Beban ganda manajer Timnas Inggris

  • 18 Oktober 2013
Andros Townsend dan Roy Hodgson
Image caption Roy Hodgson bercanda ketika memberi instruksi terkait Andros Townsend.

Hanya sehari setelah kegembiraan Timnas Inggris menikmati lolosnya mereka ke babak final Piala Dunia 2013, muncul nila setitik.

Dalam kemenangan 2-0 melawan Polandia awal pekan Selasa 15 Oktober, manajer Roy Hodgson kedapatan bercanda dengan lelucon yang dianggap rasis.

Dia langsung dikecam dan langsung pula meminta maaf.

Sumber kecaman -terlepas bagaimana Anda menanggapinya- merujuk pada lelucon tentang astronot dan monyet dalam sebuah misi ruang angkasa NASA.

Yang bekerja habis-habisan adalah si monyet sementara astronot cuma memberi makan monyet atau feed the monkey.

Bagaimana Hodgson persisnya bagaimana menggunakan lelucon itu saat istirahat babak pertama tidak jelas, namun dilaporkan dia memberikan instruksi kepada pemain belakang Chris Smalling agar mengoper bola ke pemain sayap Andros Townsend, yang dalam debut dua pertandingan timnasnya tampil gemilang.

Namun lelucon itu masuk ke ranah sosial dan politik karena Andros Townsend -dan juga Chris Smalling- berkulit hitam.

Kedua pemain itu sendiri tidak menyampaikan keluhan apa pun.

Image caption Glenn Hoddle dicopot dari jabatan manajer Timnas karena pernyataan yang kontroversial.

Bukan pertama

Hodgson bukan manajer pertama yang mengundang kontroversi bukan karena prestasinya di lapangan sepak bola.

Kisahnya mengingatkan pada Gleen Hoddle, yang menjabat manajer Timnas Inggris periode 1996-1999.

Pencapaiannya sebenarnya tidak terlalu buruk dengan catatan kemenangan dalam pertandingan mencapai 60%, yang hanya dikalahkan Sir Alf Ramsey -yang mengantarkan Inggris merebut Piala Dunia 1966- dan Fabio Capello.

Namun Hoddle mendapat tekanan untuk mengundurkan diri karena dalam salah satu wawancara dengan media dia mengungkapkan keyakinannya yang kontroversial bahwa 'orang menderita cacat sebagai hukuman atas dosa pada kehidupan sebelumnya."

Kecaman yang dihadapinya bertubi-tubi dan dia pun melepaskan jabatan.

Berbeda tapi mirip adalah kasus yang menimpa Sven-Göran Eriksson, yang merupakan manajer asing pertama di Timnas Inggris.

Mantan pemain dan manajer Timnas Swedia ini diberhentikan setahun sebelum kontraknya habis walaupun ada gerakan pendukung sepak bola Inggris -yang didukung media- untuk mempertahankannya.

Alasannya?

Eriksson terkena perangkap wartawan yang menyamar jadi miliuner Timur Tengah yang mengaku akan membeli Aston Villa dan memintanya menjadi manajer di klub tersebut.

Walau saat itu masih menjabat manajer Timnas Inggris- dia siap untuk jabatan barunya dan terekam ketika mengatakan kesediaan itu.

Pintu ke luar pun dibukakan oleh FA walau -bersama Eriksson- membantah penyebab pemutusan kontrak adalah wawancara 'palsu' tersebut.

Image caption Kemenangan 2-0 atas Polandia memastikan tempat Inggris di Piala Dunia 2014 Brasil.

Penggantinya, Steve McClaren, gagal membawa Timnas Inggris ke Piala Eropa 2008, ya tentu saja dia langsung dipecat.

Lain suasana

Kali ini jabatan Roy Hodgson sepertinya akan aman.

Warga Inggris rasanya belum siap untuk terbangun dari mimpi Piala Dunia 2014 setelah lolos tanpa play-off untuk bertanding ke Brasil tahun depan.

Mengganti manajer hanya sekitar delapan bulan sebelum pertandingan puncak tentu amat berisiko dan walau Timnas Inggris tidak masuk unggulan, tetap saja warga Inggris harap-harap cemas.

Banyak yang memperkirakan -termasuk Ketua FA, Greg Dyke- bahwa peluang Inggris untuk merebut Piala Dunia 2014 amat tipis, namun semua warga Inggris tentu berharap timnya bisa melaju sejauh mungkin: semifinal atau siapa tahu final.

Harapan itu tampaknya ingin terus dipelihara hingga tekanan media dan masyarakat atas Roy Hodgson tidak terlalu kuat.

Saya rasanya berani bertaruh kisah Hoddle dan Eriksson tidak akan terulang karena rasanya sudah amat dalam mimpi warga Inggris untuk tampil baik di panggung sepak bola internasional

Di bawah Hodgson sepertinya ada harapan mewujudkan mimpi itu, atau sebutlah setengah mimpi.

Dan penampilan Timnas Inggris dalam babak penyisihan grup -tidak pernah terkalahkan dan merebut 22 angka dari 10 pertandingan untuk merebut juara grup- bisa dijadikan landasannya.

Jadi Hodgson sudah minta maaf, tak ada yang tersinggung, tak ada yang melapor ke polisi.... mari melangkah maju ke Brasil.

Berita terkait