Cara pesepakbola Muslim tetap bugar walau berpuasa

Pemain bola puasa Hak atas foto Getty Images
Image caption Ramadan dan waktu latihan yang disesuaikan menjadi tantangan bagi para pemain dan penggemar.

Sejumlah pertandingan persahabatan dan kualifikasi Piala Dunia 2018 digelar bulan ini, bersamaan dengan berlangsungnya bulan Ramadan, saat umat Islam di seluruh dunia menjalankan puasa.

Para manajer tim yang pemainnya sebagian besar terdiri dari umat Muslim harus menyesuaikan dengan kondisi pemain yang berpuasa sejak subuh sampai maghrib.

Pada ajang-ajang sebelumnya, seperti Olimpiade London 2012, Piala Dunia FIFA 2014, dan Kejuaraan Eropa tahun lalu di Prancis, para atlet Muslim telah merasakan kerasnya kompetisi saat Ramadan. Dengan hari-hari musim panas yang panjang di Eropa, kualitas kinerja pemain bisa menjadi masalah.

Selama Olimpiade London 2012, tim sepak bola Uni Emirat Arab menerima dispensasi khusus dari otoritas agama tertinggi di negara tersebut untuk tidak berpuasa pada hari pertandingan. Mesut Ozil yang membela tim nasional Jerman juga memilih untuk tidak berpuasa dalam ajang Piala Dunia 2014 di Brasil.

Meski demikian ada pula pemain yang berkeras untuk tetap berpuasa. Beberapa anggota tim nasional Aljazair, misalnya, berpuasa saat pertandingan terakhir mereka melawan Jerman, meski mendapat dispensasi khusus dari otoritas keagamaan. Salah satunya adalah kiper Rais M'bolhi, walau kemudian dia berbuka puasa dengan beberapa kurma dan minum air pada saat jeda.

Tahun ini, Ramadan berlangsung dari 27 Mei sampai 25 Juni dan banyak tim nasional dari Asia hingga Afrika yang menunda latihan sampai malam.

Tantangan berlatih di bulan puasa

Laga kualifikasi Piala Asia antara Palestina dan Oman di pinggiran kota Yerusalem awal pekan ini merupakan pertandingan yang menimbulkan tantangan luar biasa.

Asosiasi Sepak Bola Palestina awalnya menjadwalkan pertandingan hari Selasa (13/6) yang dimulai pada pukul 21.45 malam waktu setempat, kemudian memindahkannya ke pukul 22.45, dan memindahkannya lagi pada pukul 23.00.

Mereka memberikan kesempatan kepada tim dan para pendukung untuk berbuka puasa sebelum masuk ke stadion, namun secara tidak sadar hal itu membuat pusing para penggemar yang datang dari Jerusalem dan Ramallah.

Asosiasi Sepak Bola Palestina mencoba membujuk para penggemar bola untuk menyaksikan pertandingan dengan secara gratis. Namun karena butuh waktu lebih dari dua jam agar orang-orang yang datang dari ujung barat dan selatan Tepi Barat, serta kota-kota mayoritas Palestina di Israel bisa sampai di stadion, selalu ada kekhawatiran para pendukung timnas Palestina tidak bisa datang ke stadion dalam jumlah banyak.

Dari sudut pandang persiapan, baik Oman maupun Palestina memindahkan jam latihan dan pertandingan ke malam hari, sambil menyesuaikan kebiasaan dan diet.

Bader Aqel, salah seorang dokter dari Palestina, mengatakan penyesuaian ini dilakukan pada rutinitas tim nasional selama bulan Ramadan.

"Kami menekankan kepada para pemain agar mereka minum setidaknya tiga liter air setelah matahari terbenam untuk melawan efek dehidrasi."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Bulan Ramadan berlangsung dari tanggal 26 Mei sampai 24 Juni tahun 2017, merupakan masa perenungan, solat tarawih dan berpuasa.

Asupan makanan

Di luar bulan Ramadan, para pemain biasanya menyantap makanan prasmanan di hotel tim, tapi minggu ini Aqel dan seluruh tim medis memantau dengan saksama asupan makanan para pemain, memberi mereka piring dengan jatah tertentu untuk mencegah makan berlebih.

Mereka menyajikan makanan yang mengandung karbohidrat untuk semua pemain - seperti protein tanpa nasi putih dan campuran sayuran atau salad. Menu yang disajikan juga merupakan makanan yang mudah dicerna dan memberikan energi yang diperlukan saat bertanding.

Seringkali staf pelatih menyuruh para pemain untuk latihan di pusat kebugaran selama satu jam sebelum berbuka puasa untuk menaikkan metabolisme setelah seharian tidak makan dan minum.

