Rahasia keberhasilan Owi/Butet dan Ahsan/Rian maju ke final Kejuaraan Dunia 2017

bulutangkis Hak atas foto ANDY BUCHANAN/AFP
Image caption Di semifinal, Owi/Butet -demikian keduanya biasanya disapa- menyingkirkan Lee Chun Hei Reginald/Chau Hoi Wah, juga dengan dua set, 21-16 21-13.

Keberhasilan Tontowi/Liliyana Natsir dan Mohammad Ahsan/Rian Agung Saputro maju ke final Kejuaraan Dunia bulutangkis 2017 di Glasgow tak lepas dari persiapan khusus yang diambil tim ganda campuran dan ganda putra.

Pelatih ganda putra, Herry Iman Pierngadi, mengatakan kali ini lokasi latihan dan persiapan dipindah dari Pelatnas Cipayung ke kota Bandung.

"Kami kan sudah bertahun-tahun di Pelatnas, saatnya ganti suasana dan menyegarkan suasana psikologis pemain," ujar Herry kepada wartawan BBC Indonesia, Mohamad Susilo, di sela-sela penyelenggaraan di Glasgow. "Ternyata memang ada hasilnya."

Prestasi Ahsan/Rian bisa dikatakan sangat mengejutkan mengingat keduanya sama sekali tak diunggulkan.

Ahsan/Rian membungkam unggulan pertama dan di semifinal hari Sabtu (26/08) menyingkirkan pasangan kuat Jepang, Takeshi Kamura/Keigo Sonoda, dua set langsung 21-12 21-15.

Hak atas foto ANDY BUCHANAN/AFP
Image caption Ahsan/Rian mampu menerapkan strategi dengan baik di lapangan yang membuat Kamura/Sonoda tak berdaya setelah dipaksa bermain lebih lambat.

Herry mengatakan Ahsan/Rian mampu menerapkan strategi dengan baik di lapangan yang membuat Kamura/Sonoda tak berdaya setelah dipaksa bermain lebih lambat.

"Kami tahu lawan mengandalkan speed dan power. Makanya kami atur, kontrol pertandingan dan lebih banyak menempatkan bola-bola di depan net," kata Ahsan usai pertandingan.

Tempat latihan

Jika ganda putra memilih Bandung sebagai lokasi kamp, tim ganda campuran memilih kota Kudus, Jawa Tengah. Pelatih ganda campuran, Richard Mainaky, mengatakan bahwa di Kudus ada fasilitas lengkap dan di kota inilah ditempa aspek fisik dan teknik.

"Kami memakai metode ini sebelum Tontowi/Liliyana terjun di Olimpiade Rio 2016. Hasilnya, mereka merebut medali emas. Semoga prestasi yang sama terulang di Kejuaraan Dunia ini," kata Richard kepada BBC Indonesia.

Di semifinal, Owi/Butet -demikian keduanya biasanya disapa- menyingkirkan Lee Chun Hei Reginald/Chau Hoi Wah, juga dengan dua set, 21-16 21-13.

Hak atas foto ANDY BUCHANAN/AFP
Image caption "Kami tahu lawan mengandalkan speed dan power. Makanya kami atur, kontrol pertandingan dan lebih banyak menempatkan bola-bola di depan net," kata Ahsan usai pertandingan.

Tontowi mengatakan, sekarang tinggal selangkah dan secara pribadi ia ingin memberikan lagi kado indah untuk kemerdekaan Indonesia, seperti ketika merebut emas di Olimpiade Agustus tahun lalu.

"Kami akan tampil maksimal," katanya.

Liliyana menambahkan kendala terbesarnya adalah dirinya sendiri. "Kalau itu bisa diatasi, maka kami akan tampil tenang. Selain itu, komunikasi di lapangan juga harus berjalan baik," kata Lilyana.

Bagi Liliyana, Tontowi dan Ahsan Kejuaraan Dunia bukan turnamen asing. Keduanya sudah beberapa kali juara, sementara bagi Rian ini adalah finalnya yang pertama.

Berita terkait