Bisakah asrama tanpa pintu versi Khofifah redam perilaku seks berisiko?

khofifah,
Image caption Asrama tanpa daun pintu dianggap jadi salah satu cara meredam perilaku seks bebas.

Asrama, pintu dan seks. Bagi Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa ada hubungan kuat antara tiga kata ini, bahwa jika asrama mahasiswa di Indonesia tidak memiliki pintu maka seks bebas di kalangan anak muda akan berkurang.

"Terus, kalau asrama tidak dikasih pintu, keluar masuknya lewat mana, Bu? #gagalpaham,'' kata satu pengguna Facebook.

Yang dimaksud Khofifah adalah asrama tanpa daun pintu, yang menghilangkan privasi kamar tidur.

Dalam laporan sejumlah media, disebutkan bahwa menteri sosial pernah menjumpai asrama semacam itu dan mengatakan bahwa pengawasan (seks bebas) akan lebih mudah jika kamar kos dibiarkan terbuka.

Pernyataan ini disampaikan Khofifah di Semarang, Sabtu (29/10) lalu dan segera menuai kritikan di media sosial.

''Ini pemikiran yang sempit. Untuk seks dijadikan suatu perbuatan yang dianggap sangat tercela tapi penanganannya salah,'' kata Harison Sianturi melalui Facebook.

''Karena privasi bukan barang penting,'' Andri dengan akun @mbahndi di Twitter.

Hak atas foto TWITTER
Image caption Bagaimana dengan kriminalitas? Sejumlah pengguna media sosial juga menanyakan itu.

Dalam konteks yang berbeda, pengguna lain menantang balik apakah pemerintah bisa 'terbuka' juga.

''Asrama mahasiswa/i gak usah pakai daun pintu untuk mengurangi sex bebas. Bisa enggak ruangan menteri dibuat transparan aja supaya gak ada nego-nego?'' kata @qaqqah lewat Twitter.

Maulida Raviola Koordinator Pamflet, organisasi anak muda yang aktif mengajarkan kesehatan reproduksi ke sekolah-sekolah, mengatakan pernyataan menteri sosial ini tidak efektif untuk menurunkan perilaku seks berisiko di kalangan anak muda.

''Ini akan membuat mereka mencari cara mengakali peraturan. Pengetahuan tentang seksualitas yang bisa mengubah perilaku,'' katanya.

Melakukan hubungan seks sebelum menikah tidak bisa dicegah karena berhubungan pilihan dan hak seseorang, namun yang bisa dilakukan oleh pemerintah dan pelaku pendidikan adalah memberi pengetahuan dan informasi tentang tentang perilaku seks berisiko, kata Pamflet.

''Riset yang dilakukan Puska Gender dan Seksualitas Universitas Indonesia menunjukan misalnya, bahwa pengetahuan seksualitas berkorelasi positif terhadap rendahnya pelecehan seksual remaja SMA,'' jelas Maulida.

Pendidikan seksualitas memang sudah banyak dilakukan di sekolah-sekolah, namun saat ini dirasa belum menyeluruh.

Topik terkait