Hal-hal di balik 'mahmud challenge' yang tidak kita bicarakan

instagram Hak atas foto Instagram l @maiaestiantyreal

Beberapa pekan terakhir, ibu-ibu muda ikut meramaikan tantangan yang disebut "mahmud muda challenge' untuk menunjukkan wajah lain ibu rumah tangga. Sekedar lucu-lucuan, bentuk perlawanan, atau malah mengukuhkan budaya patriarki?

Jika Anda mencari tagar #mahmudchallenge di media sosial sekarang, Anda akan menemukan foto-foto ibu muda dengan konsep yang senada. Dua foto, yang berbagi di satu bingkai, menunjukan dua kesan berbeda: satu menunjukan tampilan kucel ibu berdaster (beberapa tampak menggendong anak) dan satu lagi menunjukan tampilan bergaya dengan riasan lengkap.

Umumnya, unggahan ini disertai tulisan, "jangan remehkan emak-emak berdaster, karena kalau sudah dandan, kelar hidup lo!"

Tren yang mulai ramai dibicarakan awal bulan ini menjadi kian populer karena sejumlah selebriti juga ikut berpartisipasi. Meme-meme plesetan yang muncul setelahnya juga tak kalah ramai, misalnya dengan kata-kata, "jangan remehkan cowok culun, kalau sudah nge-gym kelar hidup lo!"

Tapi fenomena apa yang terbaca di baliknya?

Satu pesan yang jelas terlihat adalah pesan pemberdayaan bahwa ibu rumah tangga tidak kalah bernilai dari perempuan berkarir. Pemilik akun Instagram @selvitenggara, ibu muda yang mengunggah #mahmudchallenge mengatakan ikut tantangan ini karena 'ingin kekinian'.

"Menurut saya ibu-ibu rumah tangga tetap harus eksis juga. Bukan berarti di rumah terus tidak bergaul dan merasa minder dengan ibu-ibu yang berkarir," katanya kepada BBC Indonesia.

Setelah mengurus anak dan menjadi ibu rumah tangga, Selvi mengaku merasakan perbedaan yang kontras. "Ternyata kita harus sangat-sangat menghargai ibu rumah tangga. Karena setelah saya merasakan, luar biasa capenya ngurus anak, ngurus rumah, ngurus suami, belum harus merasakan jenuhnya di rumah seharian. Beda (dengan) waktu saya masih kerja, masih bisa keluyuran sama teman kantor."

Hak atas foto Instagram l @selvitenggara
Image caption "Ternyata kita harus sangat-sangat menghargai ibu rumah tangga," kata @selvitenggara.

Tren ini memicu dibuatnya akun @mamahmudachallenge di Instagram - yang didedikasikan khusus untuk mengunggah foto-foto ibu-ibu muda yang dikirim via pesan secara personal.

"Akun ini dibuat dua minggu lalu untuk memberikan apresiasi untuk emak-emak," kata admin @mamahmudachallenge. "Ketika mereka (memakai) make-up ada sebuah perasaan bahwa mereka bukan sekedar ibu yang mengurus anak, tetapi juga seorang princess bagi keluarga," katanya.

Sudah ada lebih dari 150 unggahan foto dalam akun ini dan tagar mahmud challenge sendiri telah dipakai ribuan kali tak hanya di Instagram, dan merambah ke Twitter dan Facebook.

Hak atas foto Instagram
Image caption "Banyak yang sering mengirimkan foto-foto mereka untuk di repost (di akun ini)," kata admin @mamahmudachallenge.

Namun bagi aktivis dan Pemimpin Redaksi Jurnal Perempuan Dewi Candraningrum, ada hal lain yang bisa terbaca, bahwa munculnya tantangan ini membuktikan masih terpeliharanya subordinasi atau pengecilan peran ibu rumah tangga, tak hanya oleh struktur masyarakat patriarki dan negara, tapi juga oleh perempuan itu sendiri.

"Dalam struktur masyarakat patriarki atau negara, kita tahu bahwa ekonomi rumah tangga tidak dianggap sebagai strategis sehingga perempuan otomatis mewarisi (pandangan) itu. 'Oh saya cuma ibu rumah tangga'. Padahal tidak seperti itu, dia sebagai ibu rumah tangga punya sumbangan strategis," katanya.

Ketika perempuan memandang rumah tangga lebih minor (dibanding perempuan berkarir misalnya), upaya pemberdayaan - yang tercermin dalam tantangan ini - diungkapkan dengan menampilkan foto berdandan. Sampai di sini, sebuah persepsi budaya patriarki lain terkait tubuh perempuan tampak nyata: bahwa perempuan dianggap lebih tinggi nilainya jika menampilkan hal-hal berbau sensualitas.

"Perempuan mempercayai kalau dia cantik dan berdandan, nilai dia akan bertambah. Dalam teori kajian gender, itu disebut seksualisasi perempuan, maksudnya bahwa segala sesuatu tentang perempuan dianggap berharga jika perempuan mampu menunjukan kecantikannya, menunjukan organ-organnya, aura seksnya atau aura sensualnya."

"Kalau teori yang adil, perempuan itu dinilai dari karyanya dan pencapaiannya, bukan dari warna lipstiknya," jelas Dewi.

Hak atas foto Miles Willis/Getty Images
Image caption "Kalau teori yang adil perempuan (harusnya) dinilai dari karyanya dan pencapaiannya, bukan dari warna lipstiknya," jelas Dewi.

Foto berdandan ini pula yang jadi perdebatan di media sosial karena tak semua setuju bahwa 'berdandan' digunakan sebagai bentuk ungkapan eksistensi. 'Gak dandan saja sudah cantik kok," kata satu komentar dalam unggahan musisi @maiaestiantyreal.

Di Facebook, sejumlah orang membuat tagar lain yang dianggap lebih Islami, yaitu #muslimahchallenge dengan tulisan, "jangan anggap remeh emak-emak pake jilbab. Kalau mereka dakwah, kelar idup lo..."

Namun secara umum Dewi mengatakan bahwa tak ada yang salah dari foto-foto tersebut.

"Tidak apa-apa kalau perempuan (berfoto penuh make-up) karena ingin merayakan tubuhnya atau sensualitasnya. Tapi basisnya harus kemerdekaan, pengetahuan tentang kesetaraan, bukan basisnya 'oh ibu rumah tangga itu sesuatu yang minor'," sambung Dewi.

"Basisnya (adalah pandangan) bahwa ibu rumah tangga itu berharga, punya otoritas yang luar biasa. Ketika mencari eksistensi, mereka betul-betul memerdekakan diri mereka, bukan dalam tekanan tradisi patriarki dan bukan tekanan mesin pasar kapitalisme yang haus profit, terutama terkait ekspoitasi tubuh dan sensualitas perempuan."

Kemudian, pertanyaan selanjutnya, mengapa ibu-ibu muda? Bagaimana dengan ibu-ibu yang tidak muda?

Berita terkait