Terbaru  18 Juni 2010 - 12:06 GMT

Apakah Argentina Brasil baru?

ANALISA

Argentina Maradona Messi

Piala Dunia memang masih di babak awal, tetapi satu hal yang mulai terlihat jelas dari dua pertandingan yang telah dijalankan - Argentina datang untuk menghibur penggemar bola dan juga mencoba memenangkan Piala Dunia.

Dua hal yang sejak dulu menggambarkan tim Brasil itu, kini digenggam oleh Argentina. Apakah Argentina adalah Brasil baru?

Dipimpin oleh pelatih yang flamboyan dan penuh kontroversi Diego Maradona, tim Albiceleste sejauh ini berhasil menampilkan permainan indah dan penuh serangan yang jarang ditampilkan tim lain dalam turnamen ini.

Benar, tim ini memiliki kelemahan terutama di barisan pertahanan yang terlihat jelas saat mengalahkan Korea Selatan 4-1, di mana Martin Demichelis gagal mengambil keputusan yang cepat dan lugas untuk menghalau bola.

Di barisan pertahanan bagian kanan, tim ini juga tampak lemah. Ada kabar bahwa manajer Newcastle Chris Hougton "kaget" mendengar Maradona memilih pemain tengah Jonas Gutierrez untuk menempati posisi itu saat pertandinga pembuka melawan Nigeria. Dan posisi itu dipertahankan dalam pertandingan melawan Korea Selatan.

Keraguan akan kesiapan kiper Sergio Romero juga ada, dengan rekor memperkuat tim nasional sebanyak delapan kali kiper berusia 22 tahun ini memang belum mendapat tekanan serius karena sejauh ini Argentina mendominasi pertandingan di Grup B.

Akan tetapi dalam turnamen Piala Dunia yang kurang diwarnai dengan keberanian bertaruh, tim asuhan Maradona ini bisa membuat penonton melihat sesuatu yang berbeda.

Menyerang

Sejalan dengan pemilihan pemain oleh pelatih Brasil, Dunga, yang diambil berdasarkan keinginan menempatkan pemain tengah yang bisa juga membantu barisan pertahanan yang solid dan bisa diandalkan, Maradona menyusun timnya berdasarkan kemampuan mereka menciptakan gol.

Dengan memilih enam striker, yang secara keseluruhan mencetak 170 gol dalam 12 bulan, Maradona mengirim satu pesan kepada 31 peserta Piala Dunia bahwa timnya tidak takut untuk menerapkan permainan menyerang.

Pelatih Argentina ini beruntung, karena tidak ada pelatih lain yang memiliki satu pasukan pemain depan mematikan seperti itu, termasuk Lionel Messi. Dia seringkali dikritik karena prestasinya di tim nasional namun di Piala Dunia kali ini dia tampil dengan permainan yang menggambarkan ambisi untuk menjadi juara.

Argentina Lionel Messi

Maradona dikritik keras karena tidak berhasil memanfaatkan kemampuan Messi secara maksimal di babak kualifikasi, namun dia memberi peran yang lebih bebas di lapangan di Afrika Selatan dan menggiringnya sebagai pemimpin tim seperti kita dia mengambil jabatan itu di Piala Dunia Meksiko 1986.

Hubungan antara keduanya sejak lama menjadi sorotan, namun sejauh ini hubungan mereka di Piala Dunia tampak semakin mendekati kesempurnaan, yang bisa dilihat dari aksi Maradona menggendong Messi dan memeluknya ketika peluit akhir pertandingan melawan Korea Selatan berakhir.

Setelah pertandingan pertama melawan Nigeria, Maradona mengindikasikan rencananya: "Saya ingin Messi lebih dekat ke bola. Sepanjang dia menikmati permainan, kita semua akan bisa bermain bebas. Sepakbola tidak akan indah kecuali Messi mendapat bola sepanjang waktu."

Memang setiap kali Messi menguasai bola di stadion Soccer City saat melawan Korea Selatan, muncul perasaan penuh antisipasi dari 82.174 penonton yang hadir.

Dengan memasangkan Messi bersama Carlos Tevez, Gonzalo Higuain dan Angel di Maria, potensi serangan Argentina memang menakutkan, terutama ketika Sergio Aguero diturunkan di babak kedua.

Tetapi selain dipenuhi pesepakbola berkualitas dunia ini, satu hal yang juga penting adalah kerajinan tim Maradona menutup lapangan, merebut bola kembali ketika mereka kehilangan penguasaan dan membuat lawan merasa panik sehingga membuat banyak kesalahan.

Dibawah pimpinan Tevez yang tidak kenal lelah, ini adalah barisan depan rajin dan efektis yang seringkali mirip dengan gaya klub Messi, Barcelona.

Tim ini memang mendominasi penguasaan bola dalam setiap pertandingan yang mereka lakukan, tetapi lihat saat mereka tidak memegang bola -saat itulah mereka benar-benar mematikan lawan.

Perilaku ini tidak akan keluar ketika satu tim tidak bermain demi manajer mereka. Satu hal lagi yang bisa dilihat di dalam dan luar lapangan -setelah melalui masa-masa sulit di babak kualifikasi- para pemain Argentina ini tidak hanya mengagumi manajer mereka, tetapi juga mempercayainya untuk mengambil keputusan yang tepat.

STATISTIK

Untuk melihat skor langsung dan klasemen fungsikan javascript

Untuk melihat skor langsung dan klasemen fungsikan javascript

BBC navigation

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.