Kompetisi LPI bergulir

lpi
Image caption Penonton memadati stadion Manahan, Solo untuk pertandingan pertama LPI.

Kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI) mulai bergulir, setelah Sabtu (8/01) dilakukan pertandingan pembukaan antara Solo FC melawan Persema FC di Stadion Manahan Solo.

Pertandingan ditengah hujan deras ini, berakhir 1-5 untuk kemenangan tim tamu Persema FC. Bintang Persema Irfan Bachdim mencetak dua gol di pertandingan ini.

Stadion Manahan yang berkapasitas 25.000 orang penuh dengan penonton yang menyaksikan pertandingan maupun upacara pembukaan.

Acara pembukaan hanya berlangsung lima belas menit, dan diisi dengan tarian dari seribu lima puluh penari yang menampilkan seni topeng ireng, karnaval batik dan defile Pasukan Keraton Surakarta, Jogo Boyo.

Arifin Panigoro, chairman LPI, hadir beserta Walikota Solo Joko Widodo dan Ketua PSSI Solo FX. Hadi Rudyatmo. Grup musik Slank juga hadir meski tidak bernyanyi. Sementara undangan lain, seperti Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Menpora Andi Malaranggeng, dan Ketua Umum PSSI Nurdin Halid tidak hadir.

Juru Bicara LPI, Abi Hasantoso mengungkapkan rasa syukurnya karena LPI akhirnya resmi bergulir, setelah sebelumnya dihadang masalah perizinan.

Abi juga mengatakan, LPI juga sudah mendapatkan izin kepolisian untuk pertandingan berikutnya di Bojonegoro antara Persibo Bojonegoro melawan Batavia Union, Minggu (9/01).

Untuk pertandingan di Surabaya antara Persebaya FC melawan Bandung FC, Senin (10/01), LPI akan segara bertemu dengan Polda Jatim untuk berbicara soal izin pertandingan.

Abi menjamin, semua pertandingan yang telah disusun oleh LPI akan berlangsung sesuai jadwal.

''Ini hanya masalah waktu saja, karena izin keramaian sudah kami dapatkan dari Mabes Polri. Kami hanya perlu mengkomunikasikan kembali dengan kepolisian di daerah,'' kata Abi.

Selain itu menurutnya LPI juga akan mendatangi dan berdialog dengan semua pihak yang dibutuhkan untuk bisa menyelenggarakan pertandingan LPI, termasuk dengan cabang-cabang PSSI di daerah-daerah. “ Pertandingan ini ditonton oleh 22 ribu orang. Ini luar biasa sebagai pertandingan pembuka. Ini juga gambaran antusiasme masyarakat pada LPI, “ jelas Abi.

Hal yang sama juga dikatakan Pelatih Persema FC Timo Scheunemann dan CEO Solo FC Kesit Budi Handoyo.

''Pertandingan pembukaan ini adalah awal bagi bergulirnya liga reformasi, yang akan memajukan klub-klub menuju sepakbola industri di Indonesia. Sudah saatnya sepakbola Indonesia berubah profesional tanpa asupan APBD dan menjadi industri yang menguntungkan,'' kata Timo.

Berat sebelah

Pertandingannya sendiri berjalan seru walau perbedaan kelas akhirnya tidak bisa dipungkiri.

Tim tuan rumah Solo FC yang didominasi pemain muda tidak mampu menahan permainan Persema FC, yang dimotori mantan gelandang Timnas Indonesia Bima Sakti dan striker timnas Irfan Bachdim.

Sepanjang pertandingan, Persema terus mengurung pertahanan Solo FC. Solo FC yang hanya menurunkan pemain lokal hanya bisa menyerang secara sporadis.

Dengan mengandalkan permainan cepat dan umpan-umpan terobosan, Laskar Ken Arok (Julukan Persema) sudah unggul 3-0 di babak pertama, lewat Jaya Teguh Angga, menit 19 dan dua gol Irfan Bachdim, menit 27 dan 40.

Dua gol Persema FC lainnya dicetak pemain asing Robbie Gaspar menit 48 dan M. Kamri, di menit 73. Tim Ksatriya XI (Julukan Solo FC) memperkecil kekalahan jadi 1-5 lewat gol Juned, di menit 76.

CEO Solo FC Kesit Budi Handoyo mengaku, timnya kalah kelas. Apalagi, Solo FC tidak diperkuat 2 pemain asingnya asal Astralia, kiper Alexander Vrteski dan gelandang David Micevski, karena izin kerjanya belum turun.

''Persema memberi pelajaran berharga pada kami sore ini. Kami belajar banyak dengan kekalahan ini. Tapi kami yakin akan segera bangkit. Apalagi di pertandingan berikutnya dua pemain asing Solo FC sudah bisa turun,'' kata Kesit.

Pelatih Persema FC Timo Scheunemann memuji wasit Viator Ambarita dan asisten wasitnya, karena mensyahkan gol kedua Irfan Bachdim yang berada dalam posisi off side pasif.

''Baru kali ini saya melihat wasit Indonesia paham dengan aturan off side pasif, seperti gol Irfan. Kalau bukan di LPI, saya pikir wasit akan menganulir gol itu karena menganggapnya off side. Apalagi gol itu membuat tuan rumah semakin kalah,'' jelasnya.