Menuju sepak bola tanpa batas?

  • 11 Oktober 2013
Jack Wilshere
Image caption Jack Wilshere mengatakan komentarnya hanya untuk cabang sepak bola.

Sepak bola merupakan salah satu lapangan kerja yang sudah memasuki era globalisasi dengan batas-batas negara yang kabur.

Pemain dari Asia dan Afrika memperkuat klub-klub Eropa, sementara dari Eropa menyeberang ke Amerika Utara dan pada saat bersamaan pemain Amerika Latin datang ke Eropa atau bahkan ke Indonesia.

Tentu itu baru sebatas liga profesional sedangkan untuk tim nasional, FIFA menetapkan pembatasan seseorang harus lima tahun menjadi warga negara resmi baru bisa membela negara bersangkutan.

Namun bagi gelandang tim nasional Inggris, Jack Wilshere, pembatasan FIFA itu tidak cukup.

Pemain Arsenal yang berusia 21 tahun tersebut mengatakan hanya warga Inggris saja yang seharusnya turun mewakili negara.

Bagi Wilshere, lima tahun tinggal di Inggris masih belum cukup bagi seseorang untuk menjadi 'orang' Inggris.

Dilakukan negara lain

Wilshere membatasi pandangannya terhadap Inggris dan tidak merujuk pada pemain remaja Manchester United, Adnan Januzaj, yang sudah dilirik-lirik untuk memperkuat Timnas Inggris.

Pemain kelahiran Belgia itu belum menyebutkan akan mewakili negara mana dan latar belakangnya membuat dia bisa memilih Belgia, Serbia, Albania, dan Turki, plus kini tentunya Inggris.

Januzaj tidak berkomentar, tapi tidak berarti Wilshere sepi dari tanggapan.

Mantan Ketua FA Inggris, David Bernstein, menegaskan tidak ada masalah dengan naturalisasi pemain untuk memperkuat timnas.

"Kita hidup dalam dunia yang berubah dan semakin banyak kemudahan dalam pergerakan penduduk," tegasnya dalam wawancara dengan BBC Radio 5 Live.

Dia menambahkan negara-negara lain juga melakukannya dan Inggris sah saja untuk berbuat hal yang sama selama sesuai peraturan dan demi mendapatkan tim terbaik.

"Saya kira itu yang diinginkan masyarakat. Itu yang diinginkan para pendukung."

Barisan atlet 'Inggris'

Jika Bernstein sekedar berbeda pendapat, mantan pemain utama kriket Timnas Inggris, Kevin Pietersen, agak 'menyerang' lewat Twitter.

"Menarik untuk mengetahui bagaimana Anda mendefinisikan warga asing...?"

Image caption Sebelum diasuh Roy Hodgson, Timnas Inggris pernah dipimpin dua manajer asing.

Pietersen -kelahiran Afrika Selatan- kemudian menyebut sejumlah atlet top Inggris yang bukan kelahiran Inggris, seperti mantan kapten timnas kriket, Andrew Strauss, pembalap sepeda peraih Tour de France 2013, Chris Froome, dan atlet lari peraih medali emas Olimpiade, Mo Farah.

Wilshere membalas yang disinggungnya adalah sepak bola. "Dengan segala hormat Tuan Pietersen, pertanyaannya adalah tentang sepak bola!!! Kriket, balap sepeda, atletik bukan bidang saya!"

Laga keduanya, agaknya, dimenangkan Pietersen yang menulis: "sama berbeda.. Itu tentang mewakili negaramu! DI SETIAP CABANG!"

Tak ada balasan Wilshere, namun ada dari manajer Arsenal, Arsene Wenger -yang baru menegur Wilshere karena foto yang memperlihatkan dia sedang merokok.

"Saya setuju dengan dia. Saya selalu mengatakan orang Inggris yang seharusnya memimpin Tim Inggris," katanya kepada BBC Sport membela pemain asuhannya.

Timnas Inggris sendiri sudah beberapa kali dipimpin oleh manajer asing, Sven Goran Eriksson dan Fabio Capello.

Dan dua pemain Timnas Inggris di bawah 21 tahun -yang besar kemungkinan akan masuk tim senior kelak- juga lahir di luar Inggris, yaitu Raheem Sterling yang lahir di Jamaika dan pria kelahiran Pantai Gading, Wilfried Zaha.

Komentar Wilshere -yang baru berusia 21 tahun- mungkin terdengar ketinggalan zaman di era globalisasi, namun dia seperti mengingatkan kecenderungan -yang karena sudah biasa- mungkin saja kelak menjadi buruk.

Coba bayangkan kalau Timnas Indonesia diwakili oleh semua pemain yang dinaturalisasi, misalnya.

Jelas bayangan yang amat berlebihan, namun seperti yang diperingatkan Wenger: ada risiko timnas meniru klub-klub yang membeli pemain terlepas dari kewarganegaraannya.

Berita terkait