Dikaitkan dengan skandal korupsi, sheikh Kuwait mundur dari jabatan sepak bola

Sheikh Ahmad al Fahad Al Sabah Hak atas foto Getty Images
Image caption Sheikh Ahmad Al-Fahad Al-Sabah menepis tudingan yang mengaitkan dirinya dengan skandal korupsi.

Salah seorang sosok berpengaruh dalam dunia olahraga, Sheikh Ahmad Al-Fahad Al-Sabah, mengatakan ia mundur dari seluruh jabatannya di sepak bola setelah dikait-kaitkan dengan skandal korupsi.

Sheikh Ahmad menegaskan ia tidak bersalah dalam kasus yang dihadapi oleh pejabat tinggi lain di Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA), Richard Lai. Pekan lalu dalam sidang di Amerika Serikat, Lai mengaku telah menerima suap US$950.000 atau sekitar Rp12,6 miliar, sebagian di antaranya berasal dari pejabat Kuwait.

Dokumen pengadilan dalam kasus Lai tidak secara langsung menyebut nama Sheikh Ahmad, 53, tetapi merujuk pada seseorang "dalam berbagai periode" adalah "pejabat tinggi FIFA, Asosiasi Sepak Bola Kuwait (KFA) dan Dewan Olimpiade Asia".

"Mengenai dugaan pembayaran kepada Richard Lai, saya hanya dapat merujuk pada pernyataan saya sebelumnya dan dengan tegas membantah telah berbuat salah," demikian pernyataan yang dikeluarkan oleh Sheikh Ahmad.

"Saya berniat bekerja sama dengan pihak-pihak terkait untuk membuktikan tuduhan-tuduhan, yang menurut saya, sangat mengejutkan.

"Namun demikian, saya tidak ingin tuduhan-tuduhan ini menimbulkan perpecahan atau menyita perhatian dari kongres Federasi Sepak Bola Asia (AFC) dan kongres FIFA," tambahnya dalam pernyataan tertulis.

Hak atas foto Reuters
Image caption Sheikh Ahmad A-Fahad Al-Sabah ketika menghadiri pertemuan FIFA di Zurich pada Oktober 2016.

Sebagai konsekuensinya, ia mengatakan tidak akan mencalonkan diri lagi dalam pemilihan Dewan FIFA.

"Oleh karena itu, setelah mempertimbangkan masak-masak, demi kepentingan terbaik FIFA dan AFC, saya mundur dari pencalonan Dewan FIFA dan mundur dari seluruh posisi saya di sepak bola."

Menanggapi pengunduran diri ini, presiden FIFA Gianni Infantino mengatakan keputusan pengunduran diri Sheikh Ahmad tidak mudah tetapi merupakan keputusan terbaik bagi badan sepak bola dunia itu.

Topik terkait

Berita terkait