Di balik kekalahan nama-nama besar di Indonesia Open

badminton, kevin, marcus, all england Hak atas foto AFP
Image caption Kevin/Marcus saat merebut juara ganda putra All England 2017 di Birmingham, Inggris.

Tersingkirnya pasangan ganda putra unggulan Indonesia, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, menambah deretan kejutan dalam turnamen Indonesia Terbuka 2017.

Pada hari ketiga turnamen (14/06) di Jakarta Convention Centre (JCC), pasangan juara All England 2017 itu dikalahkan pasangan Denmark, Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen, dalam dua set langsung dengan skor 16-21, 16-21.

Sebelumnya, pasangan juara ganda campuran All England 2016, Praveen Jordan/Debby Susanto, juga tersingkir di putaran pertama setelah dikalahkan pasangan Denmark Mathias Christiansen/Sara Thygesen.

Kejutan berupa tersingkirnya sejumlah pemain unggulan ini tak hanya terjadi di tim Indonesia.

Pada hari yang sama, pasangan unggulan keempat Denmark, Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen, tersingkir dari turnamen setelah dikalahkan dua serangkai dari Hong Kong, Tang Chun Man/Tse Ying Suet.

Lalu di nomor tunggal putri, unggulan delapan Thailand, Ratchanok Intanon, ditundukkan Saina Nehwal dari India; dan unggulan ketujuh Cina He Bingjiao gagal mengatasi Sayaka Sato dari Jepang.

Deretan kejutan berlanjut hingga penghujung hari kedua, ketika unggulan dua turnamen asal Spanyol, Carolina Marin, pun tersingkir.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Christian Hadinata menduga bahwa kondisi angin di JCC mungkin menjadi faktor.

Christian Hadinata, staf ahli di pelatihan nasional (Pelatnas) bulu tangkis Indonesia Cipayung, mengatakan kepada BBC Indonesia bahwa persaingan sekarang ini sangat ketat, dan penerapan rally point scoring memungkinkan 'terjadi banyak kejutan'.

Dalam sistem yang diadopsi Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) pada 2005 itu, pemenang reli mencetak poin terlepas dari siapa yang melakukan servis.

Christian menambahkan bahwa kondisi angin di JCC mungkin menjadi faktor.

"Anginnya cukup mengganggu juga. Tapi ya semua pemain kan mengalami hal yang sama, jadi bagaimana para atlet kita bisa menguasai kondisi lapangan yang berangin," tuturnya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Unggulan delapan Thailand, Ratchanok Intanon, ditundukkan Saina Nehwal dari India di nomor tunggal putri.

Masalah ini juga diutarakan Marcus pada jumpa pers setelah pertandingan. Ia mengaku kesulitan mengantisipasi angin.

"Saya tidak dalam kondisi enak, angin susah, tapi tidak bisa menjadi alasan juga. Tadi banyak angkat bola padahal harusnya gerak terus karena angin jadi membuat bola out-out terus."

Selama ini, Indonesia Terbuka biasanya diadakan di Istora Senayan namun pada tahun ini stadion tersebut direnovasi dalam rangka persiapan Asian Games 2018 sehingga lokasi pertandingan dipindahkan ke JCC Plenary Hall, Senayan.

Puasa Sabtu-Minggu

Tantangan lainnya dihadapi para atlet yang beragama Islam: Indonesia Terbuka tahun ini diadakan bertepatan dengan bulan Ramadan.

Christian mengatakan jadwal pertandingan yang ketat memerlukan kondisi tubuh prima dan membuat beberapa atlet untuk sementara tidak menjalani ibadah puasanya pada hari-hari latihan.

"Dari hari Senin-Jumat, yang hari-hari latihan, biasanya mereka tidak berpuasa dulu. Tapi Sabtu-Minggu mereka bisa berpuasa.

"Dan mungkin nanti setelah pertandingan bisa dibayar," tuturnya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pemenang medali emas di Olimpiade Rio 2016, Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir jadi tumpuan harapan PBSI untuk meraih gelar juara di Indonesia Terbuka 2017.

Setelah Praveen/Derby gugur, pemain unggulan Indonesia yang diharapkan meraih gelar juara tahun ini tinggal ganda campuran pemenang medali emas di Olimpiade 2016 di Brasil, Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir.

Tontowi/Lilyana mengalahkan pasangan Korea Selatan, Kim Duk Young/Kim Ha Na pada babak pertama, Selasa (13/06).

"Kita berharap mereka bisa juara kali ini di 2017," kata Christian.

Tentang Indonesia Terbuka

Indonesia Terbuka pertama kali diadakan pada 1982. Turnamen internasional ini menjadi bagian dari BWF Super Series pada 2007 dan mendapatkan status Super Series Premier pada 2011.

BWF Super Series ialah rangkaian turnamen bulu tangkis elite yang didukung oleh Federasi Badminton Dunia (BWF). Satu musim Super Series terdiri dari 12 turnamen yang digelar di seluruh dunia, lima diantaranya tergolong Super Series Premier.

Turnamen berstatus Super Series Premier menawarkan poin peringkat dan total uang hadiah yang lebih besar. Pada Indonesia Terbuka tahun ini, pemenang akan membawa pulang $1 juta (Rp13,33 miliar) -yang paling tinggi di antara turnamen Super Series musim ini.

Indonesia Terbuka merupakan turnamen perorangan yang mempertandingkan lima nomor: tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran.

Delapan pemain teratas di setiap nomor akan mendapat undangan ke turnamen Final Super Series yang digelar pada akhir tahun.

Topik terkait

Berita terkait