GP batal, Bahrain sangat dipermalukan

Bahrain berharap banyak dengan menjadi tuan rumah balap Grand Prix Formula 1 Hak atas foto BBC World Service
Image caption Bahrain berharap banyak dengan menjadi tuan rumah balap Grand Prix Formula 1

Jika, seperti disetujui oleh Bernie Ecclestone, Grand Prix Bahrain tidak akan dilaksanakan bulan Oktober, itu merupakan tamparan besar dan memalukan bagi negara Arab di pulau kecil itu.

Kenyataan bahwa sirkit Formula 1 dituliskan di sebagian besar rambu jalan di Manama, bukan hal yang mengherankan. Menjadi tuan rumah F1 merajut visi yang digariskan oleh Bahrain sendiri, yaitu kerajaan yang menyerap modernitas, namun tetap melestarikan warisannya.

Sulit menyembunyikan kebanggaan yang diarsakan oleh sebagian besar rakyat Bahrain ketika mereka membicarakan bagaimana negara mereka bisa menjadi tuan rumah untuk balap Formula 1 untuk pertama kali di Timur Tengah sejak 2004.

Ada perasaan puas karena bisa kembali meletakkan Bahrain di peta dunia.

"Tunjukkan kepada saya perhelatan lain yang bisa memperkenalkan Bahain kepada 200 juta sampai 300 pemirsa di seluruh dunia." Begitu kata kepala eksekutif Sirkit Internasional Bahrain, Salman bin Isa al-Khalifa kepada saya, menjelaskan betapa pentingnya F1 ketika saya berkunjung ke negaranya pekan lalu.

"Bayangkan, ini akan memberikan kesempatan untuk berdiri sejajar dengan sekitar 20 negara, termasuk diantaranya Cina, Inggris atau Jerman," katanya menambahkan.

Lambang pemulihan

Hak atas foto AP
Image caption Hari-hari ini aksi protes di Bahrain sudah reda, namun dampak negatifnya masih dibicarakan dunia

Dan hampir pasti promosi dunia yang diberikan F1 untuk pulau kecil yang luasnya hanya 717 km persegi dan dengan jumlah penduduk 800.000 itu, membuat peristiwa ini sangat penting bagi Kerajaan Bahrain.

Tetapi itu tidak berarti proyek F1 di Bahrain ini tidak menimbulkan silang pendapat di dalam negara itu sendiri. Sirkit yang dibangun selama 16 bulan, yang merupakan rekor terlama pembangunan sirkit, menuai kritik karena menelan biaya sangat besar bagi kerajaan yang tidak memiliki sumber minyak yang sama seperti tetangga-tetangganya yang lebih besar.

Tetapi di Bahrain, para pembela F1 menekankan bahwa pendapatan finansial dari perhelatan ini layak memerlukan investasi besar, khususnya untuk jangka panjang.

Menurut al-Khalifa, pemasukan uang langsung F1 berkisar antara $130 juta sampai $200 juta per tahun. Pemasukan ini tidak mencakup keuntungan tak langsung bagi perekonomian secara keseluruhan.

Semua perhitungan ini berlaku dalam keadaan normal. Sedangkan saat ini F1 terjepit di tengah krisis politik dan keamanan yang paling berat bagi Bahrain.

Hal yang selama ini dilihat sebagai lambang pemulihan Bahrain, sekarang berubah menjadi sesuatu yang memalukan bagi seluruh dunia.

Setelah ditolak oleh para pengemudi top dan tim-tim kuat cabang olah raga ini, sulit bagi kerajaan tersebut untuk memulihkan balap bergengsi itu.

Berita terkait