Tujuh juta atau 500.000? Ketika media sosial berdebat soal jumlah peserta aksi 212 di Monas

AFP Hak atas foto AFP
Image caption Masif! Tapi berapa jumlahnya?

Perbincangan tentang jumlah orang yang hadir dalam aksi 212 di Monas menghangat di media sosial, menimbulkan pertanyaan: mengapa begitu penting dibicarakan -dan dibanding-bandingkan?

Wartawan Metro TV kembali diintimidasi. Setelah sebelumnya diusir dalam unjuk rasa 4 November, kali ini mereka diperolok oleh sejumlah orang di aksi 'Bela Islam jilid 3'.

Salah satunya adalah reporter Rifai Pamone yang ketika menyampaikan laporan langsungnya diintimidasi oleh teriakan 'Metro Tipu' berulang-ulang. Insiden yang terekam dalan video ini langsung beredar viral di media sosial. Banyak orang menuduh wartawan ini melakukan kebohongan publik terkait jumlah peserta aksi yang hadir 2 Desember itu.

Dalam tayangan yang diulang oleh Metro TV, Rifai menyebut jumlah massa di kawasan Patung Kuda saja (bukan jumlah keseluruhan) sekitar 50.000 orang - angka yang dia sebut diperoleh 'berdasarkan wawancara para koordinator aksi di mobil taktis'. "Dan angka tersebut bisa dipastikan terus bertambah, bahkan jutaan umat Muslim akan berkumpul..." katanya kemudian.

Namun banyak orang naik pitam di media sosial atas pemberitaan ini karena menganggap bahwa klaim angka 50.000 itu adalah jumlah keseluruhan. "Dasar media kafir," kata satu pengguna di Facebook. "Segitu banyak masa dibilang cuma 50.000 peserta, situ sehat?" kata yang lain.

Jumlah peserta aksi menjadi isu sensitif yang dalam beberapa hari terakhir bisa memicu orang di media sosial mengumpat dan bersikap nyinyir. Berbagai pandangan yang berbeda diulas dalam blog, unggahan Facebook, hingga media massa dengan angka yang berbeda-beda -dan bahkan terlampau jauh perbedaannya.

Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF-MUI) yang menjadi penyelenggara aksi mengklaim bahwa aksi itu diikuti oleh 7,5 juta orang. Tidak diperoleh lebih jauh bagaimana mereka mencapai kesimpulan tersebut. Sementara sejumlah analisa, menyebut jumlahnya ada di kisaran 500.000 orang.

Tujuh juta dan 500.000? Perbedaan yang jauh bukan?

Hak atas foto Muhammad Firman Kasim
Image caption Hitungan matematika dan metode bagaimana dia mendapat angka itu dijelaskan rinci dalam blognya.

Salah satu ulasan yang banyak dibahas adalah sebuah blog yang dibuat oleh mahasiswa doktoral asal Indonesia yang bersekolah di Universitas Oxford, Inggris, Muhammad Firmansyah Kasim. Dengan perhitungan matematis, mahasiswa bidang fisika ini menghitung luasan jalan dari kawasan Tugu Tani, Monas, hingga Jalan Thamrin dan memprediksi berapa orang yang bisa muat dalam luasan itu.

"Dengan skala yang sama dengan sebelumnya, tiga orang per meter persegi, estimasinya adalah sekitar 757.840 orang dalam aksi tersebut. Jika kita menggunakan hitungan dua orang per meter persegi seperti sebelumnya, ada sekitar 505.227 orang," katanya.

Namun estimasi dua orang per meter persegi dinilai tidak terlalu pas karena salat membutuhkan tempat yang lebih luas. Setidaknya itu yang dikritik oleh Poltak Hotradero melalui akun Twitternya @hotradero. "Kalau ada yang bilang permukaan 1x1 meter bisa cukup buat berdua, saya mau lihat kayak apa sirkusnya," katanya.

Hak atas foto TWITTER
Image caption Ubin ukuran satu meter persegi yang dicuitkan Poltak untuk menggambarkan sempitnya ukuran itu untuk dua orang.

"Maka ruang per orang yang mencukupi di bidang datar sempurna adalah sekitar 1x1 meter. Boleh kurang dikit," katanya.

Dalam kicauanannya, Poltak juga mengkritik angka tujuh juta yang dinilai tak masuk akal. "Bukan matematikanya yang penting, tapi alur berpikirnya. Penerapannya bisa apa saja. Berguna agar nggak gampang ditipu orang," cuitnya.

