GP Bahrain: Batal, tidak, batal, tidak

Terbaru  20 April 2012 - 17:36 WIB
Pengamanan di Sirkuit Sakhir, Bahrain.

Pengamanan diperketat di Sirkuit Sakhir, Bahrain, dan kawasan sekitarnya.

Hingga Jumat 20 April, agaknya cara menghitung tokek cukup tepat untuk mengetahui apakah balapan F1 di Sirkuit Sakhir Bahrain akan tetap digelar atau tidak.

Sesi latihan Jumat sudah berlangsung dan pembalap McLaren, Lewis Hamilton, mencatat waktu tercepat dalam latihan pertama, mengalahkan juara 2010 dan 2011, Sebastian Vettel.

Federasi Motor Dunia, FIA, dan orang yang memegang hak pengelola F1, Bernie Ecclestone, sudah berulang kali menegaskan GP Bahrain akan jalan selama aparat keamanan Bahrain memutuskan seperti itu.

Tapi perkembangan situasi di balik sirkuit masih tidak bisa dipastikan. Yang sudah pasti adalah aparat keamanan sudah sejak awal pekan meningkatkan pengamanan di sekitar ibukota Manama dan juga Sirkuit Sakhir.

Juga yang sudah pasti, unjuk rasa masih berlangsung hingga Kamis 19 April, dan polisi melepas tembakkan gas air mata dan granat suara kejut untuk membubarkan pengunjuk rasa antipemerintah.

Sejumlah toko di pusat kota Manama, memilih untuk tutup daripada menghadapi risiko terkena dampak kekerasan dalam aksi unjuk rasa.

Dan para pegiat demokrasi Bahrain sudah bertekad akan menggelar aksi unjuk dan berupaya untuk masuk ke Sirkuit Sakhir, walau agaknya hal itu akan amat sulit dilakukan.

Sekilas GP Bahrain

  • Pertama kali: 2004
  • Terakhir kali: 2010
  • Juara 2010:- Fernando Alonso, Ferrari
  • Panjang sirkuit: 5.412km
  • Total putaran: 57
  • Balapan 2011: Dibatalkan karena maraknya aksi unjuk rasa antipemerintah.
  • Balapan 2012: Sejumlah tim sempat mengharapkan agar ditunda namun FIA menegaskan tetap digelar.
  • Jadwal: Sesi latihan Jumat, babak kualifikasi Sabtu 21 April dan balapan Minggu 22 April.

Pos-pos pemeriksaan sudah didirikan dalam perjalanan menuju sirkuit tersebut, tapi siapa yang bisa menjamin tidak ada orang yang nekat pada abad 20 ini -ketika para beberapa pemimpin negara otoriter di Timur Tengah berjatuhan dan bom-bom bunuh bukan hanya melanda Afghanistan dan Irak.

Sentuhan pertama

Rabu (18/04) lalu, empat mekanik Tim Force India terperangkap dalam aksi unjuk rasa ketika sedang dalam perjalanan pulang dari sirkuit ke hotel. Sebuah bom molotov dilemparkan ke dekat mobil yang membawa mereka.

Keempatnya tidak menderita cedera apa pun, namun insiden itu memicu dua staf Force India untuk meminta dikirim pulang dari Bahrain.

Presiden Sirkuit Sakhir, Zayed R Alzayani, langsung menegaskan para mekanik itu bukan sasaran dari aksi unjuk rasa.

"Saya kira itu merupakan ketidakberuntungan. Ini merupakan masalah waktu. Hal itu bisa terjadi di semua tempat di dunia, terperangkap dalam sebuah aksi kerusuhan atau perkelahian."

Walau terjadi di luar sirkuit, insiden itu bisa dikatakan merupakan sentuhan pertama dari situasi politik Bahrain -yang dilanda unjuk rasa antipemerintah sejak tahun lalu dengan korban jiwa sekitar 40 orang- dengan F1 GP Bahrain.

Semoga itu adalah sentuhan satu-satunya pula, karena balapan masih akan digelar dan pengunjuk rasa berjanji akan tetap turun ke jalan-jalan.

Sirkuit Sakhir

Sirkuit Sakhir bisa menampung sekitar 50.000 penonton.

Secara umum -paling tidak menurut saya- yang terbaik adalah situasinya semacam semua pihak menang, dalam pengertian balapan F1 tetap jalan dan unjuk rasa juga berlangsung tanpa ada korban.

Potensi kerugian

Tentu bagi banyak orang -termasuk saya juga- persoalan hak asasi dan demokrasi jelas tidak tepat disejajarkan begitu saja dengan sebuah balapan mobil, sekalipun balapan itu merupakan salah satu tontonan paling populer di jagat raya.

Namun apa boleh buat, balapan F1 bukan lagi sekedar olahraga tapi bisnis besar dan dalam kasus di Bahrain, juga menjadi urusan politik.

Buat pemerintah Bahrain, yang dikuasai turun temurun oleh keluarga al-Khalifah, berlangsungnya GP di negara mereka tanpa insiden apa pun menjadi petunjuk bahwa unjuk rasa antipemerintah tidak bermakna besar, sekaligus membuktikan stabilitas politik dan sosial di negara itu.

Jelas bahwa soal itu bisa diperdebatkan, tapi masih ada lagi aspek bisnisnya.

Tahun lalu -ketika GP Bahrain dibatalkan- negara kaya minyak yang berpenduduk sekitar satu juta lebih ini diperkirakan kehilangan pemasukan sebesar £250 juta.

Pemenang GP Bahrain

  • 2011: Dibatalkan
  • 2010: Fernando Alonso
  • 2009: Jenson Button
  • 2008: Felipe Massa
  • 2007: Felipe Massa

Perhitungannya mulai dari pemasukan pariwisata, sponsor penyelenggaraan, dan tentu penjualan tiket serta belanja para penonton. Sebagai gambaran, kapasitas penonton di Sirkuit Sakhir mencapai sekitar 50.000 orang.

Sementara pengelola GP Bahrain -seperti dilaporkan koran The Independent, Inggris- membayar £25 juta kepada pengelola balapan F1 untuk bisa menjadi tuan rumah F1.

Masih ada potensi kehilangan pemasukan iklan TV, yang hak siarnya sudah dibeli oleh berbagai stasiun TV di seluruh dunia.

Di abad ke-21 -ketika sejumlah kawasan dilanda krisis ekonomi- bisa dimengerti lebih banyak orang yang berani mengambil risiko apa pun daripada langsung kehilangan ratusan juta Pounds Sterling.

Paling tidak mereka berpegang pada prinsip 'sampai titik-titik terakhir' dan sambil menunggu Anda bolehlah mengandalkan tokek: batal, tidak, batal, tidak...

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.