Bagaimana Spanyol cetak pebulu tangkis peraih emas Olimpiade?

Carolina Marin Hak atas foto PA
Image caption Pemain bulu tangkis Carolina Marin telah dua kali menjadi juara dunia dan meraih emas Olimpiade 2016 di Rio.

Bagi yang mengikuti perkembangan bulu tangkis, mungkin Carolina Marin bukan nama yang asing. Pemain asal Spanyol ini meraih medali emas tunggal putri Olimpiade 2016 di Rio.

Ia juga dua kali menang di kejuaraan dunia, pada 2015 dan 2014 masing-masing dengan mengalahkan Saina Nehwal (India) 21-16 21-19 dan Li Xuerui (Cina) 17-21 21-17 21-18.

Di babak final tunggal putri Olimpiade Rio, Marin menundukkan PV Sindhu (India) 19-21, 21-12, 21-15.

Bagaimana Spanyol bisa menghasilkan pemain putri andal sekaligus masuk ke jajaran pemain elite dunia yang selama ini didominasi oleh Cina, Korea Selatan, Jepang, Denmark dan belakangan Taiwan dan Thailand?

Bagaimana pula Marin tertarik dengan bulu tangkis?

Bisa dikatakan, Marin 'jatuh cinta' dengan bulu tangkis secara tak sengaja, ketika seorang kawan memperkenalkan olahraga ini ke Marin saat ia berusia sekitar delapan tahun.

"Saya datang ke arena olahraga bersama kawan, melihat badminton dan saya langsung suka dengan cabang olahraga ini," kata Marin.

Ia serius menekuni sejak usia 13 tahun ketika ia terjun di kejuaraan nasional. Dari sini, sang pelatih, Fernando Rivas, melaihat potensi besar di dalam diri Marin dan ia menghubungi pengurus olahraga nasional agar Marin dibina secara lebih serius.

Mereka juga meminta izin orang tua Marin. Akhirnya diputuskan Marin dilatih secara lebih intensif, yang membuat Marin harus meninggalkan keluarganya di Huelva di Spanyol barat daya dan menetap di Madrid.

Soal keputusannya untuk memilih bulutangkis di usia yang sangat belia, Marin dalam satu wawancara mengatakan bahwa dirinya tidak menyesal.

"Kalau ketika itu saya menunda, saya tak mungkin menjadi juara dunia dan juara Olimpiade," kata Marin.

Dukungan penuh federasi olahraga

Hak atas foto EPA
Image caption Carolina Marin mengatakan dirinya ingin menempatkan Spanyol sebagai pemain penting di peta bulu tangkis dunia.

Rexy Mainaky, mantan pengurus PBSI dan pelatih yang pernah menangani tim bulutangkis Inggris, Malaysia dan Filipina mengatakan bahwa pendekatan yang diambil Spanyol memang ditujukan untuk meroketkan Marin di panggung bulu tangkis dunia.

"Semua sumber daya diarahkan ke dia (Marin), pendekatan yang mungkin tak cocok diadopsi negara lain," kata Rexy yang sekarang menjadi pelatih tim bulu tangkis Thailand.

Bagi Marin, konsentrasi sumber daya dan tentu saja dana dari federasi olahraga nasional membuahkan hasil.

Merangkak dari tingkat junior, ia adalah juara nasional sebelum merambah Eropa dan berbagai turnamen bergengsi di dunia. Sejak 2009 ia telah 20 kali juara di berbagai turnamen dan puncaknya tentu saja adalah menyumbangkan medali emas tunggal putri Olimpiade 2016 untuk kontingen Spanyol, selain dua kali menjadi juara dunia.

"Saya ingin menunjukkan bahwa Spanyol tak hanya soal sepak bola, tak hanya soal La Liga, tapi juga badminton," kata Marin kepada BBC Indonesia.

Untuk yang satu ini, tak diragukan lagi Marin berhasil menempatkan Spanyol sebagai salah satu negara penting di peta bulu tangkis.

Dan di usia yang relatif muda, 23 tahun, masa depan cerah menunggu di depan, jika mengambil contoh Lee Chong Wei, yang kembali menjadi juara turnamen bergengsi All England di usia 34 tahun.

Ini 'kabar buruk' bagi para pemain putri dari Cina, Denmark, Inggris, Taiwan, Thailand, Korea Selatan, Jepang dan tentu saja Indonesia, yang juga menelurkan pemain sekaliber Susi Susanti.

Topik terkait

Berita terkait