Apa yang salah dengan Leicester City?

Jamie Vardy Hak atas foto Getty Images
Image caption Jamie Vardy sejauh ini belum bisa mendongkrak kinerja Leicester City.

Kekalahan 3-0 dari Manchester United membuat Leicester City makin mendekati zona degradasi di Liga Primer Inggris, dengan menempati posisi 16 klasemen sementara.

Ini adalah kekalahan keenam di 10 laga liga terakhir di mana selama periode ini tim asuhan Claudio Ranieri tersebut hanya mencatat dua kemenangan.

Dengan perolehan nilai hanya 21, posisi Leicester di Liga Primer terancam dan jika tak segera mengambil langkah-langkah dramatis maka sangat terbuka kemungkinan Leicester akan terlempar dari divisi elite liga Inggris.

Kekhawatiran didasarkan pada fakta bahwa kinerja selama ini tak terlalu mengembirakan dan dalam tujuh pertandingan ke depan, lawan-lawan yang dihadapi Leicester tak bisa dibilang gampang: Swansea, Liverpool, Hull, Arsenal, West Ham, Stoke City, dan Sunderland.

"Di atas kertas, lawan-lawan Leicester jauh lebih baik dibandingkan mereka. Swansea, Liverpool, Arsenal... bagaimana Leicester City akan mengalahkan mereka?" kata mantan pemain Manchester United, Phil Neville.

Melakukan 'hal yang gila'

"Lawan-lawan mereka punya kepercayaan diri yang jauh lebih baik. Terus terang saja, apa yang terjadi di Leicester sekarang ini membuat saya khawatir," kata Neville.

Neville dan mantan pemain Inggris yang juga menjadi komentator BBC, Jermaine Jenas, sama-sama sepakat bahwa 'kegilaan' yang ditunjukkan pada dua musim lalu, ketika melewati jurang degradasi pada 2014-2015 dan menjadi juara pada 2015-2016, tak ada di tim Leicester sekarang ini.

"Tepat dua tahun lalu mereka berada dalam posisi sulit. Kebersamaan dan semangat yang luar biasa membuat mereka bisa keluar dari situasi itu ... dari sini saya mengatakan masih ada celah bagi tim tersebut untuk bangkit," kata Jenas.

Pada Februari 2015, Leicester berada di posisi buncit klasemen sementara, dengan mengumpulkan nilai 17 dari 24 pertandingan. Tapi situasi ini, ketika itu, menjadi momen kebangkitan Leicester.

"Nah sekarang, mereka harus kembali ke semangat Februari 2015. Kesampingkan status yang mereka sandang bahwa mereka adalah juara musim lalu. Terapkan kembali suasana psikologis bahwa posisi mereka terancam," kata Neville.

Jenas mengatakan, "Leicester pernah keluar dari posisi sulit, mereka kurang lebih masih punya anggota skuat yang sama."

"Tim harus bersatu kembali, saling menguatkan satu sama lain dan melakukan lagi hal-hal yang gila," tambahnya.

Neville secara khusus meminta Raineri untuk segera membenahi tim. "Ranieri punya tanggung jawab menentukan sistem dan taktik bertanding," kata Neville.

Topik terkait

Berita terkait