Kontroversi salat Jumat di jalan demo 2 Desember, Gus Mus, dan permintaan maaf

salat jumat Hak atas foto AFP
Image caption Salat Jumat di luar masjid karena terlalu penuh, terjadi pada demonstrasi 4 November kemarin.

Perdebatan terkait salat Jumat di jalanan bermula ketika wacana aksi yang diklaim sebagai 'bela Islam III' digulirkan oleh sejumlah ormas Islam.

Mereka berencana menggelar aksi unjuk rasa dengan menggelar salat Jumat di sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin, Jakarta, menuntut Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dipenjara atas tuduhan penistaan agama.

Pihak kepolisian menyebut bahwa aksi unjuk rasa boleh dilakukan asal tidak mengganggu kepentingan publik. Kapolri Jenderal Tito Karnavian melarang demonstrasi apabila menutup Jalan Sudirman dan Jalan MH Thamrin.

"Kalau mau salat Jumat di Istiqlal, Monas, Lapangan Banteng monggo. Tapi kalau di jalan raya yang menutup di jalan vital, strategis Jakarta, tidak bisa," ujarnya.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil menegaskan pihaknya telah mengeluarkan fatwa bahwa salat Jumat di jalan tidak sah dan 'bahkan bisa haram jika menggangu ketertiban umum dan masalah sosial'.

Di media sosial, ulama Nahdlatul Ulama Mustofa Bisri atau Gus Mus disorot karena kicauannya yang menyebut bahwa salat Jumat di jalan adalah 'bid'ah besar' -bidah adalah perbuatan menambah-nambah dalam ibadah.

Hak atas foto TWITTER

Pendapat Gus Mus ini mendapat reaksi beragam. Beberapa mengapresiasi, tetapi banyak juga yang mempertanyakan.

Beberapa bahkan menyerangnya secara pribadi, salah satunya adalah akun bernama @panduwijaya_ (yang kemudian diketahui sebagai karyawan PT Adhi Karya) dengan kicauan yang dikecam banyak orang. "Dulu gak ada aspal gus di padang pasir, wahyu pertama tentang shalatJjum'at juga saat Rasulullah hijrah ke Madinah. Bid'ah ndasmu!" cuitnya pada Kamis (23/11).

Baik perusahaan dan pemilik akun kemudian menyatakan minta maaf setelah mendapat desakan dari berbagai pihak.

Apa respons Gus Mus? "Tak ada yang perlu dimaafkan," katanya. "Kesalahannya mungkin hanyalah menggunakan 'bahasa khusus' di tempat umum. Maklum masih muda."

Gus Mus juga meminta pemilik akun tidak dipecat dari pekerjaannya - sebuah ucapan yang banyak menuai apresiasi. "Sungguh, kita harus mencontoh dan belajar dari Gus Mus yang sabar, ikhlas, dan pemaaf ini," kata satu pengguna Twitter.

Hak atas foto TWITTER
Image caption Gus Mus juga meminta pemilik akun tidak dipecat dari pekerjaannya - sebuah ucapan yang banyak menuai apresiasi.

Tapi debat soal salat Jumat di jalan tampak belum selesai. Sejumlah laporan menyebut bahwa penyelenggara unjuk rasa 2 Desember Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI tetap bersikukuh menggelar salat Jumat di jalan protokol.

Sholahudin Wahid atau Gus Sholah mengatakan dirinya 'tidak membolehkan shalat jum'at di jalan, boleh kalau mesjid sudah tidak bisa menampung.'

Hak atas foto TWITTER

Berita terkait