Terbaru  22 Juli 2010 - 17:05 GMT

Seruan ulama malaysia diabaikan

Man United

Penggemar bola Malaysia, terutama penggemar Manchester United, menolak seruan ulama yang meminta agar penggemar bola tidak mengenakan kaus yang mempunyai simbol yang dinilai tidak Islami.

Seruan itu dikeluarkan oleh Majlis Agama Islam Negeri Johor terutama menyebut kaus Manchester United yang mempunyai simbol setan merah maupun kaus-kaus yang memasarkan barang-barang haram seperti bir, rumah judi maupun tanda salib.

Lewat situs jejaring sosial Facebook dan Twitter para penggemar bola ini meluncaskan kekesalan mereka.

''Mungkin para pemimpin agama itu pendukung Liverpool,'' tulis seorang penggemar Manchester United dengan sarkastik di Twitternya. Liverpool adalah rival abadi Manchester United.

Untuk melihat materi ini, JavaScript harus dinyalakan dan Flash terbaru harus dipasang.

Tukar format AV

Yang lain menulis, ''Mengapa ini menjadi masalah setelah Manchester United berulang kali menjadi juara? Apa mereka tidak menonton bola sebelumnya?'' Sharifah Shahidah, penggemar berat klub itu sekaligus seorang programer komputer di Twitternya seperti dikutip kantor berita Prancis, AFP.

''Apakah saya harus menutup emblem kaus milik saya maupun anak saya dengan bunga,'' tambahnya lagi.

Lagu lama

Seorang penggemar sepakbola Malaysia Johan Arief kepada BBC Indonesia mengatakan apa yang disampaikan oleh para ulama itu sebenarnya ulangan dari apa yang telah mereka katakan pada tahun 1999 ketika Manchester United pertama kali datang ke Malaysia.

''Saya tidak tahu mengapa mereka mengatakan itu lagi sekarang?''katanya. ''Menteri-menteri kita pun pakai itu jersey red devils, jadi tak tahulah macam apa mereka keluarkan fatwa itu.''

Menteri-menteri kita pun pakai itu jersey red devils, jadi tak tahulah macam apa mereka keluarkan fatwa itu

Johan Arif

Menurut seorang blogger olahraga terkenal Malaysia, Rizal Hashim, para ulama sebetulnya bukan mengeluarkan fatwa tetapi lebih pada teguran karena mengkhawatirkan penggemar sepakbola menjadi syirik atau menduakan tuhan dengan pemakaian kaus-kaus itu.

''Para ulama melihat jumlah pemakainya begitu banyak dan terus bertambah lalu mereka seperti mengiklankan logo-logo yang tidak mencerminkan opribadi mereka sebagai seorang muslim,'' jelas Rizal Hashim kepada BBC Indonesia.

Lalu apakah dengan demikian berarti ummat Islam Malaysia akan mengikuti teguran itu?

''Musim kompetisi kan baru mulai, jadi di jalan-jalan memang belum banyak yang memakai kaus itu. Tetapi kalau nanti sudah dimulai bulan Agustus, pemakainya akan tetap banyak.''

BBC navigation

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.