Perlunya Man City mengalahkan Man United

Roberto Mancini Hak atas foto g
Image caption Roberto Mancini ingin Man City torehkan sejarah baru

Bagi penggemar bola ada sebuah buku menarik untuk dibaca. Kisah mengharukan seorang bocah yang jiwanya goncang ketika ibunya meninggal mendadak saat ia masih kecil dan perlahan bangkit kembali ketika menemukan cintanya untuk sebuah klub sepakbola bernama Manchester City.

Klub tersebut membantunya melewati masa-masa kesepian dan pencarian diri di tahun 60an. Namun seiring waktu ia tersadarkan, ia jatuh cinta dengan klub yang ''salah''. Adalah klub tetangga sekaligus musuh paling bebuyutan yang terus menerus meraih sukses, Manchester United. Namun kecintaannya pada Manchester City tak tergerus, meski ia bertanya-tanya mengapa sebuah kesetiaan untuk klub sepakbola sama lekatnya dengan kesetiaannya untuk agama. Mengapa sulit sekali untuk pindah mendukung klub lain? Apalagi berpindah mendukung klub musuh bebuyutan, sebuah kemurtadan yang tak terampuni.

Buku itu sebuah kisah nyata, sebuah otobiografi penulisnya, Colin Shindler. Ia sebetulnya tidak melulu berbicara tentang sepakbola, boleh dibilang 50:50 adalah cerita tentang kehidupan pribadinya yang tak terkait dengan sepakbola. Tetapi ia tak mampu untuk melepaskan diri dari sepakbola, Manchester City dan Manchester United. Bahkan ketika ia hendak menerbitkan buku itu, ia kembali dicengkeram. Penerbit buku mengatakan memberi judul ''Bagaimana Manchester United menghancurkan hidupku'' akan lebih laris ketimbang menggunakan judul yang ada Manchester City-nya.

Sebuah ironi yang membuat penulisnya tertawa getir tetapi tak bisa berbuat banyak. Seolah belum cukup deraan kesuksesan prestasi Manchester United di lapangan menyakiti hatinya, bahkan untuk menerbitkan bukupun ia harus meminjam nama klub yang di''benci''nya agar bisa laris.

Hegemoni Man United

Hak atas foto b
Image caption Wayne Rooney akan absen dari derby Manchester

Tulisan ini bukan dimaksudkan sebuah resensi terhadap buku yang berjudul asli Manchester United Ruined My Life. Namun buku itu seperti menjadi gambaran bagaimana luarbiasanya hegemoni Manchester United terhadap Manchester City. Serta, sebuah gambaran yang menjelaskan mengapa pertemuan kedua kesebelasan menjadi begitu ramai dengan dua alasan yang sangat berbeda. United ingin melestarikan hegemoni itu sekaligus mendudukkan City pada posisi sekadar pelengkap penderita di kota Manchester. Sementara City berusaha sekuat tenaga menghancurkan inferioritas dengan segala atribut tambahan tak sedap yang menempel.

Pertemuan keduanya di semifinal Piala FA mendapat bumbu tambahan yang menarik. City tidak ingin mimpi treble United untuk tetap hidup. Sementara United tidak ingin City mempunyai kesempatan untuk meraih piala sejak terakhir sekali memenangkan Piala FA tahun 1976 lalu.

Sayangnya dua pemain paling penting di dua kesebelasan ini tidak bermain, Wayne Rooney untuk Manchester United karena terkena hukuman dan Carlos Tevez untuk Manchester City karena cedera otot paha belakang. Kedua pemain ini disamping mempunyai kelebihan tekhnis, juga sama-sama ngotot sehingga mampu membangkitkan semangat tim. Namun percayalah, tanpa kedua pemain tersebut, pertandingan akan tetap berjalan menarik dan biasanya berjalan dengan tempo super tinggi.

Karakter

Ada kebiasaan menarik dari pelatih Man United, Alex Ferguson menghadapi pertandingan seperti ini, juga kalau kebetulan bertemu Liverpool, yaitu menurunkan pemain asli Manchester. Alasannya sederhana, pemain asli Manchester tidak perlu dimotivasi karena mereka sudah tahu taruhan yang harus mereka hadapi kalau kalah. Dari gengsi yang hilang, muka yang tercoreng hingga ejekan akan terus mengikuti di penjuru Manchester manapun mereka berada.

Pemain-pemain asli Manchester inilah yang setiap pertandingan kedua kesebelasan terjadi, yang degup permainan Man United. Satu dua mungkin standarnya lebih rendah dari yang lain, tetapi yang kurang dari segi teknis membayar dengan menjadi tukang pikul air yang tak mengenal lelah untuk rekan-rekannya yang lebih berbakat.

Rata-rata pemain Man City mungkin bukan pemain veteran derby Manchester sehingga perangai mereka belum semuanya langsung bisa dibaca seperti rata-rata pemain Man United. Tetapi pemain Man City hampir semuanya adalah pemain berprofil internasional yang tidak diragukan kemampuan bermain bolanya. Bahkan dipukul rata, seharusnya kualitas individu boleh dikata di atas sedikit dari Man United atau katakanlah sama. Kesempatan mereka untuk memenangkan pertandingan ini sangat besar.

Yang menjadi persoalan hanyalah motivasi. Seberapa teguh motivasi pemain Man City untuk menghancurkan hegemoni Man United, menghancurkan inferioritas klub tempat mereka bermain, menyalurkan rasa frustasi pendukung klub untuk bisa berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan pendukung Man United? Kalau saja semua pemain Man City berkesempatan membaca buku Colin Shindler.....

Berita terkait