BBC Indonesia

Utama > Dunia

Oposisi Suriah sepakati rencana transisi

Facebook Twitter
4 Juli 2012 22:41 WIB
Pertemuan kelompok oposisi di Suriah

Para anggota oposisi Suriah menyepakati rencana masa transisi bila mereka berhasil menggulingkan Presiden Bashar al-Assad.

Namun pertemuan di Kairo, Mesir pada Rabu (04/07) itu ditandai dengan berbagai perbedaan besar dan bahkan diwarnai perkelahian.

Para anggota oposisi juga gagal menyepakati pembentukan satu badan yang akan mewakili mereka dalam perundingan dengan delegasi internasional.

Pertemuan ini dihadiri oleh 200 peserta dari 30 kelompok dan juga tokoh independen dan para pegiat lain.

Setelah pertemuan dua hari tersebut, anggota kelompok oposisi ini juga menyepakati bahwa selama masa transisi, mereka akan mendukung Tentara Pembebasan Suriah (FSA).

Perundingan juga sempat diwarnai dengan perkelahian yang dipicu dengan keluarnya delegasi dari Kurdi.

"Sayangnya, terlalu banyak ketidaksepakatan," kata aktivis Suriah Walid al-Bunni.

"Sejumlah kelompok justru menarik diri," kata al-Bunni kepada kantor berita AFP.

'Kesepakatan atau bukan'

Delegasi Dewan Nasional Kurdi menarik diri dari pertemuan sebagai protes karena dokumen akhir tidak menyebutkan soal Kurdi, kata pejabat tinggi Liga Arab yang menyelenggarakan pertemuan ini.

Pertemuan di Kairo ini diselenggarakan setelah pertemuan internasional di Jenewa, Swiss, Sabtu (30/06) lalu menyepakati rencana transisi yang disebut gagal oleh pihak oposisi dan media pemerintah Suriah.

Wartawan BBC di Kairo, Jon Leyne mengatakan kelompok oposisi Suriah sangat terpecah dan sulit mengatakan apakah yang mereka capai dalam pertemuan itu adalah kesepakatan atau bukan.

Pernyataan akhir yang dibacakan ketua kelompok oposisi Kamal al-Labuani mengatakan para delegasi "menyepakati bahwa penyelesaian politik harus dimulai dengan digesernya rezim Bashar al-Assad."

Labuani mengatakan berbagai kelompok sepakat untuk menjaga "perdamaian dan kesatuan nasional."

Dalam salah satu dokumen, para delegasi menetapkan rencana masa transisi, termasuk pembentukan pemerintah dan parlemen sementara.

Kekerasan yang pecah di Suriah menentang rezim Assad sejak Maret tahun lalu menewaskan lebih dari 16.500 orang, kata badan hak asasi Suriah, Syrian Observatory for Human Rights.

Sebar

Email del.icio.us Facebook MySpace Twitter