BBC Indonesia

Utama > Dunia

Presiden Obama mendukung reformasi politik Burma

Facebook Twitter
19 November 2012 16:01 WIB
Presiden Barack Obama di Rangoon, Burma.

Barack Obama menjadi presiden Amerika Serikat pertama yang berkunjung ke Burma, Senin 19 November 2012.

Dalam pertemuan dengan Presiden Thein Sein, Obama mengatakan keinginannya untuk membantu Burma dalam menempuh jalan menuju demokrasi.

Dia menambahkan bahwa tujuannya adalah menjaga momentum demokratisasi dan menjanjikan hubungan yang lebih kuat antara Amerika Serikat dan Burma jika reformasi terus berlanjut.

"Namun menurut kami, proses reformasi demokrasi dan ekonomi di sini yang sudah dimulai oleh presiden adalah sesuatu yang bisa mengarah pada kesempatan perkembangan yang luar biasa," tutur Presiden Obama kepada wartawan usai pertemuan dengan Presiden Thein Sein.

Sejumlah pihak mengkritik kunjungan ini terlalu dini untuk sebuah reformasi politik yang sedang dalam proses, sejak Presiden Thein Sein mengakhiri kepemimpinan militer lewat pemilihan umum yang berlangsung April 2010.

Para pengkritik mengingatkan masih banyak pegiat politik yang mendekam di penjara, sementara kekerasan antaretnis - seperti di negara bagian Rakhine- masih belum terselesaikan.

Bersamaan dengan kunjungan Obama, pemerintah Burma membebaskan sejumlah tahanan politik. Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik membenarkan bahwa 52 tahanan politik dibebaskan namun sekitar 200 lebih masih ditahan.

Suu Kyi berhati-hati

Obama mendarat di Rangoon dari Thailand untuk lawatan selama enam jam dan tidak akan berkunjung ke ibukota, Nay Pyi Taw.

Dia juga bertemu dengan pemimpin oposisi Aung San Suu Kyi, yang bersikap hati-hati terhadap hal yang disebutnya sebagai 'khayalan keberhasilan.'

Suu Kyi mengatakan kepada parwa watawan bahwa Burma sedang berada dalam masa yang sulit.

"Saya mengatakan sulit karena masa yang paling sulit dalam setiap transisi adalah ketika kita berpikir bahwa keberhasilan di depan mata."

"Oleh karena itu kita perlu berhati-hati bahwa kita tidak terbuai dengan khayalan keberhasilan dan kita bekerja menuju keberhasilan yang sebenarnya untuk rakyat kita."

Selain bertemu dengan beberapa pemimpin lain, Presiden Obama juga berpidato di hadapan para mahasiswa di Universitas Rangoon yang menjadi pusat dalam gerakan prodemokrasi tahun 1988 yang ditindas oleh rezim militer.

Dalam kunjungan ini, Obama rencananya mengumumkan bantuan sebesar US$170 juta.

Sebar

Email del.icio.us Facebook MySpace Twitter