SEA Games 2017: Mengapa sejak reformasi, prestasi Indonesia terus terpuruk?

sepak bola Hak atas foto MOHD RASFAN/AFP
Image caption Kekalahan timnas Indonesia oleh Malaysia di semi final SEA Games 2017 ikut menandai menurunnya prestasi Indonesia di ajang olah raga sewilayah Asia Tenggara itu.

Menjelang penutupan SEA Games 2017 di Kuala Lumpur, Senin (28/08) petang, Indonesia masih terpuruk di urutan lima dengan memperoleh 32 medali emas.

Dari kenyataan ini, target 55 medali emas untuk berada di posisi empat yang telah dicanangkan pemerintah Indonesia sepertinya sulit terealisasi.

"Di atas kertas, agak susah juga untuk meraih target," kata Teguh Handoko, wartawan olah raga kantor berita Antara, kepada BBC Indonesia.

"Kalau mau berada di peringkat empat, Indonesia harus menggeser Singapura yang selisihnya sudah 16 medali emas. Di atas kertas itu agak susah," ujarnya.

Hak atas foto ADEK BERRY/AFP
Image caption Presiden Joko Widodo dan sebagian atlit Indonesia yang akan berangkat ke SEA Games di Kuala Lumpur, awal Agustus 2017 lalu.

Dalam SEA Games ke-29 di Kuala Lumpur, Malaysia, Kontingen Indonesia mengirim 530 atlet resmi untuk mengikuti 36 cabang olah raga, dan pada beberapa cabang yang dijagokan -seperti bulu tangkis- target emas itu meleset, kata Teguh.

"Seperti cabang renang, kemudian juga cabang bulutangkis. Beberapa nomor di atletik, Indonesia juga tidak bisa banyak berbicara." .

Perolehan 32 medali emas ini tentu menunjukkan kecenderungan menurun jika dibanding perhelatan di Singapura, dua tahun lalu, ketika Indonesia mentok di peringkat lima dengan 47 medali emas.

Hak atas foto MANAN VATSYAYANA/Getty
Image caption Eko Yuli, lifter Indonesia, gagal meraih emas, setelah dikalahkan atlet Vietnam, Trinh Van Vinh, dalam pertandingan kelas 62 kg senior putra di SEA Games 2017.

Demikian pula, ketika digelar di Myanmar, 2013, Indonesia meraih 65 medali emas dan hanya berada di peringkat empat.

Kementerian Pemuda dan Olah Raga mengakui yang dicapai para atlit Indonesia sejauh ini dalam ajang SEA Games ke-29 di Malaysia, masih belum sesuai harapan.

"Masih jauh dari harapan, karena target semula di peringkat empat," kata Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga, Gatot S Dewa Broto, saat dihubungi BBC Indonesia melalui sambungan telepon.

Kemenpora berjanji akan melakukan evaluasi mengapa para atlit Indonesia gagal mencapai target yang dicanangkan pemerintah dalam pesta olah raga Asia Tenggara di Kuala Lumpur.

Indonesia pernah berjaya

Pesta olah raga antar negara-negara di wilayah Asia Tenggara digelar sejak 1959, dan Indonesia mulai terlibat sejak SEA Games 1977 di Kuala Lumpur -dan Indonesia saat itu langsung juara umum.

Dalam tiga ajang berikutnya (1979, 1981, 1983), Indonesia berturut-turut menjadi nomor satu, mengungguli Thailand yang dulunya sempat mendominasi.

Hak atas foto ROSLAN RAHMAN/AFP
Image caption Pada SEA Games di Palembang dan Jakarta 2011, Indonesia kembali berjaya, tetapi kemudian prestasinya terus merosot.

Kecuali kalah oleh Thailand di SEA Games 1985 (yang digelar di Bangkok) dan 1995 (di Chiang Mai), Indonesia kembali berjaya di ajang yang sama pada 1987, 1989, 1991, 1993 dan 1997.

"Memang dulu kita 10 kali menjadi juara umum ya, tetapi trendnya setelah reformasi, (prestasinya) anjlok sekali," kata Gatot S Dewa Broto.

Pada SEA Games di Palembang dan Jakarta 2011, Indonesia kembali berjaya, tetapi kemudian prestasinya terus merosot. Pertanyaannya, mengapa itu bisa terjadi?

