Mencari pola pembinaan ideal bagi atlet Indonesia

Tontowi/Liliyana Hak atas foto AFP
Image caption Pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir gagal mendapat medali dalam Olimpiade London 2012.

Olimpiade London 2012 menjadi mimpi buruk bagi dunia olah raga Indonesia.

Target Kementerian Pemuda dan Olahraga agar kontingen Indonesia pada Olimpiade kali ini bisa memperoleh emas gagal tercapai.

Cabang bulutangkis yang biasanya kerap menjadi sumber perolehan medali kali ini sama sekali tidak bisa diandalkan oleh kontingen Indonesia.

Untunglah cabang angkat besi bisa sedikit menyelamatkan wajah Indonesia dengan sumbangan satu perak dan satu perungu.

Buruknya prestasi Indonesia dalam Olimpiade kali ini banyak dikaitkan dengan persiapan yang tergesa dan tidak matang.

Selain itu tumpang tindih tanggung jawab pembinaan antara Komite Olahraga Nasional Indonesia, KONI dengan Komite Olimpiade Indonesia, KOI juga dituding sebaga gagalnya pembinaan atlet dalam lima tahun terakhir.

Atlet angkat besi yang meraih medali perunggu pada Olimpiade kali ini, Eko Yuli Irawan mengatakan kepada BBC Indonesia sebenarnya prestasi mereka akan lebih baik jika pembinaan atlet di cabang ini dilakukan secara terencana dan persiapan dilakukan dalam waktu yang cukup.

"Kami latihan dengan alat yang memadai hanya dalam waktu sebulan tapi dengan program seperti ini kami bisa memperoleh perunggu," kata Eko.

"Atlet lain mempersiapkan diri sejak Olimpiade Beijing lalu."

Prestasi 'meningkat'

Meski tidak mendapatkan emas dalam Olimpiade kali ini namun Kementrian Olahraga mengatakan pembinaan olahraga di Indonesia telah membuahkan hasil.

Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng mengatakan pretasi atlet Indonesia sebenarnya mengalami peningkatan.

Menurut Andi terpuruknya prestasi Indonesia pada Olimpiade kali ini lebih karena terlalu bergantungnya Indonesia pada cabang bulutangkis

"Prestasi kita di Sea Games berhasil menjadi juara umum sedang pada Asian Games, perolehan medali kita juga meningkat begitu juga dengan Asian Beach Games. Jadi prestasi kita meningkat hanya saja memang di Olimpiade kita terlalu tergantung dengan bulutangkis sehingga begitu gagal medali emas kita juga gagal," kata Andi Mallarangeng kepada wartawan BBC Indonesia, Andreas Nugroho.

"Cabang lain seperti angkat besi meningkat dibandingkan dengan Olimpiade sebelumnya begitu juga dengan panahan."

Namun pendapat Andi itu dikritik oleh pemerhati olahraga Yunaz Santhani Azis yang mengatakan prestasi Indonesia pada Olimpiade kali ini jauh dari kata berhasil.

"Kalau dilihat dari prestasi, sangat gagal karena sebelumnya kita selalu mendapat emas dari bulutangkis dan sekian banyak perak dan perunggu dari cabang itu," kata Yunaz yang juga wartawan Kompas ini.

Yunaz menduga persiapan yang tidak terencana dengan baik menjadi salah satu penyebab kegagalan prestasi Indonesia kali ini.

Seperti membenarkan pengalaman Eko Yuli Irawan, Yunaz mengatakan ada beberapa atlet yang persiapan untuk bertanding ke Olimpiade terkesan mendadak.

"Dana pemberangkatan untuk tim advance yang bertugas mencari tempat latihan baru turun lima hari sebelum berangkat," kata Yunaz.

Pembinaan diubah

Kementerian Olah Raga sejauh ini mengatakan akan mempertahankan pola pembinaan saat ini seperti Program Indonesia Emas dan perekrutran atlet berbakat di daerah dengan mengandalkan pantauan pengurus cabang di daerah.

Menurut Andi program pembinaan yang digarapnya telah memberikan hasil.

"Kita punya program Indonesia Emas dan PB-PB (pengurus induk olahraga) juga punya program sendiri dan di sentra-sentra daerah juga ada."

"Pembinaan jangka panjang telah memberikan dampak yang baik terhadap prestasi di SEA Games dan Asian Games namun untuk Olimpiade kita prioritaskan cabang-cabang tertentu yang kita persiapkan sejak saat ini sehingga empat tahun lagi bisa dapat emas termasuk juga bulutangkis yang harus bangkit kembali."

Namun menurut Yunaz ada sejumlah hal yang perlu dibenahi untuk membenahi prestasi olahraga di Indonesia, salah satunya adalah pola pembinaan atlet.

Hak atas foto Reuters
Image caption Atlet angkat besi, Eko Yuli Irawan mengakui persiapan mereka terhitung pendek dalam Olimpiade London 2012.

"Saya setuju dengan pelatnas jangka panjang misalnya proyek empat tahunan terus-menerus dan sasaranya adalah Olimpiade berikutnya dan target utamanya bukan lagi SEA Games dan Asian SEA Games."

"Pelatnasnya jangan on-off seperti sekarang."

Selain itu menurutnya perlu dipikirkan bagaimana membuat induk cabang olahraga bisa mandiri mencari sumber pendapatan untuk menggelar sejumlah pertandingan sehingga prestasi bisa lebih berkesinambungan.

"Pemerintah perlu memikirkan adanya stimulus bagi kalangan swasta untuk terlibat dalam kegiatan olahraga seperti keringanan pajak ketika ada pihak yang menyelenggarakan event olahraga."

Memang bukan rahasia jika butuh usaha besar untuk menggelar kompetesi cabang olahraga yang tidak populer.

Kementerian Olahraga tampaknya perlu memikirkan pembinaan berkelanjutan tanpa harus lagi mengeluarkan alasan klasik terkendala alasan dana.

Tanpa pembinaan berkelanjutan dan kompetesi teratur prestasi atlet Indonesia akan jalan di tempat.

Berita terkait