Lima tragedi kemanusiaan yang luput selain Aleppo

suriah Hak atas foto AFP/GETTY
Image caption Jutaan orang diperkirakan telah mengungsi dari Suriah yang dilanda perang tak berkesudahan.

Adalah anak-anak yang paling menderita akibat perang. Di Aleppo, Suriah, anak-anak menjadi korban serangan udara yang tak henti-henti.

Mereka menyaksikan kawan sebaya mereka mati, juga menangisi keluarga mereka yang tak lagi bernyawa karena bom yang jatuh di permukiman.

Beberapa mungkin bernasib sama dengan Omran Daqneesh, bocah berusia 5 tahun, yang fotonya ketika berada di mobil ambulans disebut sebagai cerminan 'puncak kengerian di Aleppo.' Kakak laki-laki Omran meninggal akibat luka-luka saat rumah keluarganya dibom.

Jika beruntung anak-anak ini akan pergi mengungsi bersama sanak keluarga yang tersisa.

Tapi sebagian melakukan perjalanan ilegal yang berisiko, membuat tak sedikit dari mereka yang kemudian bernasib sama seperti Alan Kurdi, seorang bocah Suriah yang meninggal dan tersapu ombak pantai di dekat Bodrum, Turki ketika berusaha menyeberang menuju Pulau Kos, Yunani.

Tapi anak-anak di Suriah tidak sendiri. Diterpa berbagai masalah dan latar belakang yang berbeda, anak-anak di wilayah konflik (atau pasca konflik) memiliki kepiluan yang sama, yang mungkin tak selalu menjadi berita utama di media massa dan luput dari perhatian Anda.

Di Yaman, anak-anak berjuang dalam kelaparan yang tak tertahankan, juga di Nigeria ketika konflik membuat bocah-bocah terancam mati tak punya makanan. BBC Indonesia merangkum sejumlah konflik dunia yang membutuhkan namun luput dari perhatian.

'Satu juta orang' mengungsi dari Sudan Selatan

Jumlah orang yang mengungsi dari Sudan Selatan karena perang saudara mencapai angka sejuta, kata dewan PBB untuk pengungsi UNHCR. Perpecahan yang terjadi di ibu kota Juba pada Juli tahun ini, dianggap menjadi penyebab utama atas gelombang pengungsian yang terjadi akhir-akhir ini.

Lebih dari 1,6 juta orang juga terlantar di Sudan Selatan, yang artinya sekitar 20% populasi menjadi tuna wisma sejak Desember 2013. Selengkapnya.

Anak-anak kelaparan di Yaman akibat perang

Hak atas foto EPA

Yaman, salah satu negara paling miskin di Arab terkena dampak pilu akibat perang antara pasukan yang loyal pada pemerintahan Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi dan kelompok-kelompok yang memihak pemberontak Houthi.

Lebih dari 6.800 orang tewas dan 35.000 orang terluka sejak Maret 2015 kebanyakan karena serangan udara dari koalisi multinasional yang dipimpin Arab Saudi, yang mendukung sang presiden.

Kelompok militan al-Qaida di Semenanjung Arab dan kelompok ISIS atau yang mengklaim sebagai Negara Islam mengambil keuntungan dari konflik ini dengan merebut kawasan di selatan dan meningkatkan intensitas serangannya di Aden yang dikuasai pemerintah.

Kemarin, seorang pengebom bunuh diri menewaskan sedikitnya 48 tentara Yaman dan melukai 80 lebih lainnya di kota pelabuhan Aden.

Yang paling sengsara? Anak-anak. Simak liputan Wartawan BBC Bahasa Arab Nawal al-Maghafi yang menggambarkan parahnya kondisi anak-anak kelaparan di Yaman.

75.000 anak di Nigeria 'terancam mati kelaparan'

Hak atas foto AP

Sekitar 75.000 anak di timur laut Nigeria berisiko mati kelaparan dalam beberapa bulan ke depan, kata Perserikatan Bangsa-Bangsa pada November lalu.

Koordinator kemanusiaan PBB UN Peter Lundberg mengatakan 14 juta orang memerlukan bantuan di wilayah bekas markas militan Boko Haram yang ditinggalkan setelah didesak keluar oleh pasukan Nigeria dalam beberapa bulan terakhir.

Puluhan ribu orang telah tewas dan lebih dari dua juta orang mengungsi sejak Boko Haram mulai beroperasi pada 2009 di negara bagian Borno dan wilayah lain.

Ratusan anak Somalia 'menderita kelaparan'

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sekitar 300.000 anak di bawah usia lima tahun menderita malnutrisi akut dan membutuhkan bantuan.

Lebih dari lima juta orang di Somalia mengalami kekurangan makanan akibat minimnya curah hujan, banjir bandang, dan pengungsian akibat konflik, kata Perserikatan Bangsa-Bangsa, September lalu.

Sekitar 300.000 anak di bawah usia lima tahun menderita kelaparan berat dan membutuhkan bantuan. Kebanyakan dari mereka telah mengungsi akibat konflik yang melanda puluhan tahun.

Malnutrisi di Somalia meningkat dalam beberapa bulan terakhir dan berdampak pada hampir setengah populasi negara tersebut.

PBB mengatakan pengungsian karena konflik dan serangan dari kelompok ekstremis seperti al-Shabab adalah faktor yang paling berperan.

Libya, Turki, Afghanistan, dan Irak

Hak atas foto Reuters
Image caption Pasukan Libya terus menggempur Sirte sejak sebulan lalu.

Ada kekhawatiran bahwa kekuatan ISIS akan meningkat di Libya, negara yang beberapa tahun terakhir menjadi tempat transit bagi pengungsi menuju Eropa. Lengsernya Muammar Gaddafi di puncak kepemimpinan pada 2011 berujung pada vakumnya kekuasaan dan instabilitas. Tak ada pihak yang benar-benar berkuasa dan bisa mengendalikan situasi.

Kelompok ISIS mengambil keuntungan dalam konflik ini untuk menguasai sejumlah wilayah pesisir termasuk Derna dan Sirte.

Sementara di Turki, ketegangan meningkat seiring serangan bom yang terjadi bulan-bulan terakhir dan upaya kudeta tahun ini.

Pemerintah Turki yang telah lama memerangi militan Kurdi di wilayah timur kini juga harus mencegah kelompok ISIS menyebar dari Suriah ke wilayah mereka dan menindak ribuan orang yang diduga melancarkan kudeta.

Serangan teror juga masih terjadi di jalan-jalan Afghanistan, terlebih setelah NATO mundur pada 2014 lalu, serta di Irak yang sebagian wilayahnya masih dikuasai ISIS. Belum ada laporan terbaru terkait berapa banyak anak-anak yang menjadi korban di wilayah Timur Tengah akibat konflik.

Topik terkait

Berita terkait