Bisakah nama stadion tenis diganti terkait sikap anti LGBT?

Margaret Court Hak atas foto Getty Images
Image caption Margaret Court menjuarai tunggal Australian Terbuka sebanyak 11 kali.

Legenda tenis Australia Margaret Court menuding bahwa sebuah 'komplotan' dari 'kelompok lobi gay AS' berupaya mengganti namanya sebagai salah satu stadion tenis Australian Terbuka.

Perempuan berusia 74 tahun itu dikecam berbagai kalangan karena mengampanyekan penentangan terhadap perkawinan sesama jenis, mengakibatkan sejumlah pihak, antara lain juara Grand Slam 18 kali Martina Navratilova, menyerukan agar stadion Margaret Court Arena diganti namanya.

"Mereka punya uang yang banyak sekali,' kata Court kepada radio 3AW saat melontarkan tuduhan.

Court memenangkan 24 gelar Grand Slam, 11 di antaranya dimenangkannya di era Terbuka yang dimulai 1968.

Tentang seruan agar stadion yang menyandang namanya diberi nama baru, ia mengatakan, "Saya kira saya memenangkan gelar Grand Slam lebih dari semua perempuan lain, dan jika stadion itu diganti namanya, saya kira saya tidak layak diperlakukan seperti itu."

"Mereka bisa saja memperoleh 100.000 (penandatangan) petisi dalam 24 jam, mereka memang ahli, Mereka punya banyak sekali uang, dan semuanya datang dari Amerika."

Ditanya tentang kemungkinan konspirasi, ia menjawab, "Ya, saya kira begitu... Saya kira lobi kalangan gay, ya betul."

Tennis Australia dan operator Margaret Court Arena, Melbourne dan Olympic Parks, mengambil jarak dari pandangan Court tentang perkawinan sesama jenis; dan sejauh ini tak ada agenda pergantian nama itu.

Kontroversi ini bermula dari surat terbuka Margaret Court kepada surat kabar The West Australian, tatkala dia menyatakan sebisa mungkin tidak akan pernah lagi terbang dengan Qantas, sebagai protes pada sikap maskapai penerbangan Australia itu yang mendukung perkawinan sesama jenis. Ia kemudian juga menyatakan bahwa 'tenis perempuan penuh dengan kaum lesbian.'

Hak atas foto Getty Images
Image caption Navratilova adalah salah satu legenda tenis yang secara terbuka mengaku lesbian.

Martina Navratilova langsung menanggapi, "Jelaslah sudah siapa persisnya Margaret Court: seorang pemain tenis yang hebat dan seorang homofobi yang rasis."

"Pernyataan pedasnya bukan sekadar dalam opini. Dia aktif dalam upaya untuk mencegah LGBT mendapatkan hak-hak yang setara (catatan bagi Court: kami manusia biasa juga)."

Apartheid

Pada tahun 1970, saat politik pemisahan warna kulit, Apartheid, masih diberlakukan di Afrika Selatan, Margaret Court mengatakan bahwa, "Situasi rasial di Afrika Selatan dikelola lebih baik dari siapa pun, khususnya jelas lebih baik dibanding Amerika Serikat," katanya.

Namun Court menyangkal tudingan rasisme itu, denga menegaskan bahwa dia pernah bermain tenis bersama juara tujuh kali Grand Slam yang juga asal Australia, Evonne Goolagong, di Afrika Selatan.

"Evonne dan saya tampil di sana untuk kaum kulit hitam," tandasnya. Ia juga dikutip The West Australian, mengatakan bahwa "Ada 35 budaya berbeda di gereja saya, dan saya mengasihi semuanya. Saya kira sangat menyediahkan dan memuakkan bahwa hal ini dibahas sekarang."

Berita terkait