"Yang terpenting bagi para pemain adalah jangan diam atau tidak beraktivitas di siang hari," tambah Aqel. "Kami ingin para pemain agar tidak terlalu banyak tidur (yang merupakan aktivitas umum selama bulan Ramadan)."

Sesi pelatihan Palestina berlangsung pukul 23.00 malam. Setelah itu, para pemain kembali ke hotel untuk menjalani terapi dan mandi es sebelum kemudian duduk bersama-sama untuk makan sahur menjelang fajar sekitar pukul 02.45.

Pim Verbeek - pelatih Belanda yang memimpin tim Oman - sebelumnya menghadapi tantangan serupa dengan tim U-23 Maroko dan telah menyesuaikan sesi latihannya untuk menyesuaikan diri dengan para pemainnya.

"Tentu saja berbeda, Anda berlatih sekali sehari. Idealnya Anda ingin berlatih dua kali sehari," katanya kepada BBC Sport. "Sesi malam kami bagus dan kami menghemat energi untuk pertandingan ini."

Menurut kapten tim Oman, Kiper Ali Al Habsi, latihan larut malam sangat ideal bagi para pemain - memberi mereka cukup waktu untuk mengisi dan mengistirahatkan tubuh mereka setelah berpuasa 17 jam yang dimulai pada pukul 03.50 dan berlanjut sampai pukul 19.45 waktu setempat.

"Periode dua minggu selama di kamp pelatihan membantu kami terbiasa dengan hal ini. Kami telah berlatih pada saat yang sama pertandingan akan berlangsung, jadi ini membantu kami mengatasi tantangan selama Ramadan," katanya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Al Habsi memutuskan untuk tidak puasa saat laga final Reading Championship di Eropa.

Toleransi antar pemain

Al Habsi adalah satu-satunya pemain yang harus membuat keputusan apakah harus berpuasa atau tidak saat bertanding di klub.

Selama 14 tahun bergabung dengan tim seperti Lyn Oslo, Bolton Wanderers, Wigan Athletic, dan Reading, masalah ini hanya terjadi sekali, yaitu saat dia memperkuat Reading melawan Huddersfield Town dalam pertandingan final Divisi 1 Liga Inggris bulan lalu. Al Habsi, yang merupakan mantan anggota pemadam kebakaran, memilih untuk tidak berpuasa.

Rutinitas timnas Palestina, yang berbeda dengan timnas Oman, tidak sama untuk semua pemain di kamp pelatihan.

Lima dari skuad mereka lahir di luar Palestina - empat dari komunitas Cile, sebagian besar Kristen, Palestina, dan Jaka Ihbeisheh, yang dilahirkan oleh seorang ibu Slovenia--ayah Palestina dan tidak berpuasa.

Untuk para pemain non-Muslim, sarapan dan makan siang tetap menjadi bagian dari rutinitas mereka di Palestine Plaza Hotel, Ramallah. Mereka tidak sekamar dengan para pemain yang sedang puasa.

Saat sebagian besar pemain dalam tim berjuang mengatasi rasa lapar dan haus di siang hari, lima pemain yang tidak berpuasa biasanya menghilangkan kejenuhan dengan berlatih di gym.

Beberapa diantaranya menyesuaikan rutinitas mereka dengan pemain yang berpuasa - bangun pada dini hari dan tidur sampai siang hari.

Makan sahur, yang disajikan di restoran hotel, menjadi ajang mengakrabkan diri dan bercanda dengan sesama setelah latihan, terapi dan mandi es, kebiasaan mandi yang merupakan pemulihan sehabis berlatih.

Dan saat pertandingan berlangung pada hari Selasa, kedua tim sepak bola ini sudah terbiasa dengan rutinitas yang ada.

Pertandingan yang dimainkan di bawah lampu sorot di Stadion Faisal Al-Husseini, menarik 11.000 orang pendukung yang memenuhi dua pertiga stadion yang berkapasitas 18.000 orang.

Jonathan Cantillana membuka skor untuk timnas Palestina dan serangan Yashir Pinto Islame dari tepi area penalti menggandakan keunggulan.

Oman membalaskan satu gol sebelum jeda melalui Ahmed Mubarak, namun tidak bisa menyamakan kedudukan.

Yashir Pinto Islame dari Palestina dinobatkan sebagai pemain terbaik. Dia memberikan apresiasi atas strategi staf pelatih yang membantu tim tetap fit walau sebagian besar berpuasa.

"Kami menyesuaikan latihan karena pemain yang berpuasa. dan staf pelatih melakukan pekerjaan yang fantastis. Dalam pertandingan, kami banyak berlari.

"Itu adalah pengalaman baru bagi saya tapi jujur saja, tidak begitu berbeda."

Topik terkait

Berita terkait