Anak-anak Thailand selatan: Dari daerah konflik ke lapangan bola Inggris

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Anak-anak Thailand selatan diajak berkunjung dan berlatih di Leicester City.

Anak-anak dari Thailand selatan, kawasan mayoritas berpenduduk Muslim yang masih dilanda konflik, selama lebih 10 tahun terakhir mendapat kesempatan berlatih dan berkunjung ke klub-klub sepak bola Eropa, termasuk Inggris, dalam proyek yang disebut 'pahlawan'.

Setiap tahun, sekitar 25 anak dipilih dari lebih dari 1.000 yang mendaftar untuk mengikuti program pelatihan bola yang tahun ini dilakukan di Leicester City, juara Liga Primer Inggris tahun lalu.

Anak-anak berusia 12 tahun ini juga mendapat kesempatan menyaksikan tim utama latihan dan bertemu dengan sejumlah pemain Leicester City, termasuk Jamie Vardy, Ryad Mahrez dan Islami Slimani.

Penggagas proyek, Adul Maliphan, mantan atlet dan juga tentara dari Thailand Selatan, mengatakan proyek ini berangkat dari keprihatinannya menyaksikan konflik yang terjadi di daerahnya.

"Konflik merusak stabilitas sosial dan ekonomi...sehingga banyak yang mudah terjerat kejahatan dan obat bius," kata Adul.

Image caption Latihan bola di lapangan latihan Leicester City pada 4 Mei 2017 lalu.

"Saya mulai dari tak punya apa-apa dan kemudian mulai main bola dan dipilih menjadi pemain nasional...Saya dapat banyak kesempatan termasuk pergi ke luar negeri dan memiliki banyak peluang bagus," cerita Adul.

Image caption Supri (kanan) dan Fais menyaksikan tim utama Leicester City latihan.

Proyek ini ia mulai saat kembali ke Thailand selatan sekitar 20 tahun lalu setelah ia melihat buruknya fasilitas anak-anak di kawasan asalnya itu.

"Pada awalnya saya menjual barang-barang saya untuk membantu membeli baju dan kaus bola agar anak-anak (yang gemar bola) dapat berlatih," tambahnya.

Selang beberapa tahun kemudian setelah mendapatkan sponsor dari pemerintah dan pihak swasta, anak-anak yang sebagian besar dari keluarga tidak mampu dan juga anak-anak yatim piatu ini diajak ke klub-klub bola di Eropa, termasuk ke Spanyol dan Inggris.

Image caption Sebagian besar anak yang ikut dalam proyek ini berasal dari keluarga tak mampu.

Jadi pahlawan kecil

Setelah disaring - berdasarkan kemampuan bermain bola dan "berwatak baik"- anak-anak ini dilatih di kamp bola di Bangkok sebelum diberangkatkan ke Eropa selama sekitar 10 hari.

"Tujuannya adalah agar anak-anak ini dapat bertemu dengan pahlawan (idola bola) mereka dan mereka akan menjadi pahlawan kecil atau menjadi panutan anak-anak lain di daerahnya," kata Adul.

Mereka tak hanya dilatih bola, namun juga diberi beasiswa untuk sekolah sampai ke perguruan tinggi.

"Melalui proyek pelatihan bola ini, terbuka kemungkinan mereka dipilih menjadi pemain bola nasional, atau memiliki karier lain dan punya penghasilan bagus," tambah Adun.

Image caption Selfie bersama bintang Leicester City Riyad Mahrez.

Konflik berdarah di Thailand selatan - mencakup Provinsi Narathiwat, Pattani, Yala dan Songkla, sejak awal tahun 2000 diperkirakan telah menewaskan sekitar 6.500 orang -baik di kalangan aparat keamanan Thailand maupun warga sipil.

Image caption Penggagas proyek, Adul, berdiri baling belakang, kelima dari kiri.

"Selalu takut"

Fais, anak yang berasal dari Songkla, mengatakan dia tak pernah terbiasa mendengar bunyi tembakan dan bom.

"Terkadang kami mendengar bom atau bunyi tembakan... kami tak pernah terbiasa dan selalu takut," cerita Fais.

"Kami dilatih disiplin, sebelum berangkat ke Inggris, bangun pagi, makan harus habis, cuci piring, cuci baju, menghargai orang," kata Fais memakai kaus bertuliskan 'Jadilah orang berwatak baik dahulu, sebelum mahir dalam suatu bidang.'

Image caption Selain ke stadion Leicester City, mereka juga diajak ke stadion bola Liverpool dan Manchester United.

"Saat latihan di Bangkok, saya senang karena tak mendengar tembakan lagi dan... kalau saya besar dan sudah cari uang saya bawa keluarga saya pindah ke Bangkok," tambahnya.

Image caption Makan siang di stadion Leicester City, juara Liga Primer musim pertandingan lalu.

Sejauh ini lebih dari 3.000 anak dari 1.500 sekolah di Thailand selatan ikut dalam proyek 'Pahlawan' ini.

Topik terkait

Berita terkait