Kisah para perempuan Muslim Inggris yang berprestasi di bidang olahraga

Reshmin Chowdhury
Image caption Reshmin Chowdhury adalah presenter olahraga Muslim, kendati memantau perkembangan olahraga, ia mengaku tidak pernah berolahraga.

Reshmin Chowdhury adalah seorang Muslim yang berprofesi sebagai pembawa acara olahraga, dan ia juga ibu dari dua anak. Dalam rangka Pekan Olahraga Perempuan, ia melihat berbagai proyek yang melibatkan kalangan perempuan Asia, dan menampilkan mereka yang mendobrak penghalang dan membuka jalan bagi generasi berikutnya untuk menikmati permainan olahraga.


Kami perempuan-perempuan Muslim hadir dengan berbagai pandangan. Kami berasal dari budaya, komunitas dan latar belakang yang berbeda.

Kami memiliki selera dan minat yang berbeda tentang bagaimana kami menjalani hidup dan menentukan karir. Beberapa dari kami memakai jilbab, dan ada juga yang tidak mengenakannya. Sebagian dari kami punya mempunyai keluarga yang mendukung, sebagian tidak, dan yang lain menjalaninya saja.

Saya menerapkan pengalaman pribadi saya sebagai titik awal - dalam ironi sebagai wartawan olahraga yang tidak pernah benar-benar berolahraga.

Saya tumbuh dalam keluarga Muslim Bengali yang sangat berpikiran terbuka, progresif dan dalam komunitas generasi kedua yang sangat besar yang dibesarkan dengan pendidikan, budaya, agama dan musik sebagai pilar-pilar penyangganya.

Meski banyak menyaksikan pertandingan olahraga, namun tidak pernah menganggap penting untuk terjun bermain sendiri. Baru pada usia 30 an, setelah memiliki dua anak, saya mengubah pola pikir.

Awalnya menganggap olahraga tidak penting, kini latihan olahragamenjadi bagian integral dari kehidupan keseharian saya. Saya pergi ke pusat kebugaran lima kali seminggu dan mendapat manfaat yang lebih banyak untuk mental dan fisik. Saya tidak pernah menoleh ke belakang.

Hampir, kendati tak persis, ada kaitan serupa dalam pengalaman kami: mengenalkan olahraga kepada sekelompok perempuan yang tidak pernah mempertimbangkan untuk melakukannya. Dalam kasus Jaringan Perempuan Muslim, ini juga berlaku bagi perempuan yang menjadi korban-korban pelecehan.

Ketika konsultan olahraga Janie Frampton menjadi sponsor lembaga sosial yang berbasis di Birmingham, ia dan direktur eksekutif Faeeza Vaid memutuskan untuk membentuk sayap olah raga. Tujuannya adalah untuk menggunakan olahraga sebagai komponen penting dalam rehabilitasi korban.

Dengan adanya Kejuaraan Dunia Kriket Perempuan musim panas ini, mereka mengusahakan agar para perempuan menonton salah satu pertandingan paling ditunggu- Pakistan melawan India pada tanggal 2 Juli - dan meluncurkan skema yang ditargetkan yang dirancang khusus untuk mendorong keikut-sertaan mereka dalam olahraga.

Image caption Jaringan Perempuan Muslim, berbagi pengalaman tentang masalah-masalah yang dihadapi mereka.

Lantas bagaimana dengan kalangan perempuan yang tidak perlu didorong lagi?

Kami beruntung bertemu dengan sejumlah orang yang menginspirasi, yang tidak pernah melihat keunikan mereka sebagai penghalang untuk mencapai kesuksesan tingkat tinggi. Namun, yang paling penting adalah bahwa untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi, mereka memikul tanggung jawab untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan mereka

Pertama, adalah anggota Dewan di Yayasan Olahraga Perempuan (Women's Sport Foundation) yang juga mantan pembalap internasional, Dana Abdulkarim.

Dana Abdulkarim mendapat kehormatan menjadi atlet berhijab pertama yang mewakili Inggris di suatu kejuaraan olahraga dan kemudian menjadi guru olahraga pertama di Inggris yang berhijab. Ia mendobrak berbagai stereotip dan bahkan menata peraturan di olahraga kasti agar mengakomodasi pemakaian hijab.

Kriket jelas merupakan jenis olahraga yang banyak melibatkan perempuan Muslim di Inggris. Salah satunya, Salma Bi lahir, dalam lingkungan keluarga penggila olahraga kriket dan merupakan perempuan Islam pertama yang terpilih menjadi pemain klub Worcestershire.

Amna Rafiq, kak dari Azeem, pemain termuda yang menjadi kapten klub Yorkshire, mempunyai misi agar gadis-gadis remaja Asia Selatan lebih terlibat dalam olahraga. . Kedua perempuan tersebut meraih penghargaan atas upaya mereka.

Image caption Mantan atlet tim nasional Inggris, Dana Abdulkarim, harus mengatasi diskriminasi untuk memenuhi ambisinya agar bisa berolahraga.

Berikutnya adalah Anisa Ansar yang berusia 16 tahun, yang memecahkan rekor untuk kategorinya di Hampshire dan Inggris.

Tantangan yang mereka hadapi beragam. Namun, mereka semua harus beradaptasi untuk mengakomodasi dunia olahraga, bukan sebaliknya. Bagi Salma, kurangnya perempuan dalam olahraga membuatnya lebih bertekad untuk menjadi seorang pelopor.

Ia menggunakan fakta bahwa dirinya berbeda dari yang lain, sebagai hal yang menguntungkan, tapi mengaku harus bekerja dua kali lebih keras. Senada dengan itu, Anisa secara jujur mengakui betapa sulitnya untuk bisa masuk ke bidang olahraga yang masih didominasi kaum kulit putih dan kelas menengah, belum lagi biayanya yang mahal.

Berasal dari latar belakang yang kurang berada, berarti pula berurusan dengan hambatan yang sangat berbeda. Anisa juga mengenakan hijab, namun kemudian ia menyesuaikannya menjadi berbentuk bandana, yang membuatnya bisa memakai helm kriket. Demikian pula, Dana yang harus memperoleh izin untuk mengenakan hijab saat bermain kasti.

Jelas terdapat keinginan kuat dari berbagai pihak untuk membuat olahraga lebih terbuka bagi perempuan. Sebuah kampanye, The Girl Can membuktikan hal itu. Menjelang Piala Dunia, Badan Kriket Inggris (ECB) menyelenggarakan festival sofbol perempuan, sebuah inisiatif nasional untuk mendorong lebih banyak lagi perempuan bermain sofbol.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Salma Bi adalah perempuan Muslim pertama yang bermain kriket di bawah naungan klub Worcestershire.

Kampanye ini dan banyak program lainnya sangat dibutuhkan dan sangat disambut baik. Namun, tetap saja Muslimah yang ingin menekuni olahraga ke tingkat berikutnya, masih harus menghadapi berbagai tantangan pelik.

Pertama-tama mereka sudah menghadapi hambatan dari dalam komunitas: pilihan karir tidak konvensional tidak pernah mudah dijelaskan dan tidak semua orang bisa langsung mendukung, apapun latar belakangnya.

Namun, di dunia yang lebih luas, mungkin perlu ada pendekatan yang lebih terarah saat menawarkan fasilitas dan mengasah bakat nyata untuk mencapai tingkat elit tersebut.

Ini bukan ilmu pasti dan waktu pasti bisa menjadi faktor, tapi contoh Anisa muda makin mengukuhkan bahwa olahraga tingkat atas masih belum dipandang merupakan hal yang 'normal' bagi perempuan Muslim.

Olahraga tentu saja sudah melangkah jauh dan julukan perempuan 'keren' adalah bukti hidup dari apa yang bisa dicapai oleh perempuan dalam olahraga.

Tentu saja, sukses menghasilkan kesuksesan lain dan itulah sebabnya saya merasa bahwa merayakan kesulitan dan pencapaian kaum perempuan Muslim brilian ini sangatlah penting.

Saya hanya berharap saat putri saya yang sekarang berusia lima tahun ini nanti cukup umur, ia tidak ragu untuk mempertimbangkan karir di berbagai cabang olahraga, dan juga menikmati manfaatnya.

Topik terkait

Berita terkait