Sebuah unggahan dari Wan Wan Nur di Facebook lantas mengilustrasikan seberapa banyaknya tujuh juta orang itu.

"Jumlah penduduk pulau Bali, cuma separuh dari 7 juta. Jumlah penduduk seluruh Aceh adalah 4.400.000 jiwa," katanya. "Tujuh juta orang kalau diangkut dengan bis yang kapasitasnya 40 orang per bis. Itu membutuhkan 175.000 bis. Kalau satu bis panjangnya 12 meter, maka dibutuhkan jarak 2.100km untuk bisa menyusun bis-bis itu satu persatu, secara dempet tanpa menyisakan celah sedikitpun," katanya.

Hak atas foto TWITTER
Image caption Salah satu kicauan Poltak tentang klaim 7 juta yang dianggap tak masuk akal.

Kami pun mengecek data BPS tahun 2010, dan jika dibandingkan, jumlah 7,5 juta kurang lebih setara dengan penduduk Sumatera Selatan (7.450.394 orang) atau Lampung (7.608.405 orang). Angka 7,5 juta itu bahkan juga lebih banyak dari jumlah penduduk di provinsi:

  • Sumatera Barat: 4.846.909
  • Riau: 5.538.367
  • Kalimantan Barat: 4.395.983
  • Papua: 2.833.381

Ada banyak analisa lain yang memperkirakan jumlah massa yang hadir. Satu akun bernama Sigit Riyanto di Facebook memperkirakan yang datang bisa sekitar tiga juta orang.

Lainnya berpendapat jumlahnya lebih dari 700.000 - dengan berpegang pada ucapan polisi yang menyebut bahwa Monas bisa menampung sekitar 700.000 orang. Walau ada perdebatan bahwa jumlah itu adalah seluruh Monas (termasuk lapangan rumput) sedangkan dalam aksi kemarin lapangan rumput tidak digunakan.

Aksi 414 dan jumlahnya?

Namun debat menjadi tak sehat dan semakin liar ketika Parade Bhineka Tunggal Ika - yang diinisasi partai politik - digelar 4 Desember kemarin.

Sejumlah orang membanding-bandingkan massa aksi 212 dengan 412.

Lainnya (lagi-lagi) memaki Metro TV karena termakan hoax. Dalam foto hasil suntingan yang beredar, tertulis, "massa aksi Kita Indonesia mencapai 100 juta orang," padahal aslinya hanya tertulis, "parade budaya Kita Indonesia."

Hak atas foto FACEBOOK
Image caption PALSU: Keterangan pada layar aslinya tidak seperti ini. Aslinya tertulis, "Parade Budaya Kita Indonesia."

Sosiolog Universitas Indonesia Thamrin Amal Tomagola mengatakan perdebatan yang terjadi di media sosial yang berasal dari dua pihak sudah tak lagi bersifat substantif dan ber manfaat.

"Pedebatan bukan lagi substantif, tapi seperti anak kecil. Yang satu ingin merendahkan yang lain dengan cara seperti itu. Bukan hanya soal jumlah, tapi juga soal injak tanaman, sampah. Segala sesuatu diangkat kedua belah pihak dengan strategi tit for tat," katanya. "Saya pikir ini sangat tidak punya manfaat kalau orang terjebak dengan masalah itu."

Thamrin menilai ada rasa 'kehilangan kepercayaan diri' dari dua pihak sehingga mereka "mencoba menguat-kuatkan hati bahwa mereka lebih hebat dari pihak satunya. Masing-masing balas-balasan dengan percakapan yang sama. Menyedihkan sekali itu."

Tapi, terlepas semua perdebatan di media sosial tampaknya banyak orang sepakat bahwa aksi 2 Desember di Monas menjadi salah satu salat Jumat dengan peserta terbanyak di Indonesia.

Hak atas foto STR/EPA
Hak atas foto EPA/MAST IRHAM
Hak atas foto AFP

Sementara itu parade Kita Indonesia, tanggal 4 Desember, jumlah pesertanya jauh lebih sedikit dibanding aksi 212, namun tampak meriah dengan berbagai atraksi. Kendati dikecam beberapa kalangan karena penuh dengan atribut partai politik -khususnya Partai Golkar dan Nasdem, serta lebih memngedepankan para tokoh kedua partai itu.

Hak atas foto Reuters
Hak atas foto EPA
Hak atas foto Reuters

Topik terkait

Berita terkait