Nelayan dan lautan 'tanpa ikan'
Media playback tidak ada di perangkat Anda

Laut 'tanpa ikan': Perjuangan nelayan di desa Muslim Thailand

Lebih dari satu dekade lalu, para nelayan di desa Muslim di selatan Thailand sulit mencari ikan karena rusaknya habitat laut. Namun lewat jalan restorasi dan konservasi, laut mereka kini hidup kembali.

Sekitar sepuluh tahun lalu, tak ada ikan di laut. Kapal-kapal penangkap ikan dengan trawl-nya menyapu bersih semua hewan laut di pantai wilayah mereka. "Kami harus pergi lebih jauh, sekitar lima hingga sepuluh kilometer untuk mencari ikan," kata Mabin Aman, nelayan kecil di Satun.

Namun para nelayan tidak tinggal diam. Asosiasi nelayan yang dikenal dengan nama Thai Sea Watch Association mulai memobilisasi nelayan lokal untuk memulihkan habitat yang rusak antara lain dengan membuat karang buatan di tengah laut dan bank kepiting di pesisir.

"Mereka akan meminjam kepiting betina hasil tangkapan nelayan untuk dibiakkan dulu di 'bank kepiting'. Ketika telurnya sudah cukup kuat, nelayan melepasnya ke laut. Ini dilakukan untuk memastikan kepiting betina bisa bereproduksi. Setelah bertelur, kepiting betina akan dikembalikan kepada yang menangkap," jelas Preeyaporn Atthaphong dari Oxfam Thailand, organisasi nirlaba dari Inggris yang menjadi salah satu mitra nelayan di Satun.

Selain upaya restorasi, asosiasi juga aktif bersuara untuk mendorong pemerintah melarang praktik penangkapan ikan skala besar di area ini.

"Sejumlah nelayan menjadi relawan untuk mengawasi laut di wilayah mereka dan mengusir kapal-kapal trawl. Di Satun, dengan dukungan pemerintah lokal dan kuatnya asosiasi nelayan, mereka berhasil melindungi area itu," tambah Preeyaporn Atthaphong.

Dan perlahan, hasilnya mulai terasa, seperti yang dituturkan Mabin Aman kepada BBC Indonesia.

Video: Christine Franciska melaporkan dari Satun, Thailand.