Bekuk Sevilla, Leicester 'mengancam' kemapanan Liga Champions

Leicester players celebrate Hak atas foto AP
Image caption Leicester meenjadi tim Inggris pertama yang membalikkan keadaan dari kekalahan di laga pertama melawan tim Spanyol di babak sistem gugur Liga Champions setelah Chelsea pada 2005

Tiga pekan lalu mereka terpuruk di papan terbawah dan terancam degradasi, kini Leicester melaju ke perempat final Liga Champions dan mengancam menciptakan akan keajaiban kedua di kejuaran antar klub terbesar dunia itu.

Klub dan tim yang membuat tradisi menjungkir-balikkan logika itu melakukannya lagi, untuk membalikkan ketinggalan 1-2 di leg pertama dari Sevilla, tim yang sedang merajalela di La Liga, dengan menang 2-0 di tengah suasana gairah dan emosi yang membangkitkan kenangan musim lalu saat memenangkan gelar Liga Primer.

Padahal tiga minggu lalu, setelah pertandingan pertama di Spanyol, Leicester memecat Claudio Ranieri, orang yang mendalangi kemenangan Liga Primer mereka, di tengah cerita tentang keresahan di ruang ganti dan kecemasan akan degradasi.

Bagaimana mereka melakukan transformasi ini? Dan seberapa jauh bisa mereka bisa melaju di Liga Champions?

Hak atas foto Getty Images
Image caption Craig Shakespeare memenangkan seluruh tiga pertandingan eprtama setelah menggantikan Claudio Ranieri.

Dari terancam degradasi ke mengancam Liga Champions

Tatkala Leicester memecat Ranieri pada 23 Februari, Liga Champions seperti dikesampingkan terkait kecemasan bahwa the Foxes akan terdegradasi ke Divisi dua, atau Championship.

Mereka berhasil mencetak gol tandang yang penting dalam kemenangan tipis 1-2 di Sevilla untuk jadi modal besar bagi laga kedua, dalam pertandingan terakhir bagi Ranieri, namun kekhawatiran yang lebih luas menyebabkan pemecatan pelatih asal Italia itu.

Usahawan Thailand pemilik klub itu membutuhkan orang untuk menemukan kembali unsur yang telah hilang dalam sembilan bulan sejak Leicester mengangkat trofi Liga Primer di salah satu kisah olahraga terbesar yang pernah terjadi. Mereka membutuhkan orang untuk menjaga mereka bertahan di Liga Primer, dengan sukses di Liga Champions jatuh ke dalam kategori bonus tambahan.

Mereka berpaling ke Craig Shakespeare, yang dulu datang ke klub itu bersama Nigel Pearson dan tetap tinggal untuk membantu Ranieri di musim impian itu.

Dan, dalam sekejap, bandul berbalik. Shakespeare memulihkan tim Leicester ini ke keadaan awal suatu tim pemenang gelar - dan transformasi itu ternyata luar biasa. Shakespeare, yang dikontrak sampai akhir musim, memenangkan tiga dari tiga pertandingan. Menang mengesankan melawan Liverpool dan Hull telah menenangkan kekhawatiran degradasi namun kemenangan ini atas Sevilla adalah pembenaran yang paling menonjol dari metode Shakespeare. Ini adalah jenis kemenangan yang menbangun reputasi harum dan, dalam kasus pemain Leicester, dihidupkan kembali.

Dia secara efektif memulihkan kinerja tim pemenang gelar musim lalu, dengan pengecualian peran Wilfred Ndidi untuk menggantikan N'golo Kante , dan memerintahkan mereka untuk bermain dalam intensitas dan serangan balik yang sama - menggunakan kecepatan Jamie Vardy dan kreativitas Riyad Mahrez - yang membawa kesuksesan musim lalu.

Siapa yang lolos ke perempat final?
Atletico Madrid/Bayer Leverkusen Barcelona
Bayern Muenchen Borussia Dortmund
Juventus Leicester City
Manchester City/Monaco Real Madrid

Leicester telah kembali pada tim dengan keberhasilan memainkan sepakbola yang tidak rumit dari musim lalu, menghindarkan ancaman untuk menjadi yang anti-klimaks terbesar .

Ketika mereka kalah 2-0 dari pesaing di zona degradasi, Swansea pada 12 Februari, hasil yang berbuntut pada berakhirnya nasib Ranieri, mereka berada di tempat ke-17 dengan 21 poin dari 25 pertandingan Liga Primer. Saat itu Leicester merupakan klub yang sedang terjun bebas.

Pendekatan Shakespeare sederhana namun sangat spesifik. Leicester telah kembali ke apa yang terbaik yang bisa mereka lakukan dan apa yang kebanyakan lawan tidak suka.

Dan dalam melakukannya, Stadion King Power kembali menjadi arena megah seperti musim lalu.

Kemenangan atas Sevilla adalah pembenaran yang paling tegas dari berbagai peristiwa beberapa minggu terakhir di Leicester.

Hak atas foto PA
Image caption Pemilik Leicester memutudkan memecat Claudio Ranieri pada laga pertama Liga Champions mereka di Sevilla.

Kejam, tapi benar?

Pemilik Leicester asal Thailand, Vichai Srivaddhanaprabha dicap sebagai orang tak berperasaan, kejam dan hampir menjadi musuh kesopanan dan tata krama sementara Ranieri manusia penuh martabat didepak sembilan bulan setelah membawa mereka kejayaan yang hanya bisa ada dalam impian.

Penting dicatat bahwa ketika Leicester melangsungkan pertandingan pertama pasca-Ranieri dengan kemenangan 3-1 di kandang Liverpool pada tanggal 27 Februari, ada pawai terima kasih kepada manajer yang diusir itu dan banyak spanduk penghargaan, tetapi sedikit kecaman atau kritik terbuka pemilik klub.

Ini mungkin sinyal yang menunjukkan bahwa, kendati fans mungkin menganggap keputusan mendepak lelaki Italia itu tidak nyaman, namun klub memang sedang terpuruk dan langkah darurat diperlukan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Dalam debutnya di Liga Champions, Leicester melesat ke perempat final ketika tim besar Inggis seperti Arsenal justru mengalami aib dengan kalah agregat 2-10 di enam belas besar.

Pemilik klub membuat keputusan berat, namun tanpa sentimen. Degradasi di depan mata, dan langkah darurat harus dilakukan.

Para pendukung tetap tak menunjukkan dukungan atau kutukan terhadap keputusan klub, namunpenampilan lawan Sevilla menunjukkan, betapa pun pahitnya pemecatan Ranieri, namun tampaknya itu merupakan langkah yang tepat.

Berapa jauh Leicester bisa melaju?

Lolosnya Leicester ke perempat final pasti membangkitkan mimpi lain tentang kemungkinan memenangkan Liga Champions - tapi siapa yang mengatakan mereka tidak bisa menimbulkan gelombang lebih besar lagi setelah menyingkirkan Sevilla, pemenang Liga Europa tiga musim berturut-turut dan sedang tampil bagus di La Liga dan sementara ini menempati posisi ketiga?

Hak atas foto Reuters
Image caption Kasper Schmeichel menghadang dua penalti dalam setiap laga melawan Sevilla. di Liga Champions.

The Foxes akan dianggap tak sekelas dengan raksasa-raksasa Eropa yang melaju ke perempat final seperti Barcelona, ​​Real Madrid, Bayern Muenchen, Borussia Dortmund, Juventus - atau siapa saja yang nanti diundi melawan mereka di delapan besar.

Namun, Leicester tidak akan ciut, terutama di kandang sendiri dan terutama tidak jika arena ini menjadi arena laga kedua.

Ada udara nyata intimidasi, kebisingan dan teater di stadion saat melawan Sevilla dan penggemar Leicester mulai bermimpi lagi setelah bulan-bulam gelap antara Agustus dan Februari.

Di bawah Shakespeare, mereka bermain dengan cara yang dirancang untuk mengganggu ketenangan setiap lawan yang bermain terukur - dan mereka akan melakukannya dengan dukungan 90 menit dinding suara yang memekakkan telinga.

Di atas kertas, petualangan besar mereka akan berakhir pada tahap perempat final nanti - tapi sejak kapan peluang atau logika menjadi hitung-hitungan klub ini?