Manchester United bisa gagal rebut Liga Europa karena tekanan psikologis

Babak final Liga Europa Hak atas foto UEFA

Tekanan psikologis yang sangat besar bisa menggagalkan ambisi Manchester United menjuarai Liga Europa musim ini, kata mantan pemain United Phil Neville.

United turun menghadapi tim Belanda, Ajax, di laga puncak Liga Europa yang digelar Rabu (24/05) malam di Stockholm, Swedia, atau Kamis dini hari WIB.

Tekanan yang dimaksud Neville adalah tuntutan yang sangat besar untuk memenangkan pertandingan agar United mendapatkan tiket ke Liga Champions, setelah jatah otomatis lepas dari tangan menyusul kegagalan mereka masuk ke empat besar Liga Primer.

"Kekhawatiran saya adalah United terjun di final dengan beban yang sangat berat... andai saja mereka lolos ke Liga Champions, saya yakin para pemain akan tampil jauh lebih santai dan lebih tenang," kata Neville.

Hak atas foto PA
Image caption Jose Mourinho tiga kali masuk final kompetisi Eropa dan ketiga-tiganya berhasil ia menangkan: 2003 dan 2004 bersama FC Porto dan 2010 bersama Inter Milan.

Ia menggambarkan suasana mental para pemain United yang rentan terhadap tekanan, sementara lawan yang dihadapi adalah tim tangguh dan tak lagi memikirkan tiket ke Liga Champions, setelah berada di posisi dua klasemen akhir divisi utama liga Belanda.

"Terkait dengan Liga Champions ini, bagi Ajax final Liga Europa bukan segala-galanya. Ini berbeda dengan situasi yang dihadapi United," jelas Neville.

Meski menghadapi situasi yang berat, Neville yakin manajer Jose Mourinho dan seluruh pemain sudah menyiapkan diri dengan baik. Termasuk dengan memberi waktu istirahat yang cukup pemain-pemain kunci.

Faktor Ibrahimovic

Hak atas foto EPA
Image caption Mampukah para pemain Manchester United mengatasi 'beban berat' saat menghadapi Ajax di final Liga Europa?

Di luar persiapan mental dan fisik, Neville melihat momentum sebenarnya berpihak ke United.

Tim yang bermarkas di Old Trafford ini telah merebut dua trofi pada muism 2016-2017, yaitu Community Shield dan Piala EFL.

Rasa puas yang luar biasa setelah merebut piala bisa menjadi motivasi yang sangat besar bagi para pemain.

"Tak ada artinya masuk final tapi gagal meraih piala," kata Neville.

Filosofi inilah yang selalu disuntikkan Mourinho kepada para pemain bahwa inti dari bermain sepak bola adalah meraih piala.

"Kalau mereka menang, Mourinho bisa mengatakan bahwa ia meraih dua piala penting musim ini. Bagi saya, dua trofi lebih bermakna daripada berada di posisi dua, tiga, atau empat Liga Primer namun gagal meraih piala," katanya.

Piala adalah salah satu motivator terbaik bagi pemain.

Hak atas foto PA
Image caption Phil Neville dan para pemain Manchester United merayakan kemenangan di babak final Liga Champions pada 1999 dengan mengalahkan Bayern Muenchen.

"Piala bisa mendorong pemain untuk mencatat kesuksesan yang lebih besar. Itulah sebabnya mengapa mencatat kemenangan di babak final di Stockholm menjadi penting," kata Neville.

Selain faktor mental, Neville secara khusus menyayangkan Zlatan Ibrahimovic yang absen karena cedera, padahal di pertandingan besar seperti ini kehadiran pemain sekaliber Ibrahimovic sangat penting.

Ibrahimovic adalah tipe pemain yang sama sekali tak mengenal rasa takut dan baginya tak ada tekanan psikologis, yang bisa mempengaruhi penampilannya di lapangan.

Pemain asal Swedia ini sudah menyumbangkan dua trofi dan karena itu ketiadaannya akan menjadi kehilangan yang besar bagi United.

Tapi Neville yakin 'kemunduran ini' sudah diantisipasi oleh Mourinho, manajer yang sangat berpengalaman terjun di berbagai pertandingan final dan memenangkannya.

Berita terkait