Pembubaran acara Natal: 'Bandung yang intoleran'?

Tagar 'Bandung intoleran' banyak digunakan oleh pengguna media sosial setelah sekelompok ormas Islam 'membubarkan' acara pra Natal di Sabuga, Bandung, Selasa (07/12) malam.

Hak atas foto TWITTER
Image caption Beberapa orang mengungkapkan simpati kepada umat Kristiani yang 'terusir'.

Sejumlah laporan menyebut kelompok yang menamakan diri Pembela Ahlu Sunnah (PAS) dan Dewan Dakwah Islam (DDI) menghentikan acara natal tersebut karena menganggap acara keagamaan harus dilakukan di tempat ibadah, bukan di tempat umum.

Media sosial pun bereaksi dengan tagar 'Bandung intoleran' yang mulai digunakan sejak pukul 19.00 malam dan hingga kini telah digunakan lebih dari 23.000 kali. Berbagai ungkapan simpati dan juga kritik atas pembubaran itu mengalir di linimassa.

"Teriak ke Myanmar supaya hargai minoritas, di kampung sendiri gak bisa menghargai minoritas. Malu atuh euy #BandungIntoleran," kata Feryanto Setyadi dengan akun @Ferysplace di Twitter.

Hak atas foto TWITTER
Image caption Sebagian mengkritik sejumlah orang yang melakukan 'mengusiran' tersebut.
Hak atas foto TWITTER
Image caption "Anti toleransi? Tidak bisa," kata Ira.

Seorang pengguna Facebook, Cole Alysia, mengunggah sejumlah foto insiden itu dan hingga kini dibagikan ribuan kali. Dalam salah satu fotonya, terlihat sejumlah orang memegang spanduk bertuliskan, "Masyarakat Muslim Jabar meminta kegiatan KKR pindah ke tempat yang telah disediakan (gereja) bukan tempat umum."

"Kalo memang KKR harus di gereja... terus apa beda sama umat muslim yang memakai fasilitas umum seperti Monas untuk melakukan salat?" tanya Steven Lensun.

Lainnya mencoba mendinginkan perbincangan, "jangan menyalahkan atas nama agama ini semua karena oknum dan saya muslim mengerti apa yang dirasakan oleh nonmuslim," kata Ahmad Salbeny di Facebook.

'Intimidasi ormas keagamaan tidak pada tempatnya'

Walikota Bandung Ridwan Kamil melalui akun Facebook menyatakan dirinya "menyesalkan kehadiran dan intimidasi ormas keagamaan yang tidak pada tempatnya dan tidak sesuai dengan peraturan dan semangat Bhineka Tunggal Ika."

Dia juga menyatakan bahwa pemerintah kota Bandung tidak mempermasalahkan adanya kegiatan keagamaan yang menggunakan bangunan publik.

Ada masalah koordinasi, lanjut Ridwan, terkait adanya tambahan acara malam hari yang berbeda dengan surat kesepakatan. Pemkot Bandung 'memohon maaf' dan berjanji akan mengupayakan tempat pengganti.

Hak atas foto TWITTER
Image caption Kicauan ini tampaknya mengacu pada koordinasi awal yang menyepakati bahwa kegiatan ibadah di Sabuga hanya akan berlangsung siang hari. Tapi apakah kehadiran ormas untuk mengintimidasi dibenarkan?

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan melalui akun Twitter, tampaknya ikut berkomentar terkait pembubaran itu - komentar yang lantas dianggap oleh sejumlah pengguna tidak memberikan solusi.

"Inti dari tweet Anda ini apa ya? Solusinya untuk kejadian di Sabuga apa?" kata satu pengguna. "Ambigu Pak. Jadi toleransi cuma punya satu umat maksudnya?" kata yang lain.

Berita terkait