Hak atas foto AFP
Image caption Presiden Filipina, Corazon Aquino membuka SEA Games 1991 di Manila, Filipina, ketika Indonesia akhirnya kembali menjadi juara umum.

"Indonesia saat itu lebih siap, utamanya segi pembinaannya, mulai di daerah kemudian ke pusat. Saat itu dukungan (anggaran) pemerintah juga maksimal," kata wartawan olah raga Kantor Berita Antara, Teguh Handoko.

Dukungan anggaran dari pemerintah di balik kisah prestasi olah raga Indonesia di masa lalu itu juga diamini oleh Gatot Dewa Broto, namun yang terjadi sekarang, lanjutnya, tidak ada dukungan anggaran yang signifikan.

"Karena sekarang politik anggaran berbeda. Dulu di zaman Orde Baru beda ya. Pemerintah menetapkan angka (anggaran) sebesar X, itu tidak ada satu pihak pun yang menentang," kata Gatot.

Sekolah olah raga?

Ivana Lie, kelahiran 1960, adalah atlit bulu tangkis Indonesia yang pernah meraih medali emas di SEA Games 1979 dan 1983 di nomor tunggal putri.

Menurutnya, kejayaan olah raga Indonesia di ajang SEA Games tidak terlepas keseriusan pemerintah Indonesia, antara lain dengan mendirikan sekolah khusus untuk atlet olah raga berprestasi di Ragunan, Jakarta.

"Saya adalah satau-satu atlet jebolan Ragunan," tegas Ivana kepada BBC Indonesia.

Hak atas foto PB Djarum
Image caption Ivana Lie adalah atlet bulu tangkis Indonesia yang pernah meraih medali emas di SEA Games 1979 dan 1983 di nomor tunggal putri.

Keberadaan sekolah olah raga itu, menurut Ivana, kemudian ditiru dan dikembangkan lebih lanjut oleh negara-negara seperti Singapura dan Thailand, dengan menambahkan pendekatan ilmu pengetahuan dan perbaikan manajemen.

Melalui manajemen olah raga dan pendekatan sains, lanjutnya, negara-negara itu mampu menyalip Indonesia. "Mereka berhasil menghasilkan pemain-pemain talenta muda di semua cabang olah raga."

"Dan rasanya kita ketinggalan. Misalnya, kita enggak punya pusat latihan. Para atlet latihan kemana-mana. Padahal Singapura atau Malaysia punya pusat latihan seperti itu," kata Ivana.

"Sementara yang saya dengar, kita dari tahun ke tahun selalu masalah dana, uang saku, bantuan alat, terlambat, ada yang enggak ada, try out enggak jadi. Ini yang saya maksud manajemen," tambahnya.

Infrastruktur dan jalan keluar

Sesmenpora Gatot S Dewa Broto mengakui Indonesia dahulu mampu berjaya karena negara-negara tetangga belum menggunakan pendekatan ilmu pengetahuan untuk mengembangkan pembinaan olah raganya.

"Dahulu peta kekuatan di negara-negara Asia Tenggara itu, dinamikanya tidak setajam sekarang. Sekarang penggunaan sport sains banyak sekali," kata Gatot.

Faktor lainnya adalah pembangunan infrastruktur olah raga, yang menurut Gatot, Indonesia kini jauh tertinggal dibandingkan dengan sejumlah negara di wilayah Asia Tenggara.

Hak atas foto Kompas
Image caption Presiden Joko Widodo meninjau langsung proyek pembangunan Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional di Bukit Hambalang, pertengahan Maret 2016.

"Sebagai contoh, kita baru membuat satu (pusat pembinaan olah raga terpadu) Hambalang saja susah, kemudian ada masalah hukum," kata Gatot seraya menambahkan, Thailand sduah memiliki setidaknya enam pusat olah raga serupa.

Sebagai jalan keluar, menurut Gatot, pemerintah Indonesia harus menambah anggaran untuk membangun olah raga Indonesia.

Dia kemudian mencontohkan kebijakan yang ditempuh pemerintah Malaysia dalam memajukan bidang olah raganya.

"Malaysia itu setiap tahun anggarannya itu tiga triliun rupiah untuk program kayak Program Indonesia emas (Prima). Sementara di Indonesia, tiap tahun rata-rata sekitar lima ratus miliar," ujarnya.

Berita terkait