'Semangat, kasih sayang' untuk suami di penjara Thailand selatan

romlah Hak atas foto Romlah
Image caption Romlah bersama suaminya, Anwar, yang dibebaskan awal Januari lalu setelah dipenjara selama hampir empat tahun.

Seorang perempuan Pattani menulis di media sosial setiap hari selama hampir empat tahun untuk memberi semangat dan menunjukkan kasih sayang kepada suami yang dipenjara karena dituduh terlibat kelompok pemberontak di kawasan Muslim Thailand selatan.

Romlah Saeyae mengunjungi suaminya dan juga menulis komentar di akun Facebooknya untuk memberi semangat kepada suaminya Muhammad Anwar bin Ismael Hajiteh, di penjara Pattani, sampai ia dibebaskan Sabtu lalu (07/01) lalu.

"Saya antara lain menulis tentang suami saya, sebagai pengobat hati... semangat hati... dan dengan cobaan ini, kami tambah rasa kasih sayang," kata Romlah.

"Selain memberi semangat suami, juga untuk teman-teman yang mengalami cobaan yang sama," tambahnya.

Kasus Anwar bermula saat ia ditahan pada 2005 bersama sejumlah tersangka lain karena dituduh menjadi anggota kelompok perlawanan Barisan Revolusi Nasional.

Pada saat ditahan, Anwar bekerja sebagai wartawan lepas. Ia dihukum penjara selama 12 tahun pada 2007 namun pengadilan banding membatalkan hukuman itu dengan menyatakan saksi yang tidak kuat karena hanya berdasarkan pada yang mereka dengar.

Hak atas foto Romlah
Image caption Di depan kedai kopi yang merupakan usaha keluarga, setelah dibebaskan.

Namun Mahkamah Agung mengukuhkan hukumannya delapan tahun kemudian dan ia dijebloskan penjara lagi pada 2013.

Anwar sendiri menyatakan unggahan istrinya memberikan semangat tersendiri kepadanya. Mereka menikah pada 2010.

"Tiap hari (unggahan di Facebook) diprint dan dibawa ke penjara... masa sebelum masuk penjara, dia tak pernah menyatakan kasih sayang, Tapi (saat saya di penjara) semua yang ada di hati dia diungkapkan... senyum di muka dan senyum di hati," kata Anwar kepada wartawan BBC Indonesia, Endang Nurdin, dalam bahasa Melayu.

Begitu dijebloskan dalam penjara, rekan wartawan dan sejumlah aktivis hak asasi manusia mengkampanyekan pembebasannya, melalui media sosial dengan tagar "Free Anwar" (bebaskan Anwar) dan mengumpulkan nama-nama pendukung untuk mendapatkan pengampunan dari raja.

"Pada 2004... pemuda Melayu yang belajar di pesantren dianggap jahat, dan termasuk mereka yang mengajar Quran untuk anak-anak," cerita Anwar mengingat penangkapannya.

Hak atas foto Romlah
Image caption Nomor antrean pengunjung di penjara, salah satu yang diunggah Romlah di Facebooknya.

Ibu Anwar, dalam wawancara dengan media lokal setelah anaknya dipenjara mempertanyakan penahanan putranya.

Kisah cinta menembus dinding penjara

"Jangan sebut Anwar pemberontak. Sebagian mengatakan saya ibu seorang pemberontak dan itu tidak benar. Anwar bukan pembeorntak. Ia dituduh saat ia mengajar. Ia dituduh melakukan kumpulan gelap. Mengapa bisa begitu karena yang dia ajar Quran adalah anak-anak berusia lima tahun," kata ibu Anwar, Mareeyoh Hajiteh, seperti dikutip media lokal saat itu, Pattaya Mail.

Tiga provinsi di Thailand selatan, Yala, Narathiwat and Pattani, merupakan mayoritas Muslim dan dalam lebih sepuluh tahun terakhir dilanda konflik oleh kelompok yang menuntut memisahkan diri.

Pembebasan Anwar yang lebih awal dari masa tahanan merupakan bagian dari pengampunan yang diberikan oleh Raja Vajiralongkorn, yang dilantik Desember lalu, menggantikan ayahnya yang meninggal, Bhumibol.

Hak atas foto Romlah
Image caption Menjemput suami yang dibebaskan di penjara Pattani.

Desember lalu, pemerintah Thailand mengumumkan 100.000 narapidana di seluruh negara itu masuk dalam daftar yang mendapatkan pengampunan raja, dan 30.000 di antaranya akan dibebaskan.

Selama suaminya dipenjara Romla membantu usaha keluarga Anwar, yaitu kedai kopi yang mereka namakan Bunga dan juga bekerja di universitas.

Unggahan Romlah dan kunjungan rutinnya ke penjara ditulis salah seorang pengguna media sosial, Hara Shintaro, sebagai 'Kisah cinta menembus dinding penjara'.

Rencana selanjutnya setelah bebas adalah fokus untuk membantu usaha keluarga untuk menunjukkan 'tanggung jawab sebagai anak' dan 'tanggung jawab sebagai suami'.

Anwar juga mengatakan akan tetap menulis untuk 'mengangkat keadilan' melalui media dan media sosial.

Topik terkait

Berita terkait