Mengapa daerah kumuh di kota Nigeria bisa cetak pesepakbola andal?

Taribo West Hak atas foto Getty Images
Image caption Taribo West, pemain yang pernah membela Inter Milan dan AC Milan, adalah satu dari sekian banyak pesepakbola asal Ajegunle.

Ajegunle adalah salah satu daerah kumuh di kota Nigeria, Lagos, yang terkenal berbahaya. Namun, kawasan itu juga menyandang reputasi sebagai penghasil sejumlah pesepakbola andal. Apa rahasianya?

Sejak awal 1990-an, Ajegunle atau AJ City sebagaimana dikenal warga setempat, terus mencetak pesepakbola andal. Taribo West, Odion Ighalo, Brown Ideye, Samson Siasia, Obafemi Martins, dan Jonathan Akpoborie semua berasal dari kawasan itu.

Padahal, hidup bagi penduduk kawasan kumuh itu sangat tidak mudah.

Setiap hari mereka harus menghadapi tingkat kejahatan yang tinggi, ketiadaan air bersih, listrik, dan layanan kesehatan.

Lalu apa saja faktor yang mendorong Ajegunle menjadi kawasan penghasil pesepakbola mumpuni? Salah satunya keberagaman.

"Komunitas di sini terdiri dari banyak orang dengan beragam etnis," kata Bennedict Ehenemba, warga asli Ajegunle yang menjadi pemantau bakat untuk klub-klub Jerman.

"Di Ajegunle ada orang-orang dari suku Yoruba, Igbo, Hausa, Itsekiri dan semua suku lainnya di Nigeria. Ini adalah tempat berkumpulnya talenta di Nigeria," imbuhnya.

Image caption Anak-anak muda Ajegunle bisa bermain sepak bola di tempat yang aman.

Banyak kisah sukses bisa dilacak dari dua institusi setempat, Gereja Katolik St Mary dan kamp barak Angkatan Laut.

Kedua tempat itu menjadi lokasi aman bagi kaum muda untuk menyepak si kulit bundar.

Area terbuka lainnya, yang disebut 'Area Boys', sulit dijadikan arena bermain karena kerap diduduki kelompok preman setempat. Mereka akan minta bayaran bagi orang-orang yang ingin bermain di situ.

Mantan ujung tombak tim nasional Nigeria, Jonathan Akpoborie, mengasah kemampuannya di Ajegunle sebelum dia berkiprah di Liga Utama Jerman atau Bundesliga pada era 1990-an.

"Ini sejatinya adalah tempat bagi sepak bola di Nigeria," kata Akpoborie.

Sepak bola, menurutnya, bukan sekadar permainan bagi kaum muda melainkan jalan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik.

"Saya tidak ingin merendahkan area itu dengan mengaitkan kesuksesan para pesepakbola dengan kemiskinan, namun di sana memang tidak ada yang bisa diperbuat kaum muda. Mereka menghabiskan sebagian besar waktu mereka bermain sepak bola di sini sembari mengembangkan diri untuk menjadi pesepakbola berbakat," papar Akpoborie.

Sedemikian berpengaruhnya Ajegunle, menurut Akpoborie selalu ada satu pemain di tim nasional yang berasal dari kawasan kumuh tersebut.

"Dengan cara itu saya mulai. Para orang dewasa yang pertama bermain, kami menyaksikan mereka, dan akhirnya kami bermain di lapangan. Mereka inspirasi bagi kami," kata Akpoborie.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Mantan penyerang tim nasional Nigeria, Jonathan Akpobori, bermain di Bundesliga pada era 1990-an.

Ajegunle memiliki sistem persepakbolaan akar rumput, yang mendorong anak-anak muda berbakat untuk bermain secara kompetitif di klub-klub lokal sedari dini.

Kesempatan itu memberikan mereka kelebihan yang tidak dimiliki para pemain lulusan akademi sepak bola.

Alfred Emuejeraye, yang berkiprah di kompetisi sepak bola Swiss, dibesarkan di Ajegunle.

Dia meyakini rahasia sukses kawasan kumuh itu adalah kecintaan yang sangat mendalam pada sepak bola.

"Orang-orang di sini, komunitasnya sangat berhasrat pada sepak bola, sangat bersemangat terhadap segalanya dan sangat ingin sukses dalam apapun yang mereka lakukan, mulai dari musisi sampai sopir taksi..Komunitas di sini begitu lengkap," kata Emuejeraye.

Odion Ighalo—mantan pemain Watford FC di Liga Primer Inggris yang kini memperkuat Changchun Yatai FC di Liga Super Cina—juga penduduk asli Ajegunle.

Dia pernah singgah di sejumlah kota besar dunia, namun masih mengenang Ajegunle.

"Sangat sulit tumbuh besar di sana. Tidak seperti di Eropa yang segala sesuatunya disediakan. Di Ajegunle, Anda harus mencari uang sendiri untuk membeli sepatu bola, kostum bola, transportasi, hingga minuman saat latihan. Jika Anda tidak mampu membiayai transportasi, maka Anda tidak bisa ke mana-mana. Dan mereka yang tidak bisa ke mana-mana adalah pemain-pemain hebat," kata Ighalo.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Odion Ighalo - striker klub Cina Changchun Yatai FC - dibesarkan di Ajegunle.

Bolarinwa Olajide adalah wartawan olah raga untuk stasiun radio Wazobia di Lagos. Dia telah melihat banyak pemain bermunculan dari Ajegunle selama beberapa tahun terakhir.

"Kami telah melihat yang tanpa harapan, mereka yang tahu bahwa mereka punya bakat tapi tidak bisa menampilkannya di manapun.

"Mereka tidak bergabung dengan akademi sepak bola karena tidak mampu membayar iurannya. Jadi mereka ke Ajegunle karena mereka tahu pencari bakat datang untuk melihat mereka bermain dan itulah kesempatan untuk menunjukkan apa yang mereka bisa," paparnya.

Wilfred Ndidi, adalah gelandang Nigeria yang kini memperkuat Leicester City. Dia tidak dibesarkan di Ajegunle, namun pernah bermain melawan anak-anak dari kawasan kumuh itu saat dia dididik di akademi sepak bola di Lagos.

Dia meyakini Ajegunle bisa mencetak pesepakbola lihai karena anak muda di sana "bekerja keras, hidupnya sulit, sehingga mereka berupaya sangat keras dan menunjukkan penampilan terbaik."

Agar Ajegunle tetap memproduksi pemain-pemain berbakat, para pesepakbola asli kawasan itu bekerja sama menciptakan proyek pembinaan kaum muda.

Akpoborie kini membantu menemukan talenta baru, sedangkan Ighalo membangun panti asuhan di tengah-tengah Ajegunle.

Topik terkait

Berita terkait