah dengan para wisatawan, seperti yang terjadi pada pertengahan Mei lalu.

"Awas beri jalan ada penambang," teriak seseorang dari arah kawah. Saya dan sejumlah pengunjung pun menepi dari jalan batu yang sempit itu.

Ketika saya berjalan menuju kawah, asap berbau belerang mulai menerjang, terasa panas dan membuat napas sesak, padahal saya menggunakan masker yang tertutup. Mata pun terasa sangat pedih.

"Berhenti dulu, dan menghadap ke batu itu," ujar seorang penambang yang menemani saya turun ke dekat kawah.

Sejumlah wisatawan asing dan domestik pun kembali ke puncak karena tak tahan dengan asap tebal di jalanan menuju kawah.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Sejak beberapa tahun teakhir para penambang menggunakan gerobak untuk membawa belerang dari puncak Ijen.
Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Asap beracun di kawah Ijen mencapai 40 kali lipat dari batas aman untuk pernapasan di Inggris.

Asap tebal masih menggantung di kawah Gunung Ijen sampai pagi hari, kami pun memutuskan kembali ke puncak dan beristirahat di sana. Saya melihat banyak penambang memutuskan untuk tetap berada di puncak.

"Kalau asap seperti ini biasanya akan sampai pagi jadi susah untuk bekerja menambang belerang," kata seorang pekerja di depan api unggun yang dibuat dari bekas keranjang bambu.

Sekitar 2011, tim BBC pernah mengukur kadar asap beracun di sekitar Kawah Ijen yang mencapai lebih dari 40 kali dari batas aman untuk pernapasan di Inggris. Selama 40 tahun, lebih dari 70 orang tewas di Ijen.

Di puncak Ijen, saya bertemu dengan Asnadi (40) yang telah bekerja sebagai penambang selama 20 tahun. Tubuhnya hanya dilapisi jaket tipis dan masker dari kain.

"Kalau bekerja di sini lumayan dapatnya bisa Rp200 ribu-Rp250 ribu, kalau di rumah itu dapat Rp30 ribu-Rp50 ribu itu bekerja di kebun," jelas Asnadi.

Penambang lain yang telah bekerja selama lebih dari 10 tahun, Muryanto mengaku memilih menjadi penambang karena bisa langsung mendapatkan uang.

"Ya lumayan dapatnya, sekitar Rp200 ribu kadang Rp150 ribu, dengan membawa 80 atau 85 kg belerang, tergantung kesehatan. Kalau sehat yang bisa bawa banyak, sekali nimbang langsung dapat uang," jelas Muryanto yang berusia 40 tahun.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Belerang dari Kawah Ijen sebagian besar digunakan untuk produk sabun, kosmetik dan industri gula.
Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Seorang penambang berjalan ditengah asap tebal.

Meski begitu risiko kematian ketika bekerja dihadapi Asnadi dan Muryanto.

"Ya sesak napas tapi sampai di rumah saya langsung minum susu. Sakit ada, sakit dada, sakit pinggang," jelas Muryanto.

"Memang bekerja di Kawah Ijen ini berat, kalau soal napas ya itu tergantung kesehatan kalau lagi normal ya enak, ini dengkul, paha dan pundak yang parah. Dengkul ini sakit linu karena naik turun," jelas Asnadi.

Pundak tebal

Keduanya menunjukkan pundak yang menebal seperti kapalan akibat sering membawa beban yang berat.

Dari puncak para penambang harus menuruni gunung sekitar tiga kilometer dengan berjalan kaki, dulu mereka harus berjalan kaki dengan membawa belerang menuruni gunung.

Tetapi sejak beberapa tahun lalu dari puncak mereka bisa mengangkut belerang dengan menggunakan gerobak.

Belerang itu akan dijual ke penampung yang kemudian menjualnya ke perusahaan kosmetik, sabun dan juga gula.

"Ini biasa juga digunakan untuk pemutih gula," jelas Muryanto.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Asnadi (berdiri) telah bekerja sebagai penambang belerang selama 20 tahun.
Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Belerang dibentuk menjadi souvenir yang dijual ke wisatawan.

Para penambang juga membuat suvenir berbahan belerang yang berbentuk pohon cemara dan kura-kura, untuk dijual ke wisatawan.

Selain itu sesekali mereka juga menjadi pemandu wisatawan yang datang atau menawarkan jasa angkutan lori bagi mereka yang tak kuat berjalan kaki menuju puncak.

Seperti hari itu, Muryanto dan Asnadi memutuskan pulang lebih cepat karena sudah merasa cukup mendapatkan uang dari jasa memandu wisatawan ke kawah Ijen.

"Bisa mendapat Rp100 ribu atau bahkan lebih jika menyewakan gerobak untuk mengangkut wisatawan," jelas Muryanto.

Di tengah perjalanan menuju Paltidung, pos masuk ke kawah Ijen, Muryanto sudah ditunggu adiknya yang beristirahat.

"Dia sesak napas tadi karena tak kuat dengan asap, jadi merasa lemas," jelas Muryanto yang kemudian bergegas mengangkut adiknya ke atas gerobak.

Berita terkait