Sinterklas, atribut Natal yang menjadi masalah 'pada situasi tertentu'

sinterklas di guatamela city Hak atas foto AP
Image caption Penggunaan atribut sinterklas dianggap sebagai simbol Kristiani bagi sebagian besar umat Islam di Indonesia, kata

Penggunaan atribut Natal, seperti topi sinterklas, kembali menjadi perdebatan, isu yang menurut seorang cendekiawan Islam menjadi masalah pada situasi atau konteks tertentu.

Sejumlah daerah termasuk Bandung dan Padang mengeluarkan himbauan agar perusahaan-perusahaan tidak memaksa karyawan menggunakan atribut yang dikaitkan dengan perayaan Natal.

Sementara itu Majelis Ulama Indonesia - yang tahun lalu mengeluarkan himbauan yang sama- dua hari lalu mengeluarkan fatwa yang menyebutkan "Menggunakan atribut keagamaan non-Muslim adalah haram. Mengajak dan/atau memerintahkan penggunaan atribut keagamaan non Muslim adalah haram."

Isu seperti ini, menurut Direktur Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Noorhaidi Hasan, tak menimbulkan perdebatan bila tak dipicu masalah politik dan ekonomi.

"Orang Islam secara umum di Indonesia yang tak terlalu paham atas asal usul sinterklas menganggapnya sebagai simbol agama...Orang cuek sebenarnya pada simbol agama lain. (Tapi) pada situasi tertentu simbol-simbol ini jadi masalah," kata Noorhaidi.

Ia mengacu pada situasi kasus penistaan agama yang dituduhkan kepada gubernur non aktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

'Islam sangat terbuka terhadap simbol-simbol agama lain'

Hak atas foto Twitter

"Secara teologis Islam sangat terbuka terhadap simbol-simbol agama lain...Interpretasi terhadap simbol-simbol terbentu bisa jadi berbeda karena ada muatan politik disitu. Kita belum selesai dalam urusan kemampuan setiap elemen bangsa untuk menerima perbedaan," tambahnya.

Sementara itu rohaniawan Katholik, Romo Benny Soesetyo mengatakan terjadi kekhawatiran berlebihan terkait atribut sinterklas, yang menurutnya, bukan merupakan simbol ibadah Natal.

"Ada kekhawatiran berlebihan bahwa seolah dengan memakai simbol-simbol itu ada upaya Kristenisasi. Sebenarnya tak ada kaitan dengan ibadah dan sinterklas adalah simbol kegembiraan, simbol perayaan," tambah Benny.

"Orang juga tak merayakan Natal dengan menggunakan topi sinterklas...itu tradisi perayaan di Eropa yang bersumber dari Santo Nikolas namun tak ada juga Nikolas dalam buku para Santo," tambahnya.

Wali kota Bandung, Ridwan Kamil dalam penjelasan terkait keluarnya imbauan atribut sinterklas mengatakan dalam akun Twitternya, "Banyak karyawan yang komplain masuk ke saya karena merasa terpaksa. sebelum ditunggangi hal-hal yang tidak semestinya, kami mengantisipasi."

Imbauan Ridwan Kamil ini dipertanyakan salah seorang pengguna yang menulis, "Kalo (kalau) misalnya yang muslim bersedia memakai atribut sinterklas, ga (tidak) masalah kan kang?"

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pembubaran acara pra-Natal di Bandung oleh kelompok intoleran

"Jika Muslim yg (yang) meminta silakan saja, asal mampu menjelaskan," jawab Ridwan.

Awal bulan ini di Bandung kelompok intoleran membubarkan acara pra-Natal dengan menggunakan alasan perizinan yang belum lengkap. Alasan ini, menurut aktivis keberagaman dinilai sebagai alasan 'mengada-ada'.

Asal susul sinterklas

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sinterklas dikaitkan dengan Santo Nikolas pada abad ke-4 yang tinggal di daerah yang sekarang menjadi Turki

Legenda sinterklas ini bermula dari pendeta pada abad keempat yang tinggal di kawasan yang saat ini adalah Turki, Santo Nikolas.

Gambar sinterklas modern yang ada saat ini diciptakan oleh seniman Amerika Thomas Nast pada tahun 1800an dalam serangkaian kartun untuk majalah mingguan Harper.

Kartun ini kemudian banyak digunakan di kartu-kartu Natal dan banyak iklan yang muncul pada abad ke-20. Yang paling menonjol adalah iklan Coca Cola pada tahun 1930an yang menurut sejumlah kalangan menjadi pemicu terkenalnya sinterklas dengan jubah merah dan putih.

Topik terkait

Berita terkait