Kasus Pulomas: Alasan agar Anda berhenti menyebar foto sadis korban kekerasan

bbc Hak atas foto AFP
Image caption Foto-foto yang memperlihatkan kekerasan atau kekejaman aksi kriminalitas kerap menjadi viral di media sosial.

Foto-foto yang menampilkan kekejaman terkait kasus pembunuhan di Pulomas, Jakarta Timur, menyebar di media sosial. Bukan yang pertama tentu, tapi bisakah dihentikan? Dan, mengapa harus dihentikan?

Berita itu mulai menyebar Selasa (27/12) kemarin. Sebelas orang disekap dalam ruangan sempit berukuran 2x2 meter. Enam orang di antaranya meninggal diduga karena kehabisan oksigen.

Kasus pembunuhan ini mengejutkan masyarakat. Sebagian stasiun televisi menempatkannya sebagai 'breaking news', dan beberapa surat kabar menaikkannya di halaman utama. Di Twitter, kata kunci Pulomas naik dan kini sudah disebut lebih dari 90.000 kali.

Tapi tak sampai 24 jam sejak berita itu muncul, foto-foto mayat korban berseliweran di media sosial. Sejumlah orang dengan sadar membaginya di linimasa bermaksud memperlihatkan kekejaman pelaku.

Satu hari setelahnya, polisi dilaporkan menembak dan menangkap dua orang yang diduga terkait dengan pembunuhan itu. Sejumlah foto-foto kekerasan kembali beredar di linimasa, kali ini memperlihatkan terduga pelaku yang terkapar berlumur darah. Mengapa foto ini disebar? Apa yang mereka coba perlihatkan? Keadilan?

Hak atas foto SPREDFAST
Image caption Penggunaan kata kunci 'Pulomas' di Twitter, memperlihatkan atensi tinggi publik terhadap kasus itu.

Tampak nyata

Hal pertama dan paling penting diingat bahwa membagikan foto-foto sadis adalah hal yang sangat tidak etis dilakukan, kata Irma Martam, psikolog dan pembina Yayasan Pulih. Bayangkan jika orang difoto itu orang yang kita kenal dekat, apakah Anda ingin foto itu tersebar?

"Bagaimana jika anaknya melihat foto itu? Atau korban yang masih hidup melihat foto itu?" lanjut Irma. "Untuk menerima kejadian itu saja, keluarga atau kerabat dekat bisa stress dan trauma. Apalagi kalau kembali terpapar dengan foto-foto yang tersebar di media sosial.

Terpapar dengan foto-foto sadis juga memberi dampak bagi Anda yang tak punya hubungan langsung dengan korban. Manusia pada umumnya memiliki kemampuan belajar yang disebut 'vicarious learning' - yaitu kemampuan untuk memproses gambar dan cerita (dalam buku, foto atau video) seolah-olah sangat nyata kita dialami.

Kemampuan ini yang membuat kita bisa merasa takut ketika melihat foto-foto sadis, misalnya ketika foto pembantaian atau perkosaan yang secara tak terduga (dan tak bisa terkontrol) muncul di linimasa kita.

"Dampak negatif (melihat foto kekerasan) bisa hampir sama dengan dampak kita melihat langsung kejadian itu di depan mata kita. Kita seakan-seakan bisa membayangkan adegan yang terjadi. Bisa merasa ketakutan, bermimpi buruk, dan lainnya," jelas Irma, walau dia menekankan bahwa efeknya bisa sangat beragam tergantung masing-masing individu.

Orang yang punya pengalaman trauma yang mirip akan lebih rentan merasa cemas dan takut berlebihan.

'Membagi sumber kecemasan'

Lalu mengapa orang ingin membagikan foto-foto sadis itu?

Bagi Psikolog Universitas Indonesia, Vera Itibiliana motifnya bisa bermacam-macam, tetapi semua motif itu tidak dilatari dengan pemikiran yang panjang.

Sebagian mungkin ingin mendapat kebanggaan karena menjadi yang pertama mengabarkan, jelas Vera. Lainnya ingin menyampaikan pesan untuk hati-hati agar kejadian itu tidak menimpa yang lain.

"Ada juga yang ketika mereka melihat (foto) itu, mereka merasa takut, cemas, dan berpikir ini sangat sadis. Kemudian dia merasa perlu berbagi kecemasannya itu. Harusnya yang dibagi adalah rasa kecemasan itu tapi (tanpa sadar) dia justru membagikan sumber kecemasannya," kata Vera.

Motif-motif yang tidak didasari pemikiran panjang inilah yang membuat mereka tidak menyadari apa dampaknya. Unggahan Anda yang mungkin dimaksudkan untuk 'mengajak orang berhati-hati' malah justru berdampak buruk bagi yang melihat.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Unggahan Anda yang mungkin dimaksudkan untuk 'mengajak orang berhati-hati' malah justru berdampak buruk bagi yang melihat.

Terkikisnya empati

Dampak lain yang dianggap lebih mencemaskan adalah hilangnya empati. "Ketika kita terbiasa melihat itu, terbiasa dengan kekerasan, rasa empati dan kepekaan terhadap korban menjadi terkikis. Ini yang menurut saya lebih mengkhawatirkan, karena ketika kita merasa terbiasa, itu memperbesar kemungkinan kita untuk melakukan hal (kekerasan) yang sama," kata Vera.

Ini sama halnya dengan kasus perundungan (bullying) antara remaja, misalnya. Ketika video atau foto-foto perundungan menjadi viral, dan orang-orang terus menerus terpapar tentang itu di linimasa mereka, perundungan akan dianggap sebagai hal biasa.

Irma Martam sependapat. "Ketika seseorang sudah mati rasa terhadap gambaran-gambaran kekerasan, itu menurut saya berbahaya, karena respons emosinya sudah tidak tepat lagi."

Pada akhirnya, ketika Anda melihat foto atau tayangan kekerasan, para pakar menyarankan untuk segera menghapus dan tidak menyebarkannya. Dan jika Anda sudah terlanjur terpapar dan merasa cemas, salurkan rasa kecemasan itu dengan berbicara dengan orang-orang dekat.

Membagikan foto-foto sadis bukanlah jalan untuk menghilangkan ketakutan Anda atau cara untuk mengajak orang meningkatkan kewaspadaan.

Jadi sebelum Anda memencet tombol 'bagikan' di ponsel, ingatlah bahwa Anda juga hendak menyebar ketakutan, itulah rangkuman pendapat dua psikolog tadi.

Topik terkait

Berita